Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
3.50/5 (1 votes)
 

Dilihat:79008

Beranda » Batur » Pura Puncak Penulisan: Tempat Ibadah dari Masa Bali Age

Pura Puncak Penulisan: Tempat Ibadah dari Masa Bali Age

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Batur/Mount & Lake Batur

  2. Batur/Mount & Lake Batur

  3. Batur/Mount & Lake Batur

  4. Batur/Mount & Lake Batur

  5. Tari Topeng Bali

  6. Bali Mask Dance/ Tari Topeng Bali

  7. Mount Batur/Gunung Batur

  8. Mount Batur/Gunung Batur

  9. Mount Batur/Gunung Batur

 

Tinjauan

Pura Puncak Penulisan atau dikenal sebagai Pura Tegeh Koripan serta ada juga yang menyebut Pura Pamojan (panah raja) adalah salah satu pura tertua di Bali. Lebih dikenal sebagai Pura Puncak Penulisan sebab pura suci ini terletak di puncak Bukit Penulisan dengan ketinggian sekira 1.745 m dpl. Secara administratif, pura yang lebih banyak dikunjungi wisatawan karena daya tarik historisnya ini berada di kawasan Desa Sukawana, Kintamani, Bangli.

 

Pura Puncak Penulisan adalah pura yang bercorak asli Bali age atau Bali mula. Hal tersebut karena bentuknya tidak seperti pura Bali umumnya sebagai hasil akulturasi dengan kebudayaan Jawa yang memiliki sanggaran, meru dan gedong. Oleh karena itulah, Pura Puncak Penulisan dinyatakan sebagai “asli” Bali. Usia pura ini bahkan belum dapat ditelusuri secara pasti sehingga memang sangat bernilai bagi budaya, agama, dan sejarah Bali. Pada zaman dahulu pura ini digunakan untuk bersemedi para raja di sekitarnya sekaligus sebagai representasi sebuah kehidupan yang teguh (tegeh kauripan).

 

Berada pada puncak Bukit Penulisan dengan titik yang lebih tinggi dari Gunung Batur dan Danau Batur membuat pura ini menjadi tempat dengan pemandangan Gunung Batur dan sekitarnya dari sisi yang berbeda, yaitu tampak atas. Tentu saja, panorama alam nan megah tersebut bukan satu-satunya suguhan yang menjadi daya tarik pura yang serupa situs megalitikum ini. Berada di pura yang fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa (sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Kuasa), Anda akan pula menikmati wisata sejarah Hindu Bali.

Dari struktur bangunannya, pura yang sebagian besar menghadap ke Selatan, kecuali pura utamanya yang menghadap ke Barat ini mengadopsi dua konsep. Pertama, merefleksikan bangunan pada masa megalitik yang nampak pada wujud bangunan teras piramida bertingkat (konsep Gunung Suci). Kedua, konsep Sapta Loka yang dapat dilihat dari bentuk bangunan pura yang bertingkat tujuh dimana setiap tingkat (teras) dihubungkan dengan tangga.

 

Pada tingkat ketiga (Swah Loka) terdapat dua palinggih kecil yang disebut Pura Dana dan Pura Taman Dana. Pada tingkat selanjutnya (Maya Loka) dapat ditemukan Pura Ratu Penyarikan (di sebelah Timur jalan): sementara, pemujaan keluarga Dadya Bujangga dapat ditemukan di sebelah Barat. Pada tingkat keenam (Tapa Loka) terdapat Pura Ratu Daha Tua. Di tingkat ketujuh (Sunya Loka) yang merupakan pucak Pura Penulisan dimana terdapat palinggih pangaruman, piyasan, serta gedong yang berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda peninggalan purbakala.

 

Mengenai kapan waktu pembangunan pura ini belum dapat dipastikan. Pendapat sementara pura ini perkirakan dibangun tahun 300 M (zaman perunggu) kemudian dilanjutkan pada abad ke-10 hingga tahun 1343 M (mendekati masa berakhirnya kekuasaan Majapahit). Dugaan tersebut didasarkan pada temuan artefak dan benda-benda purbakala di kompleks pura yang mengundang banyak peneliti, ilmuwan, dan sejarawan untuk menelitinya.

