Beranda Kembali ke Indonesia.travel

Indonesia.travel Highlight: Tour de Singkarak 2014

NEWS DETAIL

Go Back

Etape Ketujuh TdS 2014 Sambangi Dharmasraya

posted_on 1 Jan 1970 00:00 | id_view 509

Etape Ketujuh TdS 2014 Sambangi Dharmasraya

Etape ketujuh ketujuh Tour de Singkarak 2014 diikuti 91 pebalap dari 18 tim berbeda dengan rute terpanjang sejauh 167,5 kilometer dari Silokek, Sijunjung menuju Gedung Kantor Bupati Dharmasraya. Etape ini tidak banyak tanjakan namun lebih dominan berupa lintasan panjang dengan kombiasi yang bergelombang

 

 

 

Menunjukan kelas persaingan yang seru dibuktikan TdS 2014 kembali menghadirkan juara etape baru yang berbeda dari sebelumnya. Brenton Jones, pebalap Australia dari tim Avanti Racing Team (ART) menjadi yang tercepat dengan mencatat waktu 4:00:02. Urutan dua diraih pebalap Iran, Mehdi Sohrabi dari Tabriz Petrochemichal Team (TPT), Mark Julius Bordeos dari Team 7 Eleven Roadbike (T7E) asal Philipina di urutan ketiga.

 

Dalam klasifikasi umum belum banyak perubahan dimana pebalap Iran, Amir Zargari (PKY) dengan  konsisten mempertahankan waktu tercepat, yaitu 21:23:18. Ini merupakan kali kelima Zargari teratas dalam klasifikasi umum. Rekan satu tim Zargari, yaitu Rahim Emami di posisi kedua dengan waktu  21:24:45. Posisi ketiga diduduki pebalap Iran lainnya yaitu Hossein Alizadeh (TSR) dengan catatan waktu 21:25:32.

 

Untuk raja tanjakan dimenangkan oleh Ramin Mehrbaniazar dari Pishgaman Yazd (PKY) setelah berhasil mengumpulkan 26 poin. Ini sekaligus mengantarkan Mehrbaniazar meraih jersey polka dot untuk kelima kali secara berturut-turut.

 

Klasifikasi pebalap ASEAN, Dadi Suryadi dari Pegasus Continental Cycling Team (PCT) mempertahankan posisi teratas dengan catatan waktu 21:29:56. Posisi kedua ditempati  Bambang Suryadi dari Indonesia National Team (INA) dengan catatan waktu 21:33:42. Berikutnya posisi ketiga ditempati Boots Ryan Cayubit, pebalap Philipina dari Team 7 Eleven Roadbike (T7E) dengan catatan waktu 21:34:42.

 

 

 

Kabupaten Dharmasraya sendiri merupakan kabupaten baru berdiri dan salah satu yang termuda di Sumatera Barat. Namun demikian, Dharmasraya adalah rumah tertua bagi banyak peninggalan sejarah mula Kerajaan Melayu. Di kabupaten ini masih tersisa peninggalan arkeologi berupa candi, artefak, masjid, makam raja-raja Kerajaan Melayu, dan juga rumah gadang. Benda bersejarah dari beragam abad itu memang belum banyak dikonservasi namun jelas menjadi saksi bisu sejarah kerajaan Hindu-Budha dan Islam di Sumatera Barat.

 

Perpaduan budaya Hindu-Budha dan Islam di Dharmasraya sangat berpotensi menjadi wisata sejarah yang menarik sekaligus berharga.Di kawasan Dharmasraya inilah dahulu pernah berdiri Kerajaan Melayu dengan ibu kotanya bernama Pulau Punjung. Dharmasraya diambil namanya dari manuskrip pada prasasti Padang Roco yang menyebutkan bahwa Dharmasraya adalah ibukota dari Kerajaan Melayu setelah kejatuhan Kerajaan Sriwijaya. Luas kekuasaan tersebut membentang dari Semenanjung Malaya hingga Sumatera seperti disebutkan dalam Prasasti Grahi di Chaiya di selatan Thailand serta naskah China berjudul Zhufan Zhi berangka tahun 1225.Disebutkan pula Kerajaan Melayu di Dharmasraya sempat menjalin hubungan kerja sama dengan Kerajaan Singhasari. Sementara itu, catatan sejarah yang lain dari Kitab Nagarakretagama menyebutkan bahwa Dharmasraya adalah bagian dari wilayah taklukkan (vassal) Kerajaan Majapahit.