Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
0.00/5 (0 votes)
 

Dilihat:5016

Beranda » Museum Goedang Ransoem: Warisan Kota Tambang Legendaris Sawahlunto

Museum Goedang Ransoem: Warisan Kota Tambang Legendaris Sawahlunto

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Museum Goedang Ransoem

    Photo Courtesy by http://sawahluntomuseum.wordpress.com
  2. Museum Goedang Ransoem

    Photo Courtesy by http://sawahluntomuseum.wordpress.com
  3. Museum Goedang Ransoem

  4. Museum Goedang Ransoem

    Photo Courtesy by http://sawahluntomuseum.wordpress.com

 

Tinjauan

WH de Greeve, seorang ahli geologi Belanda sekaligus ‘Sang Penemu’ batubara di Sawahlunto tahun 1868 memperkirakan ada lebih dari 200 juta ton kandungan mutiara mitam atau batubara di Sawahlunto. Inilah yang memicu Pemerintah Hindia Belanda berikutnya menanamkan modal sekira 5,5 juta Golden untuk membangun pemukiman dan fasilitas penambangan Ombilin. Berikutnya dibangunlah jalur kere

WH de Greeve, seorang ahli geologi Belanda sekaligus ‘Sang Penemu’ batubara di Sawahlunto tahun 1868 memperkirakan ada lebih dari 200 juta ton kandungan mutiara mitam atau batubara di Sawahlunto. Inilah yang memicu Pemerintah Hindia Belanda berikutnya menanamkan modal sekira 5,5 juta Golden untuk membangun pemukiman dan fasilitas penambangan Ombilin. Berikutnya dibangunlah jalur kereta api Sawahlunto ke Teluk Bayur di Kota Padang (baca: saat itu bernama Emma Haven) dan juga didatangkan peralatan penambangan langsung dari Jerman.

Museum ini berbeda dengan museum umumnya yang ada di Indonesia. Apa bedanya? Ayo temukan cerita menariknya.

“Memahami masa silam untuk menata masa depan”. Itulah sebuah tulisan sarat makna terpampang tepat di samping pintu masuk Museum Goedang Ransoem. Tulisan tersebut seakan menjadi awal dibukanya pengetahuan baru bagi Anda saat berkunjung ke tempat luar biasa ini.

Museum Goedang Ransoem berlokasi di Jalan Abdul Rahman Hakim, Kelurahan Air Dingin, Sawahlunto, Sumatera Barat. Kota Sawahlunto dulunya tersohor sebagai penghasil batu bara terbesar di Nusantara. Dari kota inilah Pemerintah Hindia Belanda meraup keuntungan amat besar sebagai sebuah eksekusi nyata dari ‘penjajahan’. Akan ada kesan dan pengalaman berharga dari Sawahlunto bagi Indonesia untuk anak cucu di masa akan datang.

Museum Goedang Ransoem sendiri menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pertambangan di Sawahlunto. Koleksi museumnya berjumlah 150 buah, itu belum termasuk koleksi foto lama yang berjumlah lebih dari 250 buah.

Untuk melihat peralatan dapur mungkin hal biasa tetapi bagaimana bila Anda melihat koleksi peralatan dapur yang berukuran raksasa? Nah, Anda dapat melihatnya di Museum Goedang Ransoem.

Awalnya gedung Museum Goedang Ransoem adalah kawasan dapur umum bagi pekerja tambang yang dibangun tahun 1981. Tempat ini memiliki dua buah gudang besar dan tungku pembakaran (steam generator). Tempat ini mempekerjakan sekira 100 orang karyawan dan setiap harinya memasak lebih dari 65 pikul nasi atau setara 3900 kilogram nasi untuk pekerja tambang batubara (orang rantai), keluarga pekerja tambang (orang kawalan), dan pasien rumah sakit.

Menu makanannya saat itu adalah nasi, daging, ikan asin, telur asin, sawi putih dan hijau, serta kol. Makanan tersebut diberikan pada siang dan malam hari. Untuk sarapannya pukul 10 pagi berupa lapek-lapek, dibuat dari beras ketan merah dibubuhi kelapa serta gula merah dan dibungkus daun pisang. Untuk minumannya adalah teh. Pada masa saat itu, menu makanan tersebut terbilang cukup baik mengingat Pemerintah Hindia Belanda berkepentingan agar pekerja tambang (pekerja kontrak dan pekerja paksa orang rantai) dapat produktif sehingga menghasilkan keuntungan besar untuk pemerintah. Saat ini Anda dapat melihat replika bentuk makanan tersebut di museum ini.

