Indonesia's Official Tourism Website

Topic: Menuju Puncak Rinjani, Rehatkan Jiwa Sejenak di Desa Bayan  (Read 282 times)
Rate Topic:

Offline satunusa28

  • Day Tripper
  • *
  • Posts: 8
  • Mileage 0
    • View Profile
Menuju Puncak Rinjani, Rehatkan Jiwa Sejenak di Desa Bayan
« on: April 16, 2014, 04:28:39 PM »
SAAT Anda bepergian ke suatu daerah baru, menarik untuk mengenal budaya dan sekelumit kehidupan masyarakat. Jika Anda berkesempatan ke Gunung Rinjani, singgahi dahulu Desa Bayan.


(c) Foto: Indonesia travel

Jalan-jalan di perkampungan penduduk lokal yang menghuni sekitar kawasan wisata tentu akan menjadi pengalaman mengesankan. Apalagi, sejak dulu Indonesia terkenal memilki keragaman budaya dan adat istiadat yang dapat menjadi suguhan wisata serta memperkaya pengalaman Anda.

Salah satunya adalah Desa Bayan. Desa Bayan adalah salah satu dari sekian banyak desa wisata di belahan Indonesia yang menarik dikunjungi. Desa Bayan terletak di kaki Gunung Rinjani (di kawasan sekitar Taman Nasional Gunung Rinjani) yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Desa adat ini dihuni oleh penduduk asli Lombok, yaitu suku Sasak yang memiliki kearifannya sendiri dalam menjaga kelestarian adat dan alam yang mereka huni. Suku Sasak masih memegang teguh adat dan mematuhi aturan adat yang diwariskan oleh leluhur.

Selain keindahan panorama alamnya, Desa Bayan juga terkenal dengan bangunan tradisional masyarakat Sasak dan tata kehidupan mereka. Atap rumbia, dinding bambu, dan lantai berupa tanah liat yang dipadatkan adalah beberapa ciri khas arsitektur rumah masyarakat Suku Sasak, khususnya di Desa Bayan.

Terdapat pembagian yang jelas pula mengenai wilayah-wilayah bangunan antara bangunan khusus dan bangunan umum. Bagi para pemangku adat, mereka mendiami wilayah Kampu. Wilayah ini adalah wilayah khusus dimana tidak sembarang orang dapat memasukinya; pagar bambu sebagai pembatas wilayah menjadi penegas aturan tak tertulis tersebut. Di wilayah ini terdapat beberapa rumah adat yang pembagian dan namanya pun disesuaikan dengan fungsi atau sifat dari sang pemangku adat, seperti dilansir dari laman Indonesiatravel.

Rumah-rumah adat (bale)—yang rangka konstruksinya sebagian besar dari campuran kayu dan bambu—juga memiliki pembagian khusus mengenai desain interiornya. Terdapat inan bale (induk rumah) yaitu wilayah khusus atau pribadi untuk menyimpan barang-barang pribadi, seperti harta dan barang berharga, beras, sesaji, dan lainnya. Ada pula wilayah khusus tamu perempuan (amben bleh), dan lain sebagainya.

Selain bangunan tersebut di atas, daya tarik Desa Bayan yang lainnya adalah adanya Masjid Bayan yang merupakan masjid tertua di Lombok. Masjid ini juga adalah penanda masuknya Islam ke Lombok oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Giri. Meski telah beberapa kali direnovasi, masjid yang tingginya hanya 1,5 meter dan luas 10×10 meter ini masih mempertahankan bentuk aslinya. Lantainya masih berupa tanah liat yang dipadatkan, atapnya rumbia dengan rangka bambu, dindingnya pun adalah dinding bambu, serta tidak terdapat listrik.

Penerangan di dalam masjid masih berupa obor. Di sekitar masjid juga terdapat beberapa makam tua yang dipercaya sebagai makam tokoh yang pernah berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut. Masjid ini juga menjadi tempat dilaksanakannya beberapa ritual keagamaan dan upacara-upacara tertentu.

