Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
3.00/5 (1 votes)
 

Dilihat:29486

Beranda » Pulau Rote » Sasando: Lantunan Merdu Alat Musik Tradisional dari Pulau Rote

Sasando: Lantunan Merdu Alat Musik Tradisional dari Pulau Rote

 

Tinjauan

Dewasa ini memainkan alat musik tradisional menjadi begitu jarang selain digeluti oleh penduduk asli setempat tempat asalnya. Generasi muda lebih tertarik memainkan alat musik modern seperti gitar, bass, piano, biola, drum, dan sebagainya. Sebenarnya memainkan alat musik tradisional tak kalah menarik dan salah satu alat musik tradisional khas Nusantara yang begitu memukau adalah sasando, alat musik tradisional berbahan pohon lontar dan bambu dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

 

Sejarah alat musik sasando menurut penuturan masyarakat di Pulau Rote diawali seorang pemuda bernama Sangguana. Suatu hari ia pergi menuju padang sabana, karena kelelahan kemudian ia berhenti untuk beristirahat sejenak di bawah pohon lontar. Secara tidak sengaja ia pun tertidur dan bermimpi sedang memainkan sebuah alat musik dari pohon lontar dan berikutnya mimpi tersebut menginspirasinya untuk menciptakan alat musik yang kemudian dikenal sebagai sasando.

 

Sasando merupakan alat musik tradisional khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Rote, istilah sasando sering disebut sasandu yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi, sedangkan di Kupang disebut Sasando. Cara memainkan alat musik ini dengan dipetik. Bahan pembuat sasando secara keseluruhan terbuat dari pohon-daun lontar, bambu, kecuali dawai yang terbuat dari kawat halus seperti senar string.

 

Sekilas bentuk sasando mirip alat musik petik lainnya yakni biola, gitar dan kecapi namun uniknya sasando memiliki  bunyi merdu khas yang berbeda. Hal itu dikarenakan sasando terbuat dari bambu dengan badan utama dibentuk menjadi tabung panjang dan di bagian tengah tabung diberi ganjalan melingkar dari atas hingga ke bawah. Senar atau dawai  direntangkan dari atas hingga ke bawah tabung. Tabung diletakan pada tempat yang terbuat dari anyaman daun lontar dan dibentuk setengah melingkar seperti kipas. Sasando adalah alat musik tradisional yang perlu dirawat rutin. Setiap 5 tahun sekali daun lontar harus diganti karena sifatnya yang mudah berjamur.

 

Pohon Lontar sendiri memiliki nama latin Borassus flabellifer atau dikenal dengan pohon siwalan, sejenis palma (pinang-pinangan), dimana pohon ini banyak tumbuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Pohon ini banyak dimanfaatkan penduduk Nusa Tenggara Timur selain sebagai bahan baku sasando juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan pembuat kipas, tikar, topi, aneka keranjang, dan tenunan pakaian.

 

Memainkan alat musik Sasando memanglah tidak mudah. Dibutuhkan harmonisasi perasaan dan teknik sehingga tercipta alunan nada merdu. Akan tetapi, apabila Anda mau belajar tentunya selain menyenangkan mendengar alunan merdu juga untuk ikut melestarikan kesenian dan kebudayaan Indonesia. Bagi Anda yang sudah memiliki kemampuan dasar dalam memainkan salah satu alat musik (gitar, biola, bass, dan sebagainya) maka akan sangat membantu mempercepat  menguasai alat musik mengangumkan ini.

 

Memainkan sasando memang memerlukan keterampilan jari jemari  memetik dawai seperti pada harpa. Akan tetapi, sasando dimainkan menggunakan dua tangan dengan arah berlawanan. Inilah yang unik dan berbeda. Ketika Anda memainkannya maka pastikan tangan kanan berperan memainkan accord sedangkan tangan kiri bertugas sebagai pengatur melodi dan bass.

