Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
5.00/5 (2 votes)
 

Dilihat:46603

Beranda » Desa Madobak, Ugai dan Matotonan » Seni Tato Mentawai: Jejak Seni Tato Tertua di Dunia

Seni Tato Mentawai: Jejak Seni Tato Tertua di Dunia

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg

 

Tinjauan

Bagi suku Mentawai, tato merupakan bentuk ekspresi seni dan juga perlambang status sosial dalam masyarakat. Selain itu, tato dapat pula dianggap sebagai pakaian abadi yang akan dibawa mati. Disebut pakaian sebab tato khas Mentawai di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat memang biasanya memenuhi sekujur tubuh, mulai dari kepala hingga ke kaki. Bahkan konon orang Mentawai menato tubuh mereka agar kelak setelah meninggal, mereka dapat saling mengenali leluhur mereka.  

Seperti halnya seni tato tradisional lainnya, proses pembuatan tato Mentawai dilakukan dengan alat tradisional, motif tertentu yang tidak mengalami banyak perkembangan sebab memang sudah menjadi simbol khusus atau identitas budaya. Tubuh yang akan ditato terlebih dulu digambari motif menggunakan lidi. Motif garis-garis yang merupakan motif khas tato Mentawai tidak sembarang ditorehkan melainkan mengikuti rumusan jarak tertentu. Biasanya sistem pengaturan jarak ini memanfaatkan jari, misal satu jari, dua, atau seterusnya.

Motif yang sudah selesai digambar kemudian ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Jarum biasanya menggunakan tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan. Tangkai kayu berjarum itu kemudian dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul agar zat pewarna masuk ke dalam lapisan kulit. Zat pewarna tato yang digunakan terbuat dari campuran warna alami, yaitu terbuat dari tebu dan arang tempurung kelapa. Pembuatan tato dimulai dari telapak tangan, tangan, kaki lalu tubuh. Bagian tubuh yang baru ditato biasanya akan bengkak dan berdarah selama beberapa hari.

Selain motif garis, terdapat motif tato lainnya yang dibuat mengikuti sejumlah aturan tertentu, biasanya dibedakan berdasarkan asal kampung atau klan. Hal ini sehubungan dengan fungsi tato sebagai identitas dan jati diri suku Mentawai. Motif juga menggambarkan jati diri dan status sosial atau profesi seseorang. Tato seorang tetua adat (sikerei) akan berbeda dengan tato yang berprofesi sebagai pemburu. Pemburu akan ditato dengan gambar binatang tangkapannya, seperti burung, babi, kera, rusa, atau buaya. Sementara sikerei biasanya memiliki tato bintang sibalu-balu di tubuhnya. Menurut hasil penelitian Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, tato bagi suku Mentawai juga merupakan simbol keseimbangan alam dan keindahan. Benda-benda seperti batu, hewan dan tumbuhan juga diabadikan di tubuh mereka dalam bentuk tato.

Tato suku Mentawai disebut dengan istilah titi, sedangkan orang yang pandai menato disebut sipatiti atau sipaniti. Tidak semua orang dapat menjadi sipatiti atau sipaniti. Biasanya sipatiti atau sipaniti diberi seekor babi atau beberapa ekor ayam sebagai balas jasa bagi seni rajah yang berhasil mereka kerjakan.

Proses pembuatan tato pun tidak boleh sembarangan melainkan mengikuti sejumlah prosedur adat yang mereka percayai dan memakan waktu yang lama. Tahap persiapannya saja bisa sampai berbulan-bulan. Sejumlah upacara dan pantangan (punen) harus dilewati atau dilakukan sebelum proses tato dilakukan. Melewati tahapan tersebut pun bukanlah hal yang mudah, sekalipun bagi orang suku Mentawai sendiri. Ritual upacara akan dipimpin oleh sikerei (dukun adat Mentawai). Tuan rumah perlu pula mengadakan pesta dengan menyembelih babi dan ayam. Biaya yang disiapkan untuk upacara membuat tato ini terbilang cukup mahal sebab dapat menghabiskan jutaan rupiah.

Kini seni tato Mentawai terancam punah; hanya sebagian kecil saja suku Mentawai yang masih menato tubuh mereka. Padahal pada zaman dahulu, tato merupakan seni rajah tubuh yang populer dan “dikenakan” baik bagi bagi laki-laki maupun perempuan Mentawai. Beberapa suku Mentawai yang masih mempraktekkan seni tato tubuh dapat ditemui di pedalaman Pulau Siberut, seperti di Desa Madobak, Ugai, dan Matotonan.

Ancaman punahnya seni tato ini diakibatkan oleh beberapa faktor. Selain karena perkembangan zaman dan masuknya ajaran agama ke kelompok suku Mentawai yang dulunya animisme, tato Mentawai pernah pula melewati masa pemusnahan lewat peratuhan pemerintah sekitar tahun 1980. Ratusan motif tato khas Mentawai yang pernah dilukiskan di tubuh penduduk asli Mentawai pun tidak sempat terdokumentasikan.

Hal tersebut sungguh sangat disayangkan. Ady Rosa, dosen Seni Rupa Universitas Negeri Padang yang telah lebih dari 10 tahun meneliti tato menyimpulkan bahwa tato Mentawai adalah seni rajah tubuh yang tertua di dunia. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, Ady menemukan bahwa tato Mentawai bahkan lebih tua usianya daripada tato Mesir. Encyclopaedia Britannica mencatat bahwa tato tertua ditemukan pada mumi di Mesir (1300 SM). Sementara, orang suku Mentawai sudah menato badan mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam (1500 SM-500 SM).

Konon, orang Mentawai adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya dongson di Vietnam. Mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru hingga sampai di pantai Barat Sumatera. Terlebih lagi ditemukan kemiripan tato Mentawai dengan tato hasil seni budaya dongson di Vietnam. Selain itu, motif tato serupa ditemukan juga pada beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru.

 

Photo Courtesy by Bayu Marthen

Lihat dalam Peta

Seni Tato Mentawai: Jejak Seni Tato Tertua di Dunia

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Desa Tradisional

Desa Tradisional Sebagai negara dengan lebih dari 350 kelompok etnik, keanekaragaman budaya Indonesia layak untuk  dijelajahi. Temukan kebudayaan unik and...

selengkapnya