Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
4.00/5 (2 votes)
 

Dilihat:104943

Beranda » Kota Tua Batavia » Tanjidor: Orkes Musik Betawi

Tanjidor: Orkes Musik Betawi

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Cafe Batavia

    Cafe Batavia
  2. Menara Syahbandar

    Menara Syahbandar Pelabuhan Sunda Kelapa
  3. Pelabuhan Sunda Kelapa

    Pelabuhan Sunda Kelapa
  4. Pelabuhan Sunda Kelapa

    Pelabuhan Sunda Kelapa
  5. Meriam Museum Fatahillah

    Meriam Museum Fatahillah Jakarta
  6. Museum Fatahillah

    Koleksi Museum Fatahillah
  7. Museum Fatahillah/ Fatahillah Museum

  8. Onthel Bicycle at Old Batavia/ Sepeda Onthel Kota Tua Batavia

  9. Stasiun Jakarta at Old Batavia/ Stasiun Jakarta di Kota Tua

  10. Dharma Bhakti Vihara at Old Batavia/Vihara Dharma Bhakti di Kota Tua Jakarta

  11. Toko Merah at Old Batavia

  12. Mandiri Museum at Old Batavia/ Museum Mandiri di Kota Tua

  13. St. Maria De Fatima Church at Old Batavia/Gereja St. Maria De Fatima di Kota Tua Jakarta

  14. Textile Museum at Old Batavia/ Museum Tekstil di Kota Tua Jakarta

 

Tinjauan

Regenerasi sepertinya sudah menjadi isu besar dalam melestarikan banyak warisan seni dan budaya tradisional di Nusantara. Itu barangkali penyebabnya karena musik modern lebih menarik untuk didengar dan digeluti oleh generasi masa kini. Akibatnya, gagalnya regenerasi dan pewarisan seni-budaya dapat berarti kelumpuhan atau punahnya suatu jenis musik tradisional atau seni budaya lainnya. Hambatan regenerasi ini juga dialami oleh grup musik tanjidor. Terbukti pemain atau grup tanjidor yang kini kian sedikit jumlahnya; kalau pun ada sebagian besar dimainkan oleh generasi tua.

 

Tanjidor adalah orkes musik tradisional khas masyarakat Betawi yang konon telah ada sejak abad 19, pada masa penjajahan VOC. Jenis musik tradisional Betawai ini mendapat pengaruh kuat dari musik Eropa. Kata tanjidor berasal dari bahasa Portugis 'tangedor', yang berarti ‘alat-alat musik berdawai' (stringed instruments). Akan tetapi, jika merunut arti tersebut, nama tanjidor tidak sesuai lagi mengingat alat musik yang digunakan sebagian besar adalah alat musik tiup. Hal yang masih sama adalah sistem musik yang digunakan, yaitu sistem diatonik atau dua belas nada berjarak sama.

 

Lebih jelasnya, ansambel tanjidor terdiri dari alat-alat musik seperti berikut: klarinet (tiup), piston (tiup), trombon (tiup), saksofon tenor (tiup), saksofon bas (tiup), drum (membranofon), simbal (perkusi), dan side drums (tambur). Kesemua alat musik tersebu biasanya dimainkan kelompok yang terdiri dari 7 hingga 10 orang.

 

Konon musik ini adalah kesenian yang dimainkan pada masa perbudakan atau dari orkes yang semula dibina dalam lingkungan tuan-tuan tanah. Ernst Heinz, seorang ahli musik Belanda yang mengadakan penelitian musik rakyat di pinggiran Jakarta tahun 1973, berpendapat bahwa tanjidor dulunya dimainkan oleh para budak yang ditugaskan menghibur tuannya saat jamuan makan. Sejarawan Belanda, F. De Haan, pun berpendapat hal yang sama bahwa tanjidor berasal dari orkes oleh budak pada masa penjajahan.

