Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
3.33/5 (3 votes)
 

Dilihat:79559

Beranda » Mamuju » Tenun Ikat Sekomandi: Salah Satu Ragam Motif Tertua di Dunia dari Kalumpang

Tenun Ikat Sekomandi: Salah Satu Ragam Motif Tertua di Dunia dari Kalumpang

 

Tinjauan

Inilah salah satu produk budaya warisan leluhur berusia ratusan tahun: tenun ikat tradisional sekomandi dari Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Bahan dasar tenun ikat ini terbuat dari kulit kayu dan menggunakan pewarna alami dari cabe merah. Seperti kebanyakan tenun tradisional lainnya, warna dasar tenun ikat sekomandi adalah hitam. Selain hitam, warna yang biasa mendominasinya adalah  coklat, merah, dan krem. 

 

Keunikan kain tenun ini terdapat di pola, warna, dan struktur kain. Semua proses pengerjaaannya dengan tangan dan atau ditenun menggunakan alat tradisional. Dibutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk memproduksi sehelai kain tenun ikat. Karenanya, tidak heran apabila kain tenun yang kian sedikit pengrajinnya ini dibandrol dengan harga tinggi, kabarnya hingga puluhan juta rupiah.

 

Zaman dahulu, selain dibuat untuk kepentingan sendiri, misalnya membuat pakaian adat, tenun ikat juga menjadi alat tukar (barter) bernilai tinggi. Biasanya tenun ikat dapat dibarter dengan kerbau atau babi.

 

Sekomandi merupakan salah satu jenis sarung ikat di Kalumpang, jenis lainnya dikenal dengan nama rundun lolo dan marilotong. Penamaan dan pembedaan jenis ini didasarkan pada coraknya. Marilotong adalah jenis kain tenun ikat yang berwarna hitam dan polos. Sementara sekomandi dan rundun lolo memiliki motif khas masing-masing. Meski sekilas tampak mirip, rundun lolo memiliki motif garis panjang yang lebih dominan dibanding sekomandi.

 

Tahapan pembuatan tenun ikat sekomandi terbagi atas tiga, yakni pemintalan, pewarnaan benang, dan penenunan. Proses pembuatan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, sekira 6 sampai 12 bulan.

 

Pada tahap pemintalan benang, dahulu masyarakat Kalumpang masih memintal sendiri benang dari kapas yang mereka tanam tetapi kini benang didatangkan dari luar. Mengikat kumpulan benang adalah salah satu teknik sebelum mewarnai benang yang akan ditenun.

 

Tahap selanjutnya dan merupakan tahapan yang cukup panjang adalah tahap pewarnaan. Pertama-tama adalah pemberian bahan perekat warna yang terdiri dari campuran cabe, kemiri, lengkuas, dan kaju pallin. Bahan-bahan tersebut ditumbuk sampai halus lalu dimasak.

 

Sementara itu, dibuat pula rendaman abu yang terbuat dari kayu bakkudu. Setelah abu mengendap, air rendaman diambil dan dicampur dengan campuran perekat warna yang tadi. Campuran perekat warna lalu dipoleskan ke benang hingga meresap. Tahap selanjutnya benang dijemur selama 30 hari terus menerus untuk memperkuat warna dan agar tidak luntur.

 

Benang yang sudah diberi warna dasar biasanya berwarna kekuning-kuningan. Benang kemudian direntangkan dan diikat per kelompok, sekira 10 helai benang. Benang diikat di alat yang disebut kalimuran, sebuah alat untuk menahan benang pada saat diikat agar rapi. Benang yang diikat inilah yang nantinya akan membentuk motif atau corak kain. Proses pengikatan dan pewarnaan melewati beberapa tahap.

 

Hebatnya lagi, untuk menciptakan motif tertentu, sang penenun sebelumnya tidak membuatkan pola atau sketsa pada benang yang diikat di kalimuran. Pembuatan sketsa atau pola motif terjadi dalam pikiran dan imajinasi penenun. Uniknya lagi, motif yang dibuat bukan sembarang motif. Motif-motif tersebut ada jenisnya dan memiliki makna. Beberapa jenis motif diataranya adalah ulu karua kaselle, ulu karua barinni, toboalang, rundung lolo, atau leleq sepu.

 

Tahap terakhir adalah proses penenunan kain. Pada tahap awal, benang yang telah direbus dan diberi warna dibuka tali pengikatnya dengan ekstra hati-hati. Tujuannya agar susunan benang dan atau susunan warna tidak kacau. Benang diangkat satu per satu lalu dipasang ke alat tenun dan siap ditenun. Sebelumnya, benang terlebih dahulu melewati proses penganyaman dengan menggunakan lidi.

 

Saat ini sudah tak banyak orang yang bisa menenun kain tenun ikat sekomandi. Karenanya diperlukan perhatian khusus agar kain warisan nenek moyang ini tetap lestari. Apalagi motif tenun ikat dari Kalumpang dikenal sebagai salah satu ragam motif tertua di dunia.

 

Selain di Kalumpang, pengrajin tenun ikat sekomandi juga dapat ditemui di Malolo dan Kampung Batuisi. Kabarnya jumlah pengrajin kain ini hanya sekira 30 penenun saja yang tersebar di (terutama) ketiga daerah tersebut di atas.

 

Kalumpang sendiri terletak di daerah dataran tinggi, sekira 85 km arah timur Mamuju, Ibu kota Provinsi Sulawesi Barat. Perjalanan menuju Kalumpang adalah perjalanan yang akan diwarnai panorama hijau alam pegunungan, udara yang sejuk, dan air terjun Lebbeng, serta perkampungan penduduk. Dibutuhkan waktu sekira 3 sampai 4 jam berkendara baik roda dua atau roda empat melintasi jalur berkelok dan menanjak. Akan tetapi, kelelahan akan bercampur dengan rasa puas menikmati pemandangan.

Lihat dalam Peta

Tenun Ikat Sekomandi:  Salah Satu Ragam Motif Tertua di Dunia dari Kalumpang

Destinasi Terkait

Aktivitas Terkait

Diving & Snorkeling

Diving & Snorkeling Rumah bagi seperempat kehidupan laut dunia, Kepulauan Indonesia termahsyur akan diving kelas dunia dan keindahan bawah laut yang memukau. Selami dan...

selengkapnya