Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
3.50/5 (4 votes)
 

Dilihat:80345

Beranda » Taman Nasional Tanjung Puting » Masjid Kiai Gede: Pesona Masjid Tertua di Kalimantan Tengah

Masjid Kiai Gede: Pesona Masjid Tertua di Kalimantan Tengah

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Tanjung Puting

  2. Tanjung Puting

  3. Tanjung Puting

  4. Tanjung Puting National Park

  5. Tanjung Puting National Park

  6. Tanjung Puting National Park

  7. Tanjung Puting

  8. Tanjung Puting

  9. Tanjung Puting

  10. Tanjung Puting

  11. Perahu Klotok / Klotok Boat

  12. Klotok

  13. Klotok

 

Tinjauan

Meski telah berusia ratusan tahun, Masjid Kiai Gede masih berdiri tegak dan berfungsi dengan baik hingga hari ini. Masjid yang bangunannya terbuat dari kayu ulin ini terletak di Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

 

Sebagai masjid yang menandai sejarah Islam di Kalimantan Tengah, Masjid Kiai Gede merupakan masjid tertua di provinsi tersebut. Dibangun tahun 1052 Hijriyah, bentuk fisik dan arsitektur bangunannya disebut-sebut memiliki kemiripan dengan Masjid Demak. Konon, namanya sendiri berdasarkan nama seorang ulama asal Demak, yaitu Kiai Gede, yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di Kalimantan. Kiai Gede yang pernah berguru pada Sunan Giri di Gresik ini, tiba di Kalimantan tahun 1591 M bersama sejumlah pengikutnya. Kala itu, Kasultanan Kotawaringin yang konon merupakan bagian dari Kasultanan Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Kesultanan Banjar saat itu di bawah pemerintahan Sultan Mustainbillah (1650-1678M). Sementara, Kesultanan Kotawaringin berada dalam masa pemerintahan Pangeran Adipati Muda (1010-1055 H). Kesultanan ini adalah satu-satunya kesultanan yang pernah ada di Kalimantan Tengah.

 

Berjarak sekira 61 km dari Pangkalan Bun (ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat), masjid antik—yang arsitekturnya berbeda dari kebanyakan arsitektur masjid kuno di Kalimantan pada umumnya ini—sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1992. Langkah pemerintah tersebut tentu baik sekali mengingat masjid kayu ini memiliki peran penting dalam sejarah persebaran Islam di Kalimantan Tengah dan juga memiliki bentuk arsitektur yang menarik dan kokoh. Hampir seluruh bangunan masjid terbuat dari kayu ulin pilihan khas Kalimantan yang tahan terhadap perubahan cuaca. Uniknya lagi, bangunan masjid ini tidak menggunakan paku, melainkan menerapkan konsep lego.

 

Selain masih berfungsi baik sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan sosial masyarakat lainnya, Masjid Kiai Gede pun menjadi tujuan wisata sejarah dan bahkan religi. Barisan pagar kayu Ulin setinggi 1,25 m nampak mengepung masjid dan akan menyambut Anda sebelum Anda melangkah masuk ke dalam masjid. Dari luar bentuk atap masjid ini memang serupa Joglo—bangunan khas Jawa. Terdiri dari atap sirap bersusun tiga; terdapat dinding dari kayu sebagai pemisah satu atap dengan yang lainnya. Atap paling atas berbentuk seperti kerucut, terdapat hiasan bunga tiga tangkai pada puncaknya.

 

Sepintas dari bentuk atap ini dan keseluruhan bangunan, Masjid Kiai Gede memang mirip dengan struktur Masjid Demak, meski tidak sama persis. Perbedaan dengan Masjid Demak adalah bahwa masjid ini berupa bangunan panggung, berdiri di atas ketinggian kurang lebih 1,5 meter di atas permukaan tanah. Terdapat tangga dari kayu yang akan mengantar Anda masuk ke dalam masjid yang lantai dan dindingya seluruhnya terbuat dari kayu.

 

Dengan luas masjid sekira 16x16 m2 atau 256 m2, masjid kayu ini juga memiliki jam kayu yang bentuknya seperti tugu sebagai jam penunjuk waktu shalat. Keunikan arsitektur masjid ini dapat pula dilihat dari desain interiornya. Terdapat 36 tiang yang terdiri dari 3 jenis untuk menyangga bangunan tanpa paku luar biasa ini. Jenis tiang yang pertama adalah tiang utama (sokoguru) berjumlah 4 buah dan terdapat tepat di tengah ruangan. Selain tiang dalam bangunan utama terdapat mihrab dan mimbar. Berbentuk segi-delapan dan berhiaskan motif sulur dan spiral, tiang utama tersebut berdiri di atas umpak kayu yang diukir serupa kelopak bunga teratai. Tiang lainnya berjumlah 12 yang tidak berukir dengan letak mengelilingi tiang utama. Selain itu, ada lagi 20 tiang berbentuk bulat yang fungsinya penyangga dinding. Ukurannya lebih kecil dari tiang yang berjumlah 12 dan letaknya menempel pada dinding bagian dalam masjid.

 

Selain ke-36 tiang, terdapat pula mihrab dan mimbar serta bedug dengan panjang 161 cm dan lebar 58 cm di dalam masjid. Konon bedug ini adalah pemberian Kerajaan Demak. Namun perihal ini tidak pasti apakah memang benar hadiah dari kerajaan Demak. Bahkan kabarnya, Kiai Gede kemungkinan tidak diutus langsung oleh kerajaan Demak saat melakukan dakwah penyebaran Islam di sana. Dugaan ini didasarkan dari keterangan sejarah perihal tahun kedatangan, masa pemerintahan Demak, dan masa pemerintahan Kesultanan Kotawaringin sendiri yang tidak cocok satu dan lainnya. Selain itu, ada pula disebutkan bahwa sebenarnya Kotawaringin zaman dulu adalah daerah kekuasaan Majapahit, sesuai dengan yang tertulis di kitab Negarakertagama.

 

Meskipun sejarah tentang asal-usul dan keberadaan Masjid Kiai Gede ini memiliki banyak versi, bagaimana pun juga ia adalah sebuah simbol sejarah yang masih bertahan hingga kini dan patut dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Kunjungi masjid ini saat Anda menginjakkan kaki di Kalimantan Tengah untuk menjadi saksi pesona bangunan masjid kuno nan antik, sebuah warisan sejarah Islam yang berumur ratusan tahun. 

Lihat dalam Peta

Masjid Kiai Gede: Pesona Masjid Tertua di Kalimantan Tengah

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Berpetualang

Berpetualang Berparahu, trekking, berselancar, dan panjat tebing,  hanyalah  sebagian petualangan yang mendebarkan jantung yang ditawarkan Indonesia....

selengkapnya