Indonesia's Official Tourism Website

Topic: The Surabaya Art Society Text by Leighton Cosseboom  (Read 1069 times)
Rate Topic:

Offline Eko Jusmar

  • Administrator
  • Traveller
  • *****
  • Posts: 56
  • Mileage 3
  • For travelers all around the world: Don't claim yo
    • View Profile
    • Indonesian Travel Blogger
The Surabaya Art Society Text by Leighton Cosseboom
« on: February 12, 2013, 12:31:19 PM »
Kota Pahlawan semakin ternama sebagai kota seni menyusul bermunculannya berbagai galeri seni yang mumpuni. Kota ini boleh berterima kasih ke generasi mudanya yang semakin rajin berkarya. Leighton Cosseboom melaporkan dari Surabaya.



Tergantung di dinding dan tidak menarik banyak perhatian dibandingkan semua karya di dalam galeri, gambar berjudul, “Custodian of Mother Monument “ memperlihatkan seorang perempuan cantik dalam tidur lelap yang damai. Namun ada nada kenakalan dari miniatur seorang pria mengenakan jaket tentara dan masker gas yang muncul dari lubang di bawahnya. Tak ayal, gambar berubah menjadi suatu skenario yang kacau dan provokatif ketika, saat dilihat secara bertahap, beberapa pekerja kecil lainnya menyelimuti perempuan itu sembari melakukan berbagai kerja manual dan tugas-tugas birokrasi.

Lukisan itu hanya sekilas contoh dari eksplorasi seni yang sedang merambah Surabaya, ibukota Jawa Timur. Kota ini lebih terkenal untuk pertunjukan teater dan ta-rian tradisional. Namun, berkat perjuangan anak-anak muda setempat dalam beberapa tahun terakhir, kota ini mulai menonjol dalam hal seni rupa. Ibukota Jawa Timur ini, sekarang dapat membanggakan beberapa tempat dan galeri yang menarik pecinta seni baik asing maupun lokal. Dari karya-karya kontemporer dan modern sampai seni surealis dan pop, warga Jawa Timur menyaksikan ladang seni di Kota Pahlawan semakin menuai popularitas dan perhatian.

Alhasil, kerjasama para komunitas seni setempat tumbuh dengan pesat, bahkan sudah tertangkap mata para kolektor internasional yang kaya raya. “Kami sering dihubungi oleh pembeli yang mencari karya-karya asli seniman Indonesia yang terkenal, namun karya-karya seperti itu sering tidak diperjualbelikan, jadi kami biarkan para penggemar seni ini tetap datang kemari dan memilih koleksi kami,” jelas Deby Prima Dewi, Direktur Operasional Galeri Orasis, sebuah galeri seni besar yang terletak di Jl. HR Muhammad, di sisi barat kota yang memancarkan kehidupan dan berjiwa muda.



Setelah terdiam sejenak, Deby menunjuk ke satu lukisan kontemporer oleh duo artistik terkenal dari Yogyakarta, Indieguerillas. Karya surealis ini memperlihatkan seorang perempuan yang secara provokatif memamerkan tato harimau besar. Perempuan itu nampak tidak takut menghadapi setan yang terlihat seperti badut, yang wajahnya sebenarnya merupakan topeng untuk seorang pria gemuk kecil yang hidup di dalam kepalanya, mungkin pengendali mahluk ini.

“Custodian of Mother Monument “, karya seniman pensil dan selebriti Surabaya, Mufi Mubaroch, juga dapat ditemukan di Galeri Orasis. Hampir 80 persen dari karya Mufi ini dibuat dengan pensil. Suatu karya yang benar-benar dapat diapresiasi penggemar seni, mengingat banyaknya waktu dan disiplin yang dibutuhkan untuk menciptakan sesuatu yang begitu rinci dan hidup dengan alat sesederhana itu.

Ketika kita masuk, galeri ini tidak terlihat mewah. Ruangan hanya diterangi oleh cahaya alami dari jendela-jendela depan, beberapa keluarga terlihat menatap lukisan-lukisan yang dipajang. “Lukisan-lukisan di sisi kiri semua modern, dan yang di sebelah kanan semua kontemporer,” jelas Deby. “Seni modern lebih terfokus pada adegan kehidupan nyata dan hal-hal yang benar-benar terjadi, sementara seni kontemporer berasal dari apa yang ada dalam kepala sang artis.” Namun, isi dari lantai kedualah yang kemungkinan besar paling menarik perhatian para kolektor yang kaya. Di sini terdapat beberapa karya penting oleh para pelukis dan seniman Asia yang tersohor, termasuk seniman Cina Chen Cang Hui, seniman Bandung Sunaryo, dan Made Wianta dari Bali.



Sebuah karya, “Yesus”, sangat penting untuk dunia seni lokal, karena diciptakan oleh seniman ternama, Asri Nugroho. Pelukis kelahiran Surabaya tahun 1952 ini membantu menumbuhkan lanskap artistik yang dapat dilihat di Indonesia saat ini. “Yesus” adalah sebuah lukisan besar yang memperlihatkan penyaliban Kristus, namun citra mesias yang diciptakan Nugroho ini memiliki selang-selang dan kabel-kabel yang mencuat dari tubuhnya, sementara gelembung-gelembung air melayang di atas kepalanya. Beberapa kritikus menafsirkan lukisan ini sebagai cerminan bagaimana cita-cita agama tradisional telah tercemar dan terkontaminasi seiring berjalannya waktu.

Galeri Orasis biasanya menyelenggarakan dua jenis pameran. Yang pertama adalah pameran tunggal, yang dapat menampilkan 40 sampai 50 buah karya dari satu seniman. Yang kedua pameran kolaboratif dari sekitar 40 atau 50 seniman, masing-masing menampilkan satu karya mereka yang paling berharga. “Pameran terakhir kami diselenggarakan pada tanggal 15 Desember, sekaligus sebuah kompetisi,” kata Deby.

“Pada dasarnya, kompetisi ini dimaksudkan sebagai pencarian generasi baru seniman di sini.” Hadiah yang disediakan sebesar Rp 4 juta dan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mendidik profesional kreatif baru.



Untuk melihat sekilas tren artistik yang sedang populer, penggemar seni harus mengunjungi Galeri Surabaya, di Jl. Gubernur Suryo, persis di samping Balai Pemuda. Ini adalah tempat yang populer di kalangan artis baru dan mahasiswa yang sedang mencoba untuk memperlihatkan karya mereka pada masyarakat. Saat ini sedang berlangsung pameran kolektif oleh empat pelukis lokal yang menjanjikan, masing-masing dengan gaya mereka sendiri yang unik. Nyoman berfokus pada gaya abstrak yang khusus, sedangkan keistimewaan Irawan adalah pop art. Artis yang dikenal dengan nama Jiyu adalah seorang pelukis realis, sementara karya-karya Agung dapat dengan tepat dicirikan sebagai realisme dekoratif.

Karya-karya Irawan sering menampilkan motif nakal bertekstur kucing-kucing bermata besar yang digoda oleh burung dan ikan. Ironisnya, karya Agung juga memunculkan kucing dan ikan, tetapi dalam idiom yang sangat berbeda. Dilukis dengan detil yang tajam, kucing pilihan Agung adalah harimau dan ikannya adalah koi (spesies yang dicintai oleh masyarakat Cina lokal) dan makhluk-makhluk ini ditampilkan dalam lingkungan alami mereka. Kekuatan Nyoman tampaknya berupa eksperimen dengan warna dan geometri, kombinasi yang tampaknya lebih ditujukan pada perasaan estetika daripada memproyeksikan pesan tertentu. Tetapi mungkin karya yang paling inspiratif dalam pameran ini adalah karya Jiyu, yang lukisan-lukisannya yang sangat rinci menggambarkan orang-orang Indonesia yang bekerja dan berinteraksi dalam cara yang bermakna.

Lukisan Jiyu “Kakek”, menggambarkan seorang lelaki Jawa tua dengan jenggot putih panjang, dan jelas dibuat dari orang yang sungguh ada. “Generasi”, di sisi lain, menunjukkan seorang laki-laki tua menarik sebuah gerobak penuh dengan kaleng bensin, dengan seorang anak laki-laki bekerja di sampingnya. “Itu Allah” menggambarkan anak-anak kecil yang berkumpul di pagar masjid, melihat ke langit malam di mana ada kaligrafi Arab bersinar di bawah bulan purnama. Karya ini mengirimkan pesan religius yang kuat untuk anak-anak yang melihatnya. Galeri Surabaya juga menampilkan karya-karya oleh pahlawan seni kota ini, Asri Nugroho, serta beberapa nama terkenal lainnya. Dengan keberuntungan dan kegigihan, mungkin saja anak-anak muda ini juga pada akhirnya akan mencapai puncak tiang totem artistik Jawa Timur.

Kembali ke Galeri Orasis, Deby menatap sebuah lukisan karya Indieguerillas sambil berfikir. “Sekarang yang satu ini mungkin akan terjual seharga sekitar dua ratus juta rupiah,” katanya santai.
Source
  • @kitajimaland
For travelers all around the world: Don't claim you are a true traveler, if you never travel in INDONESIA

Offline Efendi

  • Day Tripper
  • *
  • Posts: 18
  • Mileage 0
    • View Profile
Re: The Surabaya Art Society Text by Leighton Cosseboom
« Reply #1 on: December 19, 2013, 11:51:34 AM »
Mantap banget, kita memerlukan informasi dan inspirasi seperti ini
untuk mendorong dan membangkitkan keinginan anak bangsa dalam berkarya dan berkreasi

Tambang dan hasil bumi kita sudah menjadi milik negara lain dan bertahan dalam hitungan puluhan tahun, apalagi kalo bukan karya dan kreasi.

dan apa yang akan kita wariskan ke anak cucu?