 

Dr WF Sturterheim misalnya, dalam bukunya yang berjudul "Oudheden Van Bali I-II" (1929-1930) berkesimpulan bahwa artefak dan benda purbakala yang ditemukan di kompleks pura berasal dari era kerajaan Bali Kuno. Kesimpulan ini didasarkan pada penemuan beberapa prasasti yang berhubungan dengan kehidupan Bali masa itu, yaitu prasasti berangka tahun 999 saka (1077 M) dan tahun 1352 Saka (1436 M). Penemuan arca lelaki dan perempuan yang di bagian belakangnya memuat prasasti sebagai pratista (pelinggih roh suci) Raja Udayana Warmadewa dengan Gunapriyadarmapatni memperkuat simpulan tersebut. Konon, raja ini berkuasa di kerajaan Bali pada tahun 911-933 Saka. Arca lain yang berada di belakangnya, yaitu arca wanita dengan sikap berdiri memuat nama Batari Mandul yang diperkirakan sebagai pratista permaisuri Raja Anak Wungsu yang tak berputra.

 

Penemuan lain yang mendukung dugaan bahwa pura Puncak Penulisan adalah pura peninggalan Bali kuno adalah penemuan sepasang arca setinggi 92 cm, bermahkota, mengenakan anting berbentuk pilinan rambut. Arca yang ditemukan pada tahun 1922 oleh Tim Peneliti Fakultas Sastra Unud itu memuat prasasti bertahun 933 Saka (1026 M) yang dipahat oleh Mpu Bga Anatah. Ada pula arca wanita berdiri yang terbuat dari batu padas  setinggi 154 cm. Pada bagian belakang sandaran arca terpahat huruf Kadiri Kuadarat bertuliskan Batari Mandul dan angka tahun 999 Saka (1077 M). Prasasti ini dikategorikan masuk pada periode Bali Kuno (abad ke-11).

 

Selain itu, ditemukan pula sebuah arca yang diperkirakan berasal dari masa Bali Madya (abad ke-13) berupa arca laki-laki berdiri dengan sikap tangan kanan dijulurkan ke bawah sejajar badan dan tangan kiri ditekuk ke depan. Temuan lain dari masa Bali Madya adalah arca perwujudan Dewa Brahma, dengan atribut empat muka, atau caturmuka. Di bagian paling atas Pura Puncak Panulisan, ditemukan juga arca Dewa Ganesa yang bercirikan berkepala gajah, berbadan manusia, dan bertangan empat yang juga dikategorikan dalam masa Bali Madya.

 

Selain arca tersebut di atas, pura ini menyimpan banyak lingga berpasangan dan ratusan lingga tak berpasangan dengan bentuknya berbeda-beda. Lingga tersebut merupakan perwujudan Dewa Siwa. Terdapat pula batu berhiaskan Bulan dan Matahari yang dianggap sebagi sebuah perwujudan Batara Brahma, miniatur candi sebagai simbol gunung tempat bersemayamnya para dewa, dan lain sebagainya.

 

Dengan sejumlah artefak kuno peninggalan zaman prasejarah hingga masa pengaruh Hindu, pura ini serupa situs megalitikum yang kini berfungsi utama sebagai tempat ibadah. Fungsi lain yang menambah daftar keunikan pura yang layak disambangi ini adalah sebagai tempat tujuan wisata dan juga area penelitian para ilmuan atau pun sejarawan yang tertarik mengungkap sejarah dibalik keberadaan pura tempat diadakannya upacara “Pengurip Jagad Bali Kabeh”. Upacara ini adalah upacara yang diadakan setiap 700 tahun sekali dengan salah satu ritual utamanya adalah Kebo Roras, yaitu prosesi menanam kerbau sebanyak 12 ekor tepat di tengah-tengah halaman Pura Puncak Penulisan.Upacara ini terakhir digelar pada 22 Oktober hingga 2 November 2010 yang lalu.

 

Artikel ini ditulis bersumber dari www.parisada.org dan diberi anotasi seperlunya.

Lihat dalam Peta

Pura Puncak Penulisan: Tempat Ibadah dari Masa Bali Age

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Mendaki Gunung, Trekking, dan Ekotour

Mendaki Gunung, Trekking, dan Ekotour Puaskan hasrat berpetualang Anda dengan  melakukan perjalanan ke beberapa alam Indonesia yang kasar dan liar. Dari trekking dan menyaksikan...

selengkapnya