 

Di Nusa Tenggara Timur sendiri, sasando dimainkan untuk beberapa keperluan seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu penting, atau sekadar alat musik penghibur.

 

Sasando memiliki beberapa jenis yakni sasando gong dan sasando biola. Sasando gong lebih dikenal di Pulau Rote, memiliki nada pentatonik, biasanya dimainkan dengan irama gong dan dinyanyikan dengan syair khas Pulau Rote. Sasando jenis ini berdawai 7 buah atau 7 nada kemudian kini berkembang menjadi 11 dawai.

 

Adapun sasando biola merupakan sasando yang telah berkembang dengan nada diatonis. Bentuk sasando biola sekilas mirip sasando gong namun diameter bambunya lebih besar. Sasando jenis ini diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-18. Disebut sasando biola karena menyerupai nada biola dengan 30 nada kemudian berkembang menjadi 32 dan 36 dawai.

 

Selain kedua jenis sasando di atas, ada pula sasando elektrik (listrik) yang umumnya memiliki 30 dawai. Jenis sasando ini merupakan pengembangan dari sasando biola yang diberi sentuhan teknologi. Sasando jenis ini diciptakan oleh Arnoldus Eden (almarhum), seorang musisi sasando. Saat Hari Ulang Tahun Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ke-50, pada 20 Desember (2008), Gubernur NTT (yang menjabat pada saat itu) menyerahkan piagam penghargaan untuk Arnoldus Eden (almarhum) yang telah berjasa dalam menciptakan sasando listrik dan telah melestarikan kesenian tersebut.

 

Awal mula diciptakan jenis sasando ini karena ditemukan beberapa kelemahan pada sasando tradisional yakni tidak dapat dinikmati secara maksimal oleh pendengar karena saat memainkannya jemari terhalang daun lontar sebagai wadah penampung suara yang melingkari Sasando. Selain itu, suara merdunya hanya dapat didengar  beberapa orang saja yang berada di sekitar pemain sasando.

 

Berbeda dari Sasando tradisional yang sebagian besar menggunakan bahan alami, sasando elektrik tidak menggunakan wadah dari daun lontar. Hal itu sebab tidak membutuhkan ruang resonansi (wadah penampung suara) sehingga bunyi yang didapat tidak seperti sasando tradisional yang hanya bisa didengar hanya oleh orang-orang di sekeliling pemain, melainkan bunyi langsung dapat di perbesar lewat alat pengeras suara seperti sound system dan speaker. Kini sasando makin berkembang dengan variasi dan jumlah senar atau dawai yang semakin beragam.

 

Bagi Anda yang berencana berwisata ke Provinsi Nusa Tenggara Timur atau kebetulan sedang berada di sana, mengapa tidak manfaatkan waktu untuk coba mempelajari atau sekadar memainkan alat musik bersuara indah ini.

 

Pilihan untuk mempelajari sasando yang menarik adalah dengan cara meminta penduduk asli di Pulau Rote untuk mengajarkannya langsung kepada Anda. Alternatif lain di Kota Kupang Anda dapat mengungunjungi salah satu sanggar sasando yang beralamat di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kabupaten Kota Kupang, 200 meter dari belakang Gereja GMIT, BTN Kolhua, Kupang. Anda dapat menghubungi Caro David Hadel Edon di nomor (08123694603) atau kunjungi lamannya di: edonSasando.wordpress.com.

Lihat dalam Peta

Sasando:  Lantunan Merdu Alat Musik Tradisional dari Pulau Rote

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Diving & Snorkeling

Diving & Snorkeling Rumah bagi seperempat kehidupan laut dunia, Kepulauan Indonesia termahsyur akan diving kelas dunia dan keindahan bawah laut yang memukau. Selami dan...

selengkapnya

Berselancar

Berselancar Indonesia ini benar-benar memiliki gelombang yang menakjubkan untuk dinikmati para peselancar dari berbagai belahan dunia. Sebut saja Nias,...

selengkapnya