Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
0.00/5 (0 votes)
 

Dilihat:22012

Beranda » Kokas » Kiyat: Rumah Duyung Jinak di Fakfak

Kiyat: Rumah Duyung Jinak di Fakfak

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Ancient Sites of Kokas

  2. Ancient Sites of Kokas

  3. Ancient Sites of Kokas

  4. Ancient Sites of Kokas

  5. Memanggil Ikan Dugong

  6. Ikan Dugong di Pantai Kiyat

  7. Kerangka Sirip Ikan Dugong

  8. Pantai Kiyat

 

Tinjauan

Kiyat adalah nama tempat yang tak jauh dari Kota Fakfak. Istimewanya, Kiyat menjadi rumah bagi seekor duyung yang sejak kecil hidup di perairannya yang dangkal dan bersih. Konon, duyung ini sudah dipelihara oleh sebuah keluarga sejak 20 tahun lalu, sewaktu ikan yang sebetulnya seekor mamalia ini masih kecil. Hampir tak berbeda dengan manusia, duyung ini dibuai dalam kehangatan keluarga di masa kecilnya. Ia ditidurkan dalam selimut di atas kasur berbantal, karena tanpa sebuah bantal, ikan ini selalu gelisah. Kini, duyung ini sudah berukuran hampir 3 meter dan masih berkeliaran bersama kawanan duyung lainnya di perairan Kiyat dan Fakfak.

 

Duyung atau disebut dugong (Dugong dugon) sendiri bukan ikan karena menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evolusi dari gajah. Hewan mamalia laut species Sirenia ini kebanyakan tinggal di kawasan timur Indonesia dan perairan utara Australia. Dugong hidup pada perairan segar dengan suhu air tertentu dan satu-satunya mamalia laut herbivora pemakan dedaunan.

 

Adalah keluarga Sirajuddin Jamal asal Gowa Makassar dan istrinya Jena Turutup – Makatita dibantu oleh sanak saudaranya yang memberi perlindungan dan kasih sayang pada duyung yang bernama Mayangsari. Idris Baraweri, adik dari Jena, mengatakan bahwa nama Mayangsari diberikan kepada duyung ini saat belasan tahun lalu sewaktu Fakfak berulang tahun, artis ibu kota Mayangsari yang menghibur kota Fakfak datang ke Kiyat untuk melihat duyung ini. Sejak saat itulah, duyung yang belum bernama, disebut sebagai Mayangsari untuk mengingatkan peristiwa itu.

 

Sang duyung Mayangsari berkulit seperti manusia dengan warna sawo matang, dan bagian perutnya seperti warna telapak tangan. Ia pun memiliki 5 jari tapi terbungkus oleh kulit sehingga menjadi sirip untuk berenang. Terkadang Mayangsari terdengar mengeluarkan suara yang terdengar seperti suara batuk atau bersin. Untuk memanggilnya, Sirajuddin sebagai pawang dari duyung akan memukul-mukul permukaan air di pantai depan rumahnya dan berteriak memanggil Mayangsari. Dalam beberapa waktu hingga kurang lebih satu jam, duyung ini akan muncul dan menghampirinya di tepi pantai.

 

Dengan semakin bertambahnya pengunjung yang tidak memiliki waktu terlalu lama dan biasanya mampir di Kiyat saat mereka akan pergi ke airport, maka Mayangsari dijaga dalam lingkungan yang khusus agar mudah dipanggil. Masih bisa bermain dengan kawanannya, Mayangsari seringkali dijemput dengan sampan dan dengan mudah Idris beserta saudaranya menemukan Mayangsari untuk dibawa ke pantai.

 

Uniknya, Mayangsari selalu merangkul perahu sampan dari bawah air dan ikut ke pantai. Jarinya yang panjang dan seperti manusia memungkinkan ia membengkokan jemarinya untuk menggenggam tepi sampan.

 

Mayangsari senang bermain, dan ia senang memeluk manusia tetapi karena bobot dan ukurannya yang besar, dipeluk seekor duyung bukan berarti sebuah kemesraan, melainkan bisa membahayakan karena siapapun yang dipeluknya mungkin akan dibawa bermain di bawah permukaan air. Oleh karena itu, tidak disarankan berenang bersama duyung ini di laut.

 

Mayangsari bagaimanapun selalu dikaitkan dengan mitos putri duyung. Tetesan air mata putri duyung diceritakan dapat menjadi pelipur lara, obat mujarab, bahkan pembawa rejeki. Akhirnya, Mayangsari pun sering diangkat ke pantai dengan kasur kayunya yang sangat besar. Perlu 20 orang untuk mengusungnya.

 

Di pantai, Mayangsari bernafas normal seperti mamalia lainnya. Ia memang bisa meneteskan air mata, dan Sirajuddin selalu siap dengan sendok kecil untuk menampung air matanya. Air mata Mayangsari rasanya tawar. Ini karena duyung tidak minum air laut. Mayangsari selalu minum air tawar dari sumber air dekat pantai di sekitar kediaman Sirajuddin dan Jena. Air tawar yang muncul dari mata air di pantai ini menjadi sumber kehidupan bagi duyung di sekitar perairan Kiyat dan Fakfak.

 

Karena sudah sangat mengenal Mayangsari, Sirajuddin akhirnya dikenal secara nasional sebagai Papa Duyung, dan Jena sebagai Mama Duyung. Untuk dapat melihat duyung ini, pengunjung harus membayar donasi sebesar Rp 1 juta bila tidak perlu mengangkatnya ke pantai. Bila ingin melihat ikan ini meneteskan air mata di tepi pantai, donasi meningkat menjadi Rp 2 juta, karena harus melibatkan masyarakat sekitar untuk mengangkatnya. Jadi datanglah dalam rombongan besar dan urunan adalah cara paling murah untuk menyaksikan duyung jinak saat Anda di Fakfak.

 

Untuk menuju Kiyat, Anda dapat menyewa kendaraan atau menggunakan angkutan umum yang banyak ditemukan di Plaza Thumburuni. Dari tepi jalan, Anda akan melihat papan penanda wisata duyung. Setelah turun dari kendaraan, Anda harus berjalan sedikit menuruni jalan hingga ke pantai dimana Papa Duyung dan Mama Duyung tinggal bersama sanak saudaranya.

 

atau dugong (Dugong dugon) adalah sejenis mamalia laut yang merupakan salah satu anggota Sirenia atau lembu laut yang masih bertahan hidup selain manatee. Duyung bukanlah ikan karena menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evolusi dari gajah. Ia merupakan satu-satunya hewan yang mewakili suku Dugongidae. Selain itu, ia juga merupakan satu-satunya lembu laut yang bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik, walaupun kebanyakan duyung tinggal di kawasan timur Indonesia dan perairan utara Australia. Duyung atau dugong adalah satu-satunya mamalia laut herbivora atau maun (pemakan dedaunan), dan semua spesies sapi laut hidup pada perairan segar dengan suhu air tertentu.

 

 

 

 

 

Acara Terkait

23

Aug 2014

Lihat Acara Lainnya

Lihat dalam Peta

Kiyat: Rumah Duyung Jinak di Fakfak

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Bangunan Bersejarah

Bangunan Bersejarah Banyak keajaiban bangunan tua dunia dapat ditemukan di Indonesia. Mulai dari candi sampai puing-puing istana zaman dahulu kala, mulai dari sisa-sisa...

selengkapnya