Bahan bakar memasaknya saat itu menggunakan sistem uap dimana tepat di bawah ruang masak terdapat ruang bawah tanah dengan pipa cerobong yang mengalirkan uap panas untuk 20 tungku. Uap panas ini berasal dari air panas yang direbus dengan menggunakan boiler di atas perbukitan yang dialirkan uapnya ke dapur.

Gedung Museum Goedang Ransoem sempat menjadi tempat aktivitas memasak untuk tentara dalam skala besar pada masa Pendudukan Jepang hingga Agresi Belanda II. Di masa revolusi kemerdekaan, kawasan ini digunakan sebagai tempat memasak makanan tentara (TKRI). Beriktunya setelah kemerdekaan sempat digunakan kantor Perusahaan Tambang Batubara Ombilin, gedung SMP Ombilin (1960-1970), hunian karyawan Tambang Batubara Ombilin (sampai 1980), dan juga hunian masyarakat setempat hingga 2004. Berikutnya pada 2005 kawasan ini  dikonservasi dan ditata pemerintah Kota Sawahlunto untuk acara permuseuman hingga 17 Desember 2005 dibuka resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla.

Museum Goedang Ransoem pernah menjadi lokasi penyelenggaraan SIMFest (Sawahlunto International Music Festival), yaitu pagelaran musik etnik internasional dari lima benua.

Harga tiket masuk museum ini adalah Rp4.000,- untuk dewasa, dan  Rp2.000,- untuk anak-anak. Jam aktif kunjungan museum ini adalah pada Selasa hingga Jumat 07.30-16.30, serta  Sabtu dan Minggu 09.00-16.00.

 

Museum Goedang Ransoem

Jl. Abdul Rahman Hakim, Sawahlunto, Sumatera Barat

Telp. 0754-61985

Website:

http://sawahluntomuseum.wordpress.com/

Tampilkan Lebih

Lihat dalam Peta

Akomodasi

Meski Kota Sawahlunto bukanlah kota besar tetapi cukup lengkap fasilitasnya. Jalanan yang berkelok-kelok dan berbukit menyajikan pemandangan berbagai sudut kota yang menarik. Temukan penginapan di kota ini yang dapat Anda pilih sesuai kebutuhan.

Hotel Parai City Garden
Jl. Bagindo Azischan Sawahlunto
Telp. +62 754 - 62 888
Sms : +62 821 7114 9888
Hotel ini diresmikan pada 3 Maret 2011, memiliki 40 ka





Meski Kota Sawahlunto bukanlah kota besar tetapi cukup lengkap fasilitasnya. Jalanan yang berkelok-kelok dan berbukit menyajikan pemandangan berbagai sudut kota yang menarik. Temukan penginapan di kota ini yang dapat Anda pilih sesuai kebutuhan.

Hotel Parai City Garden
Jl. Bagindo Azischan Sawahlunto
Telp. +62 754 - 62 888
Sms : +62 821 7114 9888
Hotel ini diresmikan pada 3 Maret 2011, memiliki 40 kamar yang terdiri dari suite 1 kamar, deluxe 27 kamar, dan standard 12 kamar. Harga kamarnya mulai dari Rp600.000,- hingga Rp300.000,-.

Hotel Ombilin Heritage
Jl. M. Yamin Pasar Remaja Kecamatan Lembah Segar
Kota Sawahlunto.
Telp. 0754-61184
Fax. 075461814

Wisma I Pemko Sawahlunto
Jl. Bagindo Azis Chan, Kecamatan Lembah Segar Kota Sawahlunto
Telp. 0754-61702.
Hubungi: Lilik Winanto (081363488304)

Mess V
Jl. Soekarno-Hatta Lubang Panjang
Kecamatan Barangin
Kota Sawahlunto

Wisma Mutiara
Jl. Prof. M. Yamin, SH Talawi, Kota Sawahlunto
Telp. (0754) 410061

Mess Arga (Pemko Sawahlunto)
Jl. Abdul Rahman Saringan Kec. Barangin Kota Sawahlunto.
Telp. 0754-62017

Hotel Laura
Jl. Ahmad Yani No.210.
Telp. 0754-61214

Tampilkan Lebih

Tips

Kota Sawahlunto cukup panas karenanya saat siang hari lebih nyaman Anda kenakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat.

Kota ini dihuni masyarakat dari berbagai etnis di Indonesia namun kesamaannya adalah mereka sangat ramah pada pengunjung. Jadi pastikan Anda menyempatkan berbincang dengan mereka tentang hal menarik dari kota tambang berbudaya ini.

