Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
0.00/5 (0 votes)
 

Dilihat:20948

Beranda » Kokas: Keindahan Alam dan Gerbang Waktu Tanah Papua Barat » Menyelami Denyut Perniagaan di Kota Fakfak

Menyelami Denyut Perniagaan di Kota Fakfak

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Ancient Sites of Kokas

  2. Ancient Sites of Kokas

  3. Ancient Sites of Kokas

  4. Ancient Sites of Kokas

  5. Memanggil Ikan Dugong

  6. Ikan Dugong di Pantai Kiyat

  7. Kerangka Sirip Ikan Dugong

  8. Pantai Kiyat

 

Tinjauan

Bagi Anda yang belum mengenal Papua mungkin akan heran saat datang ke Fakfak karena tidak menemukan suku asli Papua dengan koteka, mahkota burung cendrawasih, dan cat wajah yang sering dijumpai di foto-foto terkait Pulau Papua. Di Fakfak, masyarakatnya begitu majemuk dan sudah sangat tipis perbedaan antara masyarakat asli dengan pendatang.

 

Bahkan, masyarakat asli Papua-nya pun sudah berpakaian seperti layaknya masyarakat lain di wilayah Indonesia tengah dan barat. Baju yang mereka kenakan warnanya merah, kuning, biru, hijau, hitam, putih, coklat, dan warna apapun yang ada di pasar. Betul. Pasar adalah tempat yang paling inti saat melihat mengapa semua orang menampilkan diri dengan pakaiannya. Pasar memang tempat yang paling hingar bingar dalam menyediakan kebutuhan masyarakat, termasuk pakaian dan asesorisnya. Di Fakfak, pasar terbesar bernama Plaza Thumburuni.

 

Pasar ini buka dari pagi hingga lepas petang. Sebelum waktu Maghrib, mereka sudah bersiap untuk tutup. Berbeda dengan toko-toko di kota dimana sebagian besar baru buka pukul 4 atau 5 petang dan tutup pukul 9 malam. Toko-toko di kota buka pagi hari hingga tengah hari. Setelah itu semua tutup kecuali transportasi publik.

 

Mungkin sedikit mengherankan bagi warga Ibu kota Jakarta atau kota-kota besar lainnya bila mengetahui bahwa di beberapa kota di Indonesia, toko-toko di kota-kota tertentu buka pagi hari tapi tutup di siang hari hingga buka lagi sore pukul 4 atau 5 sore hingga malam. Di Sabang, Pulau Weh, Aceh pun demikian. Di Kota Fakfak pun hal itu berlaku dan ini membuat kebiasaan di sini menjadi unik.

 

Plaza Thumburuni menjual berbagai bahan makanan dan masakan yang digunakan di semua tempat di Indonesia karena kemajemukannya. Selain itu, pakaian dan berbagai bahan kebutuhan papan pun dijajakan  dalam berbagai cara. Di lantai pertama biasanya bahan makanan dan komoditi dari kebun dan ladang. Sedangkan di lantai 2 dan 3 lebih banyak menjajakan bahan sandang dan kebutuhan rumah tangga.

 

Lantai pertama dan ruang parkirannya sangat menarik. Warna-warni bahan makanan dari ladang dan laut membawa keindahan dan pengalaman paling memuaskan saat berkeliling di antara pedagang dan pembeli yang saling tawar menawar. Pisang, bawang, ubi, ikan, sayuran, kue pasar, tomat merah, tomat kuning, jambu air merah dan juga putih, ada di sini. Tak terlewatkan ialah pinang dan sirih yang selalu menjadi bahan paling otentik saat di Papua karena itu tetap menjadi bahan kunyahan yang disukai saat bersosialisasi, dengan cara lama.

 

Lantai 2 dan 3 lebih menyerupai saat Anda ke pasar di dekat rumah, atau versi tahun ’90-an sebuah plaza. Baju tim bola populer dengan nomor punggung dan nama pemain bolanya, piyama, topi dengan berbagai warna, lampu baca, lampu darurat, speaker, joystik, dan lain-lain. Bahkan dengan terbatasnya jaringan 3G untuk internet, Plaza Thamburuni tetap dijadikan tempat untuk berjualan handphone dengan teknologi terbaru dengan nampaknya tab 7 inci dan blackberry di berbagai etalase toko.

 

Karena itulah, masyarakat di Fakfak sangat jauh dari bayangan wisatawan yang berharap akan berjumpa dengan suku asli seperti di Asmat atau di Lembah Baliem. Masyarakat Fakfak adalah masyarakat yang sangat dekat dengan laut dan sangat mudah berinteraksi dengan kaum nelayan dari belahan negeri sehingga kemajemukan tak tertahankan.

