Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Ayo Lindungi Hutan dan Orangutan

Ayo Lindungi Hutan dan Orangutan

Ditulis 28 Sep 2013 pukul 19:56 | Dilihat: 779

Ayo Lindungi Hutan dan Orangutan

Sebagai tujuan wisata minat khusus, Tanjung Puting sanggup memberi pengalaman personal dan original. Di sinilah Anda dapat melihat dan berinteraksi dengan kera raksasa itu di habitat yang terbesar di muka Bumi dengan cara yang paling natural.

 

Kalimantan atau nama lainnya Borneo didiami tiga negara, yaitu: Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Untuk melindungi keanekaragaman hayati di pulau ini sejak 2007, tiga negara sepakat untuk mengonservasi hutan hujan seluas 220.000 km2 atau hampir sepertiga luas Pulau Borneo.

 

Upaya tersebut dilakukan melalui jejaring kawasan lindung dan lahan yang dikelola secara berkelanjutan. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberi manfaat bagi kehidupan liar, meningkatkan keamanan pangan dan air, serta mempertahankan budaya masyarakat lokal di Borneo.  Lebih penting lagi adalah demi melindungi hutan Borneo dari ancaman deforestasi, kekeringan dan kebakaran hutan.

 

Saat ini keberadaan orangutan di luar Taman Nasional terus terancam karena penebangan ilegal, perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan besar, pertambangan, atau karena hutan yang diambil kayunya secara terus-menerus. Kerusakan hutan akan berdampak pada sempitnya hutan itu sendiri dan berkurangnya tempat hidup bagi orangutan dan hewan liar lainnya.

 Tanjung Puting Gelar International Ecotourism Business Forum (IEBF)

Di samping itu, orangutan juga terancam perburuan untuk dijadikan binatang peliharaan.  Prof. Birute memaparkan bahwa memelihara orangutan akan sangat membahayakan manusia dan orangutan karena  kesamaan DNA hingga 97% membuat kemungkinan tertularnya penyakit dari keduanya secara bersilang sangatlah besar sekali.

 

Di Taman Nasional Tanjung Puting saat ini setidaknya ada sekira 6.000 hingga 9.000 orangutan. Jumlah tersebut adalah pertahanan terbaik dari perjuangan Prof. Birute dan pihak yang peduli selama lebih dari 40 tahun untuk melindungi Tanjung Puting dan orangutan dari deforesasi hutan  di Kalimantan.

 

Di Camp Leakey, sebuah pusat riset orangutan tertua di dunia dapat Anda saksikan begitu banyak orangutan bergelantungan dengan cepat berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Sesekali mereka berjalan di atas tanah seakan tidak perduli dengan kehadiran wisatawan. Pastinya juga Anda akan merdengar laungan keras nan panjang membahana hingga 3 menit lamanya sebagai pengumuman dari sesosok pejantan orangutan yang ingin menunjukan sebatas mana kekuasaannya.

 

Saat ini jumlah orangutan terbesar di muka Bumi hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Tanjung Puting dengan Camp Leakey sebagai pusat risetnya. Jenis orangutan di Kalimantan (Pongo pygmaeus) memiliki keunikan dibanding dengan yang ada di Sumatera (Pongo abelii). Menurut Prof. Birute Mary Galdikas, bahwa orangutan di Kalimantan khususnya di Tanjung Puting hidup secara soliter (sendiri-sendiri) dan tidak berkelompok seperti di Sumatera.

 

Keberadaan orangutan di Kalimantan dan Sumatera dilindungi oleh Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, orangutan juga digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Meski demikian, tanggung jawab melindungi hutan dan orangutan bukan hanya pada beban pemerintah dan organisasi lingkungan hidup. Hutan dan orangutan harus dilindungi secara kompak oleh siapapun karena bagaimana pun keduanya berperan demi keberlangsungan hidup manusia dan keanekaragaman hayati di masa akan datang. (him/Indonesia.travel)

 

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda