Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
0.00/5 (0 votes)
 

Dilihat:24009

Beranda » Taman Nasional Kayan Mentarang » Sampek: Petikan Musik dari Hati

Sampek: Petikan Musik dari Hati

 

Tinjauan

Ada ungkapan mengatakan bahwa sesuatu yang datang dari hati akan menyentuh hati lagi. Kiranya ungkapan ini tak berlebihan apabila dikaitkan dengan keberadaan alat musik tradisional petik suku Dayak, khususnya di Kalimantan Timur, yaitu sampek. Sampek dimainkan dengan perasaan sang pemetiknya karena alat musik ini memang tidak memiliki tangga nada baku seperti halnya gitar. Nada-nada yang dihasilkan tentunya mewakili perasaan sang pemetik hingga akhirnya menyentuh perasaan pendengarnya.

 

Di kalangan masyarakat suku Dayak sendiri untuk menggambarkan alat musik tradisional kebanggaan mereka tersebut, terkenal sebuah ungkapan, Sape’ benutah tulaang to’ awah. Apabila diartikan secara harfiah, ungkapan tersebut bermakna, “Sampek bisa meremukkan tulang-belulang hantu yang gentayangan”. Mungkin terdengar berlebihan namun suara yang dihasilkan alat musik petik yang satu ini memang mampu membuat merinding yang mendengarnya karena begitu menyentuh perasaan.

 

Dalam bahasa lokal, sampek dapat diartikan “memetik dengan jari”. Sebagai alat musik tradisional, sampek tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan tapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakatnya. Alat musik ini jelas berperan dalam pelaksanaan upacara-upacara adat. Sampek sering dimainkan pada saat pesta adat dan gawai padai (acara syukuran atas hasil panen padi). Sampek biasanya dimainkan minimal 1 orang atau bisa juga 2 hingga 3 orang.

 

Meski sama-sama dipetik, sampek tidak sama dengan gitar. Dalam memainkan gitar, jari tangan yang satu berfungsi sebagai pemetik senar sementara jari tangan yang lain difungsikan untuk mengatur nada (kunci). Sementara, dalam memainkan sampek, semua jari di kedua belah tangan dapat memetiknya, seperti memetik alat musik kecapi. Hal ini memungkinkan karena sampek tidak memiliki kunci nada atau notasi baku seperti gitar sehingga memainkannya pun hanya mengandalkan kreasi petikan dan loncatan jari pemetiknya pada senar. Tidak heran apabila pemetik sampek sangat mengandalkan perasaannya saat memainkan sampek. Hingga saat ini, belum ada panduan khusus untuk menulis notasi musiknya, karenanya tidak semua orang dapat memainkan sampek.

 

Hal lain yang membedakan sampek dari gitar adalah jumlah senarnya yang hanya 3 saja meski ada pula yang bersenar 4 dan seterusnya. Sementara gitar, umumnya memiliki 6 buah senar. Senar pada sampek zaman dulu menggunakan tali serat pohon enau namun kini biasanya memakai kawat kecil dan tipis yang bisa menghasilkan denting yang lebih nyaring.

 

Sampek dibuat dari bahan kayu pilihan berkualitas berupa kayu pelaik (kayu gabus) atau jenis kayu lempung serta kayu-kayu keras, seperti kayu nangka, meranti, belian, tabalok, pelantan, marang, kayu adau, dan lainnya. Kayu jenis tersebut terbilang kuat, keras, tahan lama serta tahan rayap. Kualitas kayu berperan besar menciptakan mutu suara sampek. Semakin keras dan banyak urat daging kayunya maka semakin baik pula kualitas suara yang dihasilkan.

 

Bentuk sampek umumnya menyerupai perahu tetapi memiliki gagang dengan ukuran kecil (dapat digenggam tangan). Bagian permukaan badannya diratakan, sementara bagian belakangnya berongga secara memanjang namun tidak tembus ke sisi permukaan (seperti membuat perahu). Tingkat ketebalan tepi dan permukannya sama sehingga menghasilkan suara nyaring ketika dipetik.

 

Untuk memperindah sampek dan menambah nilai estetisnya, pada bagian kepala sampek (ujung gagang), ditambahkan hiasan ukiran dengan ornamen khas Dayak yang menggambarkan taring dan kepala burung enggang. Burung enggang dianggap sebagai burung keramat masyarakat suku Dayak dan menjadi ciri khas ornamen Dayak. Selain sebagai lambang keagungan dan kebesaran masyarakat Dayak, burung enggang dipercaya dapat memberikan perlindungan.

 

Sampek tersebar dan popular di berbagai wilayah, khususnya di Kalimantan Timur. Sampek memiliki nama berbeda-beda di tiap sub suku Dayak. Masyarakat suku Dayak Kenyah, Dayak Bahau dan Kanyaan mengenalnya dengan nama sape’. Suku Dayak Modang menyebutnya sempe, sementara Dayak Tunjung dan Banua menyebutnya dengan nama kecapai’ sebab alat musik ini sedikit mirip kecapi.

Lihat dalam Peta

Sampek: Petikan Musik dari Hati

Destinasi Terkait

Aktivitas Terkait

Mendaki Gunung, Trekking, dan Ekotour

Mendaki Gunung, Trekking, dan Ekotour Puaskan hasrat berpetualang Anda dengan  melakukan perjalanan ke beberapa alam Indonesia yang kasar dan liar. Dari trekking dan menyaksikan...

selengkapnya