 

Perdagangan di Kota Fakfak sendiri sedikit berbeda dengan Plaza Thumburuni. Jarak antara keduanya hanya beberapa kilometer saja, tapi suasana lain dapat dirasakan saat menyusuri Kota Fakfak, terutama di Jl. Izak Telussa. Jalan ini merupakan salah satu jalan tertua di Kota Fakfak. Dahulu, Kota Fakfak ini ada di dalam wilayah kerajaan Fatagar dengan seorang raja yang saat ini masih terus dijalankan perannya. Di kota Fakfak, Jl. Izak Telussa ini adalah bagian dari sejarah perkembangan kotanya dan dari dulu hingga kini menjadi jalur perdagangan. Tak heran pecinan didirikan dan hingga kini masyarakat etnis Tionghoa hidup di jalan ini. Di  jalan ini pula sebuah mesjid jami berdiri. Sungguh sebuah perpaduan yang harmonis.

 

Di Jalan Izak Telussa, toko-toko lebih meriah di sore hari. Sebelum pukul 4 sore, sudah tampak beberapa kelompok orang bermotor parkir di depan toko-toko dan menunggu toko yang mereka tuju buka. Saat mendekati pukul 4 atau 5 petang, masyarakat semakin ramai di jalur jalan ini karena di sinilah barang-barang yang tidak disediakan di Plaza Thumburuni ada. Mulai dari kue ulang tahun hingga bahan bangunan juga obat-obatan serta keperluan sekunder hingga tersier disediakan oleh masyarakat Tionghoa yang berniaga. Saat mereka menanti bukanya toko, penjual makanan tradisional pun ikut memanfaatkan keramaian itu.

 

Karena jalan ini berada di mulut gerbang dermaga Kota Fakfak yang biasa menjadi sandaran kapal besar PELNI seperti Ciremai dan Ngapulu maka penjual makanan tradisional di jalan ini terus hidup untuk memenuhi kebutuhan makanan para pejalan yang baru tiba atau akan pergi ke kota lain. Beragam makanan tradisional yang disediakan ialah soami, buras, lemper, nasi bambu atau lemang, ikan bakar, sate ikan, sayur daun ubi dan singkong, ketupat, dan manisan pala.

 

Ibu Wa Ine asal Buton sudah 20 tahun berjualan di Jalan Izak Telussa. Ia selalu menanti para pembeli yang akan memenuhi dermaga Fakfak yang setidaknya 3 hari dalam seminggu akan memenuhi jalan ini. Begitu pula dengan Bapak Abdul Gani yang asli Papua sudah sejak lama berjualan pinang dan sirih di ujung jalan ini. Pelanggannya sudah banyak dan selalu menemuinya di tempat yang sama.

 

Jalan ini dilalui semua jenis angkot yang menyusuri kota Fakfak. Angkot di sini disebut taxi. Rupanya sangat mirip dengan angkot tetapi kursinya menghadap ke depan di setiap barisnya, bukan menepi di dua sisinya seperti angkot di Pulau Jawa. Uniknya, taxi di sini menjadi simbol aktualisasi diri pemiliknya, dimana bentuk dasar bukan pilihan. Biasanya taxi dimodifikasi dan didandani dengan berbagai asesoris kendaraan sehingga sebuah taxi menjadi semakin mencolok dan bergemuruh dengan musik kerasnya. Sejak kapan kita bisa melihat televisi layar LCD di dalam sebuah angkot bila tidak mengunjungi Fakfak?

 

Satu tempat lagi yang sering dikunjungi untuk kumpulan tempat makanannya yang cukup dikenal. Tempat ini disebut daerah Wagom. Di sini, beberapa restoran dan warung makan yang cukup menyenangkan dan memberikan aroma rasa multikultur dapat ditemukan. Jadi, bila Anda datang ke Fakfak, singgahlah di tempat-tempat ini untuk mengetahui seperti apa perkembangan niaga dan juga kegiatan ekonomi masyarakatnya yang menarik.

Acara Terkait

23

Aug 2014

Lihat Acara Lainnya

Lihat dalam Peta

Menyelami Denyut Perniagaan di Kota Fakfak

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Bangunan Bersejarah

Bangunan Bersejarah Banyak keajaiban bangunan tua dunia dapat ditemukan di Indonesia. Mulai dari candi sampai puing-puing istana zaman dahulu kala, mulai dari sisa-sisa...

selengkapnya