Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Festival Debus Banten 2014: Melihat Atraksi Kekebalan Tubuh dan Seni Budaya Banten

Festival Debus Banten 2014: Melihat Atraksi Kekebalan Tubuh dan Seni Budaya Banten

Ditulis 20 Apr 2014 pukul 10:52 | Dilihat: 1632

Festival Debus Banten 2014: Melihat Atraksi Kekebalan Tubuh dan Seni Budaya Banten

Sebagai warisan budaya daerah dan untuk mempromosikan pariwisata Banten, Dinas Budaya dan Pariwisata Banten menggelar Festival Debus Banten 2014. Rangkaian kegiatan festivalnya akan berlangsung pada minggu pertama dan kedua bulan Juni dengan puncak acara pada 21 Juni 2014 bertempat di Pantai Anyer.

 

Festival Debus Banten 2014 menyajikan seni pertunjukan debus diiringi rampak bedug yang diupayakan masuk rekor MURI. Atraksi pawai tersebut akan berlangsung dari Pasar Anyer menuju Titik Nol Mercusuar. Festival ini diharapkan mampu mendorong dan mempercepat perkembangan pariwisata Banten. Rencananya ke depan festival ini akan dijadikan agenda tahunan pariwisata Provinsi Banten.

 

Sebagai kegiatan tambahan dalam rangkaian Festival Debus Banten 2014 ini akan ada ada pula acara Visit Mercusuar Banten, Tour de Banten, pesta rakyat, dan seminar terkait sejarah dan budaya Banten. Selama acara berlangsung juga akan ada pameran makanan khas Banten dan hiburan rakyat.

 

Banten kaya dengan berbagai potensi wisata serta keragaman seni dan budaya, salah satunya yang menjadi ikon adalah pertunjukan debus dan rampak bedug. Debus sendiri merupakan festival yang rutin digelar secara turun-temurun sejak abad ke-16 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570) dan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692). Saat itu debus menjadi alat semangat juang rakyat Banten untuk melawan penjajahan.

 

Debus merupakan perpaduan keterampilan magis tradisional, seni musik, tarian, dan ilmu bela diri. Atraksi ini mempertontonkan kemampuan kekebalan tubuh dari pelakunya (jawara) yang bagi sebagian orang akan tampak menakutkan. Atraksi kekebalan tubuh tersebut diantaranya adalah: menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus, berguling di atas serpihan kaca atau beling, membakar tubuh dengan api, mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok, menyiram tubuh dengan air keras, memakan arang kayu api, menginjak paku atau bara api menyala, dan lainnya. Anehnya tubuh mereka tidak bersimbah darah ataupun  terluka dan merasakan sakit.

 

Debus sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘dablus’ yang bermakna ‘tongkat besi berujung runcing berhulu bundar’. Meski atraksi kekebalan tubuh serupa debus ada banyak di Nusantara seperti di Singkawang, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Barat namun dari semua itu yang paling terkenal adalah debus dari Banten. Sekarang ini debus di Banten lebih banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.

Photo Courtesy http://prayudhanurdiansyah.wordpress.com/

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda