Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
5.00/5 (2 votes)
 

Dilihat:34554

Beranda » Taman Nasional Lore Lindu » Burung Maleo: Satwa Endemik Sulawesi yang Patut Dilindungi

Burung Maleo: Satwa Endemik Sulawesi yang Patut Dilindungi

 

Tinjauan

Sekilas burung ini nampak mirip ayam dengan berjambul dengan bulu kombinasi hitam dan putih pada bagian perut sebagai ciri khasnya. Burung Maleo meski terlihat sederhana tanpa banyak warna tetapi burung ini memiliki banyak keunikan dan karakteristik tersendiri.

 

Burung Maleo termasuk kategori burung langka sekaligus burung endemik Pulau Sulawesi atau hanya ditemukan hidup di pulau ini. Populasinya kian menurun dari tahun ke tahun sebab berbagai tantangan baik dari faktor alam atau pun perburuan oleh manusia.  Berdasarkan SK. No. Kep. 188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Pebruari 1990, burung maleo telah ditetapkan sebagai satwa maskot provinsi Sulawesi Tengah. Mengingat populasinya sedikit, burung penyuka biji-bijian, semut dan serangga kecil ini adalah jenis yang terancam punah dan dilindungi. Maleo bahkan sudah terdaftar dalam CITES Appendix I sebagai kategori terancam punah  dan juga di dalam IUCN Red List.

 

Meskipun dikategorikan sebagai burung, maleo  tidak terlalu suka terbang dan lebih gemar berjalan kaki seperti halnya ayam. Burung Maleo dengan nama ilmiah Macrocephalon maleo panjang ukuran tubuhnya sekira 55 cm. Mahkota jambul di bagian kepala dapat dikatakan sebagai ciri utama atau ciri khusus dari maleo. Diduga jambul ini memiliki fungsi sebagai  semacam alat pendeteksi panas di areal habitat dan peneluran. Maleo hidup di dekat pantai berpasir panas atau di kawasan pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau dengan kondisi geothermal tertentu.

 

Burung maleo tidak mengerami telurnya melainkan menguburnya di tanah. Oleh Karenanya, mereka mencari kondisi tanah yang hangat sebagai lokasi bertelur. Untuk  kebutuhan menggali tanah ini, burung maleo dianugerahi kaki dengan selaput yang berfungsi sebagai pengeruk.

 

Keunikan lain dari burung ini adalah karena mereka dikenal sebagai hewan yang paling setia dan mengadopsi prinsip monogami. Sepanjang hidupnya, ia hanya akan mempunyai satu pasangan dan hidup bersama-sama dengan pasangannya itu. Kabarnya, saat pasangannya mati, burung betina maleo kemungkinan besar tidak akan bertelur lagi.

 

Telur burung endemik Sulawesi ini relatif berukuran besar untuk ukuran tubuh mereka yang sebesar ayam. Dengan berat antara 240 hingga 270 gram dan ukuran rata-rata 11 cm, ukuran telur burung ini mencapai 5 kali lebih besar ukuran telur ayam. Bahkan, betina maleo kabarnya dapat pingsan setelah bertelur. Jantan akan menemani betina dan bersama-sama menggali tanah sedalam sekira 50 cm saat siap untuk bertelur. Suhu tanah yang cocok untuk dapat menetaskan telur-telur tersebut adalah sekira 35 derajat celcius dan membutuhkan waktu sekira 62-85 hari untuk menetas.

 

Telur-telur yang sudah dikubur ditinggalkan begitu saja; anak maleo harus berjuang sendiri keluar dari tanah saat mereka berhasil menetas. Perjuangan keluar dari lubang pengeraman ini bukanlah hal yang mudah; dibutuhkan waktu sekira 48 jam. Tak jarang anak burung maleo gagal keluar dan mati. Akan tetapi, apabila mereka berhasil mencapai permukaan tanah, anak burung maleo sudah memiliki kemampuan untuk terbang.

 

Kemampuan terbang anak maleo yang baru menetas ini dikarenakan kandungan nutrisi pada telur maleo lima kali lipat lebih banyak dari telur biasa. Anak maleo juga sudah memiliki insting untuk mencari makan dan bertahan hidup sendiri meski tanpa bantuan dan asuhan induknya. Anak maleo juga sudah harus menjaga dirinya sendiri dari hewan pemangsa, seperti ular, kadal, babi hutan, burung elang, dan lainnya.

