Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
20 Maret 2012

Ditulis oleh
Edwin Syahrizal

Kategori :
Berpetualang - Mendaki Gunung, Trekking,

6 Komentar

Memandang Alam dengan Pengertian

Posted on : 20 Maret 2012
Categories : Berpetualang - Mendaki Gunung, Trekking,

Beranjak dari Kota Bandung sekitar 2,5 jam berkendara akhirnya sampai di Kota Wanaraja Garut berbekal perlengkapan seadanya serta tak lupa keperluan obat-obatan. Pada kesempatan kali ini penulis berpetualang bersama komunitas Geotrek Indonesia yang berencana ingin mengulas misteri dan rasa penasaran adanya “Piramida” di Indonesia khususnya di Kota Wanaraja, Garut.

Gunung Sadahurip menyita perhatian masyarakat belakangan ini, tidak akan begitu bila tak ada kontroversi atasnya. Gunung berbentuk Piramida dikaki lereng Gunung Talagabodas, Kabupaten Garut ini menjadi perdebatan dua kelompok pemikiran. Kelompok pertama mencurigai adanya sebuah Piramida seperti di Mesir, yang dibangun pada masa yang jauh Zaman Prasejarah Indonesia.Kini lokasinya tertutup tanah atau batuan Vulkanik. Kelompok kedua berpendapat bahwa itu adalah gunung api seperti yang lain

Tentu masyarakat punya keberpihakan kepada salah satu kelompok pemikiran ini, baik dia tahu masalahnya secara mendalam maupun tidak. Terdapat perbedaangaya berfikir dan meneliti antara kedua kelompok ini yang patut diamati sebagai dasar penilaian kita.

Kelompok pertama, sebut saja Kelompok pro Piramida Sadahurip, melakukan penelitian cukup intensif membentuk kelompok para peneliti dengan sejumlah dana melalui berbagai metode penelitian. Kelompok kedua, sebut saja Kelompok pro Gunung Api Sadahurip, dimanaumunya dianut para ahli geologi dan menggunakanmainstream Geology. Berdasarkanpengetahuan geologi regional yang telah baku, para ahli geologi menganggap bahwa yang dilakukan kelompok pertama hanya membuang-buang tenaga, waktu dan uang sebab sudah jelas bahwa Sadahurip adalah suatu bagian gunungapi dan sama sekali bukan Piramida.

Mungkinkah di Indonesia ada Piramida ?

Jawaban singkat atas subjudul diatas adalah mungkin dan ada. Orang umumnya menganggap piramida adalah seperti Piramida adalah seperti yang ada di Mesir, bertebaran di tepi barat Sungai Nil, seperti: piramida Snefru, Khufu, Khafre, atau Mencaure di Kompleks Giza di sebelah selatan Kairo. Piramida Khufu atau Cheops adalah piramida terbesar dengan tinggi 146 meter yang dibangun pada 2550SM.

Akan tetapi, piramida yang sering muncul dalam pikiran kita itu umumnya adalah bentuk piramida dari pemerintahan Firaun. Piramida semacam itudisebut sebagai square pyramid karena mempunyai alas persegi empat (square) dengan empat dinding berbentuk segitiga yang dipuncaknya bertemu membentuk kemiringan dinding sekitar 52°. Piramida di Mesir megalami perubahan bentuk dari masa ke masa, variasi yang juga cukup dominan tetapi kurang dikenal adalah piramida berbentuk berundak-undak (step pyramid) misalnya Piramida-Piramida Djoser dan Maidum di sebelah selatan Kompleks Giza.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sejarah kebudayaan Indonesia mengenal bentuk bangunan prasejarah dan sejarah berciri piramida yang kita sebut “punden berundak“. Punden berundak adalah suatu variasi step pyramid. Contoh bangunan punden berundak dalam skala besar pada masa prasejarah adalah situs megalitik Gunung Padang di Cianjur yang diperkirakan merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara yang dibangun pada 1500 – 1000 SM.Contoh lain pada masa sejarah ada Candi Borobudur(832 – 850 M) di Jawa Tengah yang merupakan Candi Buddha terbesar di dunia. Tradisi piramida dalam bentuk step Pyramid bukan tradisi yang asing di Indonesia semua candid dan situs punden berundak lainnya dibangun dengan gaya pyramida.

Kontroversi Sadahurip: Dogma dalam Sains, Perdebatan dan Kebebasan Berfikir

Tanpa memihak kelompok berfikir yang pro maupun kontra bahwa Gunung Sadahurip merupakan bentuk piramida, keberadaan Sadahurip bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh suatu dogma dalam ilmu apapun, termasuk Geologi atau Geosains. Gunung sadahuriptidak sesederhana piramida di mesir, tidak juga sesederhana gunung-gunung api di sekitarnya yang bisa langsung disimpulkan tanpa perlu melakukan penelitian apapun bahwa itu piramida atau Gunung Api.

Kebenaran yang telah menjadi mutlak dan menutup semua pintu terhadap kemungkinan lain adalah sebuah dogma. Sains berkembang tidak melalui dogma, sebab ketika dogma mengemuka selesailah sains,sains berkembang melalui jalan perdebatan. Dari sejarah sains kita melihat bahwa apa yang telah dianggap benar dan telah menjadi teori, ternyata dapat gugur dikemudian hari sekalipun perubahan itu memakan waktu puluhan, ratusan bahkan lebih dari seribu tahun.

Maka menganggap bahwa Gunung Sadahurip adalah sebuah gunungapi dan tak mungkin yang lain adalah sebuah dogma, juga menganggapbahwa Gunung Sadahurip adalah sebuah piramida dan tak mungkin yang lain sebuah dogma yang sama-sama membahayakan sains. Jadi, biarlah kita melihat perdebatan berjalan, fakta tak akan berubah apapun yang difikirkan orang, metode penelitian bisa membantu tetapi juga bisa mengelabui, marilah kita berfikir dengan bebas tanpa belenggu dogmatisme.

Tak lepas akan pesona alam yang ada di sekitar Gunung Sadahurip, mata tertuju pada bongkahan batu yang menurut penduduk bernama Batu Rahong. Bongkahan batu tersebut menurut peneliti adalah bongkahan yang disengaja di tambang oleh manusia zaman dahulu dan dibuat punden berundak berupa Gunung Sadahurip. Mengingat manusia pada zaman dahulu sebelum menganut agama Tauhid mempunyai kepercayaan menyembah gunung dam dewa, dugaan ini muncul karena letak Gunung Sadahurip sangat simetris berada di tengah antara Gunung yang mengitari kota Garut.

Tulisan ini rangkuman dari bahan penjelasan dan perjalanan penulis dengan geotrek Indonesia bersama Awang Harun Satyana ( Geologist BPMIGAS, Interpreter Goetrek Indonesia ).

Awang Harun Satyana sedang memberikan kuliah ilmu Geologi

(foto Oleh Edwin’s dan Yandi Dephol)

Tag : -

 

TULIS KOMENTAR