Kota Sawahlunto cukup panas karenanya saat siang hari lebih nyaman Anda kenakan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat.

Kota ini dihuni masyarakat dari berbagai etnis di Indonesia namun kesamaannya adalah mereka sangat ramah pada pengunjung. Jadi pastikan Anda menyempatkan berbincang dengan mereka tentang hal menarik dari kota tambang berbudaya ini.

Berbelanja

Di museum ini Anda bisa dapat membeli ukiran dan berbagai cenderamata yang dibuat dari batu bara dengan harga terjangkau. Apabila Anda tertarik membeli oleh-oleh berupa buku tentang sejarah Sawahlunto mengapa tidak!

Di museum ini Anda bisa dapat membeli ukiran dan berbagai cenderamata yang dibuat dari batu bara dengan harga terjangkau. Apabila Anda tertarik membeli oleh-oleh berupa buku tentang sejarah Sawahlunto mengapa tidak!

Berkeliling

Tak jauh dari Museum Gudang Ransum terdapat sebuah museum kereta api, tambang terbuka, dan lokasi Ombilin Mines Training College (OMTC ). Jangan lupa juga kunjungi Lubang Mbah Soero.

Tak jauh dari Museum Gudang Ransum terdapat sebuah museum kereta api, tambang terbuka, dan lokasi Ombilin Mines Training College (OMTC ). Jangan lupa juga kunjungi Lubang Mbah Soero.

Transportasi

Museum Goedang Ransoem sekira 94 km atau 2 jam perjalanan dengan kendaraan dari Kota Padang, Sumatera Barat. Anda juga dapat menggunakan bus dari Terminal Air Pacah Padang atau menyewa mobil rental dengan tarif Rp250.000,- hingga Rp500.000,- per hari.

Apabila Anda datang bersama rombongan maka dapat menyewa bus yang disediakan Dinas Pariwisata Sawahlunto. Hubungi pihak tersebut sebelumnya.

Dinas

Museum Goedang Ransoem sekira 94 km atau 2 jam perjalanan dengan kendaraan dari Kota Padang, Sumatera Barat. Anda juga dapat menggunakan bus dari Terminal Air Pacah Padang atau menyewa mobil rental dengan tarif Rp250.000,- hingga Rp500.000,- per hari.

Apabila Anda datang bersama rombongan maka dapat menyewa bus yang disediakan Dinas Pariwisata Sawahlunto. Hubungi pihak tersebut sebelumnya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto
Jl. Kebun Jati No.1 Kel. Saringan Kec. Barangin,
Kota Sawahlunto, Sumatera Barat
Telp: (0754) 61032
Fax: (0754) 61348
Email: informasi@sawahlunto-tourism.com

Tampilkan Lebih

Kuliner

Sebelum sampai di Kota Sawahlunto sempatkan makan di Restoran Dendeng Batokok yang lokasinya tidak jauh dari Pertigaan Sawahlunto. Dendeng batokok merupakan lauk sebagai teman makan nasi pada umumnya. Dendeng batokok menjadi makanan khas Sawahlunto dimana terbuat dari daging hewan sapi atau kerbau. Dendeng batokok mempunyai rasa yang khas tersendiri yang berbeda dari dendeng umumnya.

Kerupuk kuba

Sebelum sampai di Kota Sawahlunto sempatkan makan di Restoran Dendeng Batokok yang lokasinya tidak jauh dari Pertigaan Sawahlunto. Dendeng batokok merupakan lauk sebagai teman makan nasi pada umumnya. Dendeng batokok menjadi makanan khas Sawahlunto dimana terbuat dari daging hewan sapi atau kerbau. Dendeng batokok mempunyai rasa yang khas tersendiri yang berbeda dari dendeng umumnya.

Kerupuk kubang produksi dari Kubang di Sawahlunto sudah terkenal sejak lama. Makanan ini berupa tempe yang djadikan kerupuk dan dapat menjadi oleh-oleh dari Sawahlunto.

Di sepanjang jalan sekitar Muaro Kalaban dan Silungkang pada sore hingga sepanjang malamnya ada sajian penjual kuliner berupa sajian sop dan soto khas Sawahlunto.