 

Populasi burung maleo saat ini diperkirakan sekitar 4000-7000 ekor saja dan diperkirakan mengalami penurunan populasi sekira 90 persen sejak tahun 1950. Meski endemik di Pulau Sulawesi, burung maleo tidak hidup di semua tempat di pulau tersebut. Burung maleo hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau ini, khususnya daerah Sulawesi Tengah. Kawasan yang kerap menjadi lokasi bertelur burung maleo hanya ditemukan di daerah dengan sejarah geologi yang berhubungan dengan lempeng pasifik atau Australasia.

 

Menurunnya populasi maleo ini diakibatkan oleh beberapa faktor. Habitatnya yang khusus yaitu di daerah pantai berpasir panas atau di pegunungan dengan sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu menjadi salah satu pendorong punahnya unggas ini. Hanya di daerah dengan kondisi geothermal tertentu itulah maleo dapat menetaskan telurnya. Kondisi ini diperparah dengan tingkat kematian anak maleo yang tinggi. Pembuka lahan oleh manusia jelas mengancam habitatnya yang khusus tersebut. Perburuan telur maleo oleh manusia serta predator  lain, seperti  biawak (Varanus sp), babi hutan (Sus sp), elang, tikus, dan lainnya juga turut mengancam kelestarian burung ini.

 

Taman Nasional Bogani dan Taman Nasional Lore Lindu adalah dua dari sedikit tempat yang menjadi habitat burung maleo. Burung maleo juga dapat ditemukan di daerah Kabupaten Sigi (Desa Pakuli dan sekitarnya) dan Kabupaten Banggai. Di Tanjung Binerean, Sulawesi Utara, pemerintah daerah menyediakan lahan seluas 14 hektar di kawasan pantai, khusus untuk konservasi atau penyelamatan maleo.

 

Penangkaran Maleo
Di Desa Pakuli, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, telah dikenal Bapak Alikamisi Raja Pasu atau biasa disapa Pak Ali. Beliau berjasa  melakukan konservasi burung maleo atas inisiatifnya sendiri. Tindakan mulia ini ia lakukan lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Berawal dari kecintaannya pada burung endemik ini, pada 2001 Pak Ali memulai usaha penangkaran dengan 50 pasang burung maleo. Saat ini, lebih dari 400 maleo berhasil dikembangbiakkan dan telah dilepas di habitat liar, yaitu di kawasan hutan Taman Nasional Lore Lindu. Pertemuannya dengan sejumlah anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Yayasan Jambata pada 2001 membuat Pak Ali semakin serius melakukan usaha penangkaran dan pelestarian maleo.

 

Di tengah kesibukannya mengurus kebunnya sendiri, kakek 20 cucu ini mendedikasikan waktu, tenaga, bahkan uangnya yang terbatas untuk menangkarkan burung maleo. Beliau memindahkan telur ke lokasi pengeraman atau penangkaran dimana terdapat lubang-lubang dalam tanah berpasir bersuhu 35-40 derajat celsius. Kawasan penangkaran ini dipasangi pagar sehingga telur-telur tersebut aman dari predator atau pun dari usaha perburuan telur oleh manusia.

 

Ketika telur menetas, setiap hari Pak Ali membeli buah kemiri dengan uangnya sendiri dan dengan sabar menumbuk buah kemiri tersebut guna memberi makan anak maleo.  Setelah maleo cukup besar dan dinilai mampu bertahan hidup, burung maleo kemudian di lepas ke Taman Nasional Lore Lindu, meski dengan berat hati sebab kecintaannya pada burung-burung tersebut.

 

Karena upaya dan inisiatifnya tersebut, tahun 2008, Pak Ali diperkirakan telah melepas sebanyak 880 ekor burung maleo di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Oleh karena prestasinya tersebut, Pak Ali dianugerahi penghargaan dari Bupati Donggala atas upaya penyelamatan dan penangkaran burung maleo.

Lihat dalam Peta

Burung Maleo: Satwa Endemik Sulawesi yang Patut Dilindungi

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Berpetualang

Berpetualang Berparahu, trekking, berselancar, dan panjat tebing. Itu hanya sebagian petualangan mendebarkan yang ditawarkan di negeri ini. Dari arung jeram di...

selengkapnya

Mendaki Gunung, Trekking, dan Ekotour

Mendaki Gunung, Trekking, dan Ekotour Puaskan hasrat berpetualang Anda dengan melakukan petualangan ke banyak alam memukau di negeri ini. Pilihan dari menjelajahi hutang dengan ...

selengkapnya