Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Beranda » Jadwal Kegiatan » Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

23 Jul 2013 -  24 Jul 2013

 3506

http://www.indonesia.travel/public/media/images/upload/event/bromo20.jpg

 

Pada 23 - 24 Juli 2013 Gunung Bromo akan dihiasi atraksi budaya menarik yaitu Yadnya Kasada. Acara tersebut dihelat oleh masyarakat adat suku Tengger yang diselenggarakan setiap hari ke-14 bulan Kasada (penanggalan Hindu) sehingga sering pula ritual ini popular dikenal sebagai Kesedo. Kunjungan Anda ke Bromo akan sempurna apabila menyaksikan acara adat yang meriah ini.

Yadnya Kasada dihelat masyarakat Tengger karena mereka merupakan keturunan Pangeran Joko Seger dari Kerajaan Majapahit. Saat Majapahit mengalami kemunduran, sang pangeran dan pengikutnya mengungsi ke Gunung Bromo. Meskipun mayoritas orang Jawa memeluk Islam namun masyarakat suku Tengger masih setia memeluk kepercayaan kuno dengan menyembah Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), dewa Trimurti, Siwa, Brahma dan Wisnu, dengan unsur-unsur tambahan Animisme dan Buddhisme Mahayana.

Legenda setempat menyatakan bahwa setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Roro Anteng dan Joko Seger tidak kunjung dikaruniai anak. Kemudian mereka memutuskan untuk bersemedi di puncak Gunung Bromo dengan harapkan dikaruniai anak. Dewa pun akan memberikan 24 anak namun dengan satu syarat bahwa anak ke-25 harus dijadikan korban dengan cara dijatuhkan ke dalam kawah Gunung Bromo. Syarat tersebut disetujui Roro Anteng dan Joko Seger dan dari cerita inilah tradisi Yadnya Kasada berasal. Tradisi persembahan berikutnya bukan lagi manusia namun digantikan dengan ayam, kambing dan sayuran.

Ketika Yadnya Kasada digelar, orang-orang akan melakukan pendakian ke puncak gunung. Mereka berdoa bersama sembari melemparkan sesaji ke kawah Gunung Bromo berupa sayuran, buah, ternak, bunga, dan bahkan uang. Persembahan ini merupakan bentuk rasa syukur atas kelimpahan hasil pertanian dan peternakan yang diberikan kepada masyarakat suku Tengger. Meskipun berbahaya, beberapa warga rela turun ke kawah untuk mengambil barang yang dikorbankan. Mereka percaya bahwa persembahan tersebut akan membawa keberuntungan.

 

Related Articles

 

Berikan Komentar Anda