Tampilkan Lebih

Kegiatan

Gudang Ransum awalnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan orang rantai, orang kawalan, dan pasien rumah sakit. Orang rantai sendiri adalah sebutan bagi tahanan Belanda yang dijadikan pekerja paksa dan datang dari berbagai wilayah di Nusantara untuk menjadi pekerja paksa tambang batu bara. Mengingat jumlahnya mencapai ribuan maka dibutuhkan ransum dalam jumlah besar dan juga gudang makan

Gudang Ransum awalnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan orang rantai, orang kawalan, dan pasien rumah sakit. Orang rantai sendiri adalah sebutan bagi tahanan Belanda yang dijadikan pekerja paksa dan datang dari berbagai wilayah di Nusantara untuk menjadi pekerja paksa tambang batu bara. Mengingat jumlahnya mencapai ribuan maka dibutuhkan ransum dalam jumlah besar dan juga gudang makanan beserta peralatan dapurnya yang serba besar pula.

Berkelilinglah mengunjungi bangunan utama berupa dapur umum untuk memasak. Ada juga beberapa bangunan lain di tempat ini, yaitu:  gudang persediaan bahan mentah dan padi, tungku pembakaran buatan Jerman tahun 1894, menara cerobong asap, pabrik es batangan, klinik kesehatan, kantor koperasi, penggilingan padi (heuler), rumah kepala ransum,  rumah karyawan, pos penjaga, serta rumah jagal hewan dan rumah kepala potong hewan.

Di lorong museum berisi sejarah dapur umum dan bangunan-bangunan penunjang dapur umum. Manfaatkan juga waktu Anda untuk melihat video dokumentasi sejarah pertambangan batubara di Sawahlunto di Ruang Audio Visual yang nyaman museum ini. Amati pula beragam foto ‘orang rantai’ dan kegiatannya di masa lalu.

Di museum seluas 2.300 meter persegi ini dapat Anda temukan berbagai koleksi peralatan untuk memasak, seperti tungku pembakaran setinggi 4 meter, sejumlah periuk berdiameter 132 cm dengan tinggi 62 cm, kuali, rangsang, dan aneka peralatan dapur umum berukuran raksasa. Ada juga pakaian mandor, pakaian pekerja dan koki.

Anda tentunya dapat melihat pula perlengkapan tambang batubara, baik yang modern ketika itu maupun yang tradisional, termasuk contoh batubara yang ditambang di Sawahlunto.

Museum Goedang Ramsoem memiliki beberapa bagunan utama dan pendukungnya berikut ini.

Bangunan Utama, sebagai ruangan pameran utama museum yang memamerkan benda koleksi peralatan dan perlengkapan dapur umum dari masa lalu.

Tungku Pembakaran, atau steam generator adalah sumber energi uap panas untuk memasak yang disalurkan melalui pipa bawah tanah. Tungku pembakaran tersebut dibuat di Jerman tahun 1894 yang diproduksi Rohrendampfkesselfabrik.

Kompresor, memiliki panjang 2 meter dengan diameter 86 cm, berfungsi sebagai penyalur energi uap panas dari steam generator ke tungku masak. Dibuat tahun 1894 buatan Jerman sama seperti tungku pembakaran.

Periuk nasi, adalah pemasak beras dan sayur berdiameter mencapai 132 cm, badan periuk setinggi 62 cm dengan tebal 1,2 cm. Periuk raksasa ini terdiri dari empat bagian, yaitu: lapisan luar periuk, periuk bagian dalam terbuat dari nikel, langsang juga terbuat dari nikel, dan tutupnya.

Rumah Jagal, adalah rumah potong hewan untuk memenuhi kebutuhan makanan.

Wajan besi berbentuk lengkung dengan berukuran 165 cm sampai 190 cm, digunakan sebagai penggorengan. Sendok penggorengannya sendiri memiliki panjang 91,5 cm. Wajan ini tidak memiliki pegangan seperti umumnya kuali.

Lihatlah sebuah periuk raksasa terbuat dari besi dan nikel di sini memiliki diameter 132 cm dan tinggi 62 cm. Lesung injak dari kayu dipahat hingga membentuk cekungan. Orang menumbuk gabah, rempah dan obat-obatan tradisional, hanya dengan menggunakan kaki dan berat badan untuk menggerakkan alu, sementara lesung terpasang pada sebuah kayunya berukuran besar.

Temukan dan amati juga sebuah cerobong beton menjulang tepat berada di belakang bangunan mesin uap di museum ini. Bayangkan bagaimana aktivitasnya tempo dulu saat asap mengepul keluar dari cerobong tersebut dan para pekerja lalu lalang di sekitarnya terantai kakinya.

Tampilkan Lebih

Aktivitas Terkait

Bangunan Bersejarah

Bangunan Bersejarah Banyak keajaiban bangunan tua dunia dapat ditemukan di Indonesia. Mulai dari candi sampai puing-puing istana zaman dahulu kala, mulai dari sisa-sisa...

selengkapnya

Cari

Cari Hotel