Tak jauh dari Masjid Bayan, terdapat kompleks rumah adat yang dikenal dengan nama Bale Adat Gubug Karang Bajo. Terdapat sekira 25 rumah adat yang dihuni oleh beberapa tokoh: lokak pande (staf ahli), lokak penguban (yang mengayomi dan melindungi umat, juga sebagai pembawa payung agung dalam upacara Mauludan), amak lokak (tetua adat), melokak pemangkuan singgan dalem (intelejen), dan pemangku melokak walin gumi (penasehat spiritual).

Untuk memasuki rumah adat, ada beberapa peraturan yang harus diikuti. Diantaranya adalah mengenakan kain tenunan asli Bayan yang dilapis dengan kain bermotif kotak-kotak. Pakaian selain kain tersebut tidak boleh dikenakan. Untuk bagian kepala, dikenakan sapuk atau jong, sejenis penutup kepala.

Setelah puas berkeliling desa dan melihat langsung keunikan dan kearifan budaya lokal masyarakat Suku Sasak, kawasan wisata lain yang dapat jadi pilihan (selain mendaki Gunung Rinjani tentu saja) adalah mata air Mandala di kawasan hutan adat Desa Bayan, Bangket Bayan, serta Air Terjun Sindang Gile dan Tiu Kelelep.

Air terjun tersebut tepatnya berada di kawasan Desa Senaru (2 kilometer dari Desa Bayan). Untuk menuju air terjun Sindang Gile, sekira dua ratusan anak tangga akan mengantar Anda ke lokasi air terjun dengan ketinggian 40 meter. Anda dapat mandi di sini, dan konon air terjun ini berkhasiat mengobati penyakit, contohnya reumatik. Sekira 1 kilometer dari sini, ada pula Air Terjun Tiu Kelep (tinggi sekira 30 meter) yang memiliki kolam renangnya yang indah.

Menurut kepercayaan masyarakat lokal, mandi di air terjun ini konon dipercaya dapat membuat awet muda dan membuat enteng jodoh bagi yang belum menikah. Selain kedua air terjun ini, tak jauh dari lokasi, tepatnya di bagian atas air terjun Sindang Gile, terdapat kawasan wisata yang menawarkan pemandangan dramatis yaitu Bangket Bayan; kata bangket sendiri adalah berarti sawah.

sumber

Offline Efendi

  • Day Tripper
  • *
  • Posts: 18
  • Mileage 0
    • View Profile
Re: Menuju Puncak Rinjani, Rehatkan Jiwa Sejenak di Desa Bayan
« Reply #1 on: August 19, 2014, 02:08:31 AM »
SAAT Anda bepergian ke suatu daerah baru, menarik untuk mengenal budaya dan sekelumit kehidupan masyarakat. Jika Anda berkesempatan ke Gunung Rinjani, singgahi dahulu Desa Bayan.


(c) Foto: Indonesia travel

Jalan-jalan di perkampungan penduduk lokal yang menghuni sekitar kawasan wisata tentu akan menjadi pengalaman mengesankan. Apalagi, sejak dulu Indonesia terkenal memilki keragaman budaya dan adat istiadat yang dapat menjadi suguhan wisata serta memperkaya pengalaman Anda.

Salah satunya adalah Desa Bayan. Desa Bayan adalah salah satu dari sekian banyak desa wisata di belahan Indonesia yang menarik dikunjungi. Desa Bayan terletak di kaki Gunung Rinjani (di kawasan sekitar Taman Nasional Gunung Rinjani) yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Desa adat ini dihuni oleh penduduk asli Lombok, yaitu suku Sasak yang memiliki kearifannya sendiri dalam menjaga kelestarian adat dan alam yang mereka huni. Suku Sasak masih memegang teguh adat dan mematuhi aturan adat yang diwariskan oleh leluhur.

Selain keindahan panorama alamnya, Desa Bayan juga terkenal dengan bangunan tradisional masyarakat Sasak dan tata kehidupan mereka. Atap rumbia, dinding bambu, dan lantai berupa tanah liat yang dipadatkan adalah beberapa ciri khas arsitektur rumah masyarakat Suku Sasak, khususnya di Desa Bayan.

Terdapat pembagian yang jelas pula mengenai wilayah-wilayah bangunan antara bangunan khusus dan bangunan umum. Bagi para pemangku adat, mereka mendiami wilayah Kampu. Wilayah ini adalah wilayah khusus dimana tidak sembarang orang dapat memasukinya; pagar bambu sebagai pembatas wilayah menjadi penegas aturan tak tertulis tersebut. Di wilayah ini terdapat beberapa rumah adat yang pembagian dan namanya pun disesuaikan dengan fungsi atau sifat dari sang pemangku adat, seperti dilansir dari laman Indonesiatravel.

Rumah-rumah adat (bale)—yang rangka konstruksinya sebagian besar dari campuran kayu dan bambu—juga memiliki pembagian khusus mengenai desain interiornya. Terdapat inan bale (induk rumah) yaitu wilayah khusus atau pribadi untuk menyimpan barang-barang pribadi, seperti harta dan barang berharga, beras, sesaji, dan lainnya. Ada pula wilayah khusus tamu perempuan (amben bleh), dan lain sebagainya.

Selain bangunan tersebut di atas, daya tarik Desa Bayan yang lainnya adalah adanya Masjid Bayan yang merupakan masjid tertua di Lombok. Masjid ini juga adalah penanda masuknya Islam ke Lombok oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Giri. Meski telah beberapa kali direnovasi, masjid yang tingginya hanya 1,5 meter dan luas 10×10 meter ini masih mempertahankan bentuk aslinya. Lantainya masih berupa tanah liat yang dipadatkan, atapnya rumbia dengan rangka bambu, dindingnya pun adalah dinding bambu, serta tidak terdapat listrik.

Penerangan di dalam masjid masih berupa obor. Di sekitar masjid juga terdapat beberapa makam tua yang dipercaya sebagai makam tokoh yang pernah berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut. Masjid ini juga menjadi tempat dilaksanakannya beberapa ritual keagamaan dan upacara-upacara tertentu.

Tak jauh dari Masjid Bayan, terdapat kompleks rumah adat yang dikenal dengan nama Bale Adat Gubug Karang Bajo. Terdapat sekira 25 rumah adat yang dihuni oleh beberapa tokoh: lokak pande (staf ahli), lokak penguban (yang mengayomi dan melindungi umat, juga sebagai pembawa payung agung dalam upacara Mauludan), amak lokak (tetua adat), melokak pemangkuan singgan dalem (intelejen), dan pemangku melokak walin gumi (penasehat spiritual).

Untuk memasuki rumah adat, ada beberapa peraturan yang harus diikuti. Diantaranya adalah mengenakan kain tenunan asli Bayan yang dilapis dengan kain bermotif kotak-kotak. Pakaian selain kain tersebut tidak boleh dikenakan. Untuk bagian kepala, dikenakan sapuk atau jong, sejenis penutup kepala.

Setelah puas berkeliling desa dan melihat langsung keunikan dan kearifan budaya lokal masyarakat Suku Sasak, kawasan wisata lain yang dapat jadi pilihan (selain mendaki Gunung Rinjani tentu saja) adalah mata air Mandala di kawasan hutan adat Desa Bayan, Bangket Bayan, serta Air Terjun Sindang Gile dan Tiu Kelelep.

Air terjun tersebut tepatnya berada di kawasan Desa Senaru (2 kilometer dari Desa Bayan). Untuk menuju air terjun Sindang Gile, sekira dua ratusan anak tangga akan mengantar Anda ke lokasi air terjun dengan ketinggian 40 meter. Anda dapat mandi di sini, dan konon air terjun ini berkhasiat mengobati penyakit, contohnya reumatik. Sekira 1 kilometer dari sini, ada pula Air Terjun Tiu Kelep (tinggi sekira 30 meter) yang memiliki kolam renangnya yang indah.

Menurut kepercayaan masyarakat lokal, mandi di air terjun ini konon dipercaya dapat membuat awet muda dan membuat enteng jodoh bagi yang belum menikah. Selain kedua air terjun ini, tak jauh dari lokasi, tepatnya di bagian atas air terjun Sindang Gile, terdapat kawasan wisata yang menawarkan pemandangan dramatis yaitu Bangket Bayan; kata bangket sendiri adalah berarti sawah.

sumber

Waduh, gak salah masuk kamar niiiii, inikan masukknya ke kamar NTB hehehe