Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
4.50/5 (1 votes)
 

Dilihat:36958

Beranda » Pangkalpinang » Guratan Hikayat Bangka Dalam Kuliner Bercita Rasa

Guratan Hikayat Bangka Dalam Kuliner Bercita Rasa

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Warung Kopi Legendaris Tung Tau/ The Legendary Tung Tau Coffee Shop

  2. Warung Kopi - Manggar, Belitung/ Manggar Coffee Shop

  3. Warung Kopi Legendaris Tung Tau/ The Legendary Tung Tau Coffee Shop

  4. Es Jeruk Kunci, Minuman Khas Bangka Belitung

  5. Lempah Kuning, Kuliner Khas Bangka

  6. Kopi O, Warung Kopi Legendaris Tung Tau

  7. Mie Koba, Kuliner Khas Bangka

  8. Otak-otak Kuliner Khas Bangka/ Otak-otak (Culinary of Bangka)

  9. Anak-anak Bermain Gambus/A Group of Children Playing Gambus

    Photo Courtesy : Ari Ekot (KOMFOS)
  10. Martabak Telur Bangka

    Photo courtesy : Elka Lesmono (Komunitas Fotografer Sungailiat, Bangka Belitung)
  11. Martabak Manis Bangka

    Photo courtesy : Elka Lesmono (Komunitas Fotografer Sungailiat, Bangka Belitung)

 

Tinjauan

Saat ke Bangka, selain menanti kilau cahaya yang spektakuler di keheningan petang, Anda perlu jelajahi titik-titik kuliner bersejarah yang penuh sensasi di sana. Kerajaan Melayu, Minang, masyarakat Hakka dari Guangdong, keunikan bangunan Belanda yang menjadi restoran, hingga cerita bangsa pelaut akan menambah serunya berburu makanan dan kopi di Bangka.

 

Lempah Kuning - Indonesia Travel

 

Tersebutlah beberapa panganan yang patut dinikmati seperti lempah kuning (gangan di Belitung), mie koba, kemplang dan pempek bakar, martabak acau dan martabak pink kong, roti bakar tung tau, dan kue-kue warung kopi seperti otak-otak, kue wajit, talam ubi, bugis, olen-olen, singkulun, dan kue asin.

 Martabak Telur Bangka - Indonesia Travel

 

“Tempat pertama dalam menelusuri sejarah Bangka ialah Museum Timah. Di Pulau Belitung pun hadir Museum Belitung dan Rumah Tradisional yang menguak jejak sejarah dua pulau indah ini.”

 

Dari namanya, Bangka punya cerita sendiri. Asal kata Bangka terkuak dari beberapa versi, mulai dari kaitannya dengan timah hingga pulau pembuangan bangkai sampai cerita raksasa, beberapa orang bisa menceritakannya dengan menarik sambil menghirup kopi panas di salah satu kedai kopi yang tersebar di pulau ini. Pastinya, di Bangka ditemukan sebuah prasasti berbahasa Sansekerta dan bertuliskan huruf Pallawa, yaitu Prasasti Kota Kapur dimana di dalamnya tersebutlah kata VANKA, yang bermakna ‘timah’. Prasasti itu berangka tahun 686 M, itu ditemukan di Sungai Menduk, Bangka Barat.

 Mie Koba - Indonesia Travel

Dari kata itulah pulau yang berukuran sedikit lebih besar dari Bali ini disebut pulau timah, atau Pulau Bangka. Isi prasasti mengutip, penguasa Kerajaan Sriwijaya memerintahkan masyarakat Pulau Bangka untuk patuh pada kerajaan dan melarang mengadakan pemberontakan. Maknanya, saat itu Bangka sudah memiliki masyarakat yang beraktivitas dan berpotensi cukup kuat.

 

Tahun 1846 beredar sebuah majalah bernama Tijdschrift voor Nederlandsch Indie, dimana dalam majalah itu tersebut Banca dan ditengarai sebagai Chinapata atau China-Batto. Kebesaran nama Banca berpengaruh luas hingga ke arah Barat pulau, dimana disebutkan daerah Bangka-Hulu yang sekarang kita kenal dengan Bengkulu.

 

Sejak dahulu, masyarakat di pulau ini sudah mahir menambang timah. Namun saat perniagaan semakin maju, penambangan timah memerlukan produksi yang lebih banyak. Dari perhubungan internasional saat itu, diketahui bahwa bangsa China dari Guangdong sudah sangat ahli dalam penambangan timah. Kerajaan Sriwijaya akhirnya mendatangkan para ahli dari China untuk menerapkan teknologi yang lebih tinggi itu di Pulau Bangka. Tak dapat dielakkan, pada awal abad ke-18, migrasi dari Guangdong pun terjadi. Suku Hakka tercatat sebagai mayoritas imigran yang terbanyak. Hingga hari ini, suku dan budaya Hakka yang paling dominan di Pulau Bangka.

 

Konsekuensi dari sejarah panjang itu membawa warna dan corak pada kebiasaan masyarakatnya mengolah makanan, termasuk minuman. Kentalnya pengaruh budaya China dari suku Hakka ini dapat kita rasakan dalam setiap gigitan kuliner di Bangka. Itu menjadi menarik dan beberapa warga dengan bangga menyandingkan pulau mereka dengan kulinernya, ketimbang alamnya yang banyak menguak ceruk berisi timah yang berlimpah.

 

Belanda, saat masuk Nusantara tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman sudah melirik Bangka dan Belitung yang saat itu dikuasai oleh Kesultanan Palembang. Pada masa pemerintahan Sultan Abdurrachman (1668), Belanda masuk ke Bangka untuk pertama kalinya dan diakui oleh Sultan Abdurrachman untuk menjalankan usaha penambangan timah secara monopolistis. Tahun 1722, pengelolaan penambangan monopolistis ini diambil alih oleh VOC.

 

Teori lain menyatakan bahwa sebelum bangsa China dan Belanda masuk, Pulau Bangka sudah dihuni oleh percampuran masyarakat pelaut dari Jawa, Palembang, Minangkabau, dan Bugis yang akhirnya berdomisili di pulau itu. Pengaruh kerajaan pun masuk dimana 2 kerajaan besar sangat terasa dampaknya pada tata cara dan kebiasaan masyarakat di Pulau Bangka. Kerajaan Johor dan Kerajaan Minang disebutkan sebagai kerajaan-kerajaan yang masuk untuk memberantas bajak laut yang tinggal di Bangka dan sering mengganggu pelayaran di sekitar Selat Malaka.

 

Kerajaan Johor memberikan pengaruh kuat di Bangka Barat, seperti di Mentok. Di daerah ini, bahasa masyarakatnya kental berlogat Melayu. Sedangkan di Bangka Selatan seperti di Toboali, Kerajaan Minang memberi pengaruh yang sama kuatnya dengan logat yang biasa digunakan di daerah Minang.

 

Dengan rangkaian sejarah itu, bisa dibayangkan begitu rumitnya percampuran kebiasaan dan cara masyarakatnya. Indahnya, makanan yang biasa dihidangkan bagi tamu menjadi begitu bercita rasa dan beragam macamnya.

Lihat dalam Peta

Guratan Hikayat Bangka Dalam Kuliner Bercita Rasa

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Bangunan Bersejarah

Bangunan Bersejarah Banyak keajaiban bangunan tua dunia dapat ditemukan di Indonesia. Mulai dari candi sampai puing-puing istana zaman dahulu kala, mulai dari sisa-sisa...

selengkapnya

Berjalan-jalan

Berjalan-jalan Berjalan-jalan selama setengah hari atau sehari penuh di hari libur atau diantara acara konferensi selalu menjadi pengantar yang indah dalam tujuan...

selengkapnya