 

Valentjn juga menyebutkan tentang orkes musik yang dimainkan oleh budak yang kebanyakan memainkan instrumen berdawai berikut tambahan alat musik tiup. Konon seorang pejabat tinggi Kompeni, Anfreas Cleyer, disebutkan memiliki kelompok musik lengkap di rumahnya, yang terdiri dari budak-budak yang ahli memainkan segala alat musik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa orkes pribadi tersebut biasanya ikut dilelang saat sang majikan meninggal.

 

Saat perbudakan dihapuskan pada 1860, para budak yang merdeka kemudian berinisiatif membentuk perkumpulan musik yang dikenal dengan nama Tanjidor. Tanjidor pun berkembang di daerah pinggiran Jakarta, tepatnya di kawasan perkebunan dan villa milik orang Belanda. Villa tersebut berada di beberapa kawasan seperti di Cililitan Besar, Pondok Gede, Tanjung Timur, Ciseeng, dan Cimanggis. Beberapa daerah pinggiran lain tempat berkembangnya musik ini adalah Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, Bogor, Bekasi dan Tangerang.

 

Seiring perkembangan zaman, tanjidor yang dulunya dipersembahkan oleh budak kepada majikannya berubah menjadi musik yang digemari rakyat. Tanjidor kerap disuguhkan dalam rangka memeriahkan acara-acara khusus, seperti mengarak pengantin atau mengiringi pesta pernikahan, mengiringi arak-arakan sunat, peringatan hari-hari besar, menyambut tamu agung, dan lainnya.

 

Lagu-lagu yang biasa dibawakan orkes tanjidor, diantaranya berjudul Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, Cakranegara. Lagu-lagu tersebut dianggap lagu baru pada era 1920-an dan digemari pada zamannya. Judul-judul lagu tersebut bernuansa Belanda; lagu Kramton dan Bananas merupakan lagu Belanda berirama mars.

 

Lagu-lagu tanjidor kian bertambah dengan dibawakannya lagu-lagu khas Betawi, seperti Jali-Jali, Sirih Kuning, Cente Manis, Surilang, Kicir-Kicir, Stambul, Persi, dan Keramat Karam yang berkisah tentang bencana meletusnya Gunung Krakatau. Jenis lagu-lagu tersebut biasanya juga dibawakan dalam pertunjukan gambang kromong.

 

Ada banyak asumsi mengenai penyebab kurang berkembangnya musik tanjidor. Diantaranya menyebutkan bahwa musik ini hanya dimainkan sebagai sambilan atau untuk kepuasan batin dan bukan sebagai profesi. Kemungkinan lain adalah karena fungsi ekonomi tanjidor yang lemah dimana biasanya hanya mengandalkan saweran dari penonton.

 

Beberapa grup tanjidor yang masih bertahan hingga kini dan cukup menonjol adalah Putra Mayangsari pimpinan Marta Nyaat di Cijantung, Jakarta Timur. Grup ini merupakan generasi keempat. Grup lainnya adalah Pusaka pimpinan Said di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tiga Saudara yang berdiri sejak 1973 di Srengseng Sawah adalah daftar lain kelompok musik tradisional tanjidor di Jakarta yang masih bertahan di tengah persaingan yang ketat dengan musik-musik modern.

 

Beberapa kelompok tanjidor memadukan pertunjukan mereka dengan Tari Topeng dan lenong (Jipeng) guna menyiasati agar kesenian ini lebih diminati. Segala upaya pelestarian musik ini tentu akan sangat penting bagi eksistensi sebuah seni warisan nenek moyang. Apalagi musik ini menjadi salah satu ikon Kota Jakarta.

Acara Terkait

25

Mar 2015

Lihat Acara Lainnya

Lihat dalam Peta

Tanjidor: Orkes Musik Betawi

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Bangunan Bersejarah

Bangunan Bersejarah Banyak keajaiban bangunan tua dunia dapat ditemukan di Indonesia. Mulai dari candi sampai puing-puing istana zaman dahulu kala, mulai dari sisa-sisa...

selengkapnya