Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
15 Mei 2012

Ditulis oleh
Dewaruci

Kategori :
Lain-lain

0 Komentar

Mandi Khatulistiwa 74 Kadet KRI Dewaruci

Posted on : 15 Mei 2012
Categories : Lain-lain

Pada Minggu (13/5) dini hari, KRI Dewaruci melaju dengan kecepatan 5 knot dari Savannah menuju New York, Amerika Serikat. Setelah azan subuh berkumandang dari anjungan kapal, suasana di geladak J (tengah) KRI Dewaruci terlihat beda dari hari-hari sebelumnya. Anak Buah Kapal (ABK) membasahi lantai yang terbuat dari kayu di sepanjang lorong dengan air laut. Tiap sudut kapal telah diikat kain agar tidak membahayakan ketika dibuat merayap ataupun jalan jongkok. Lorong sempit sekira 2 meter tersebut harus dilalui dengan merayap melewati kamar tidur perwira, lounge room kadet, kamar mandi bintara-tamtama, kamar mandi kadet, lounge room bintara-tamtama, dan dapur.

Sebanyak 74 orang kadet yang terdiri dari tiga korp yaitu korp pelaut, suplai dan marinir sudah berada di KRI Dewaruci. Berikutnya akan ada juga korp teknik dan elektro yang onboard nanti saat sandar di New York akhir Mei 2012.

Para kadet yang sedang melaksanakan pelatihan Kartika Jala Krida (KJK) tahun 2012 dikomandani oleh Komandan Latihan (Danlat) Letkol Laut (P) Baharudin Anwar, S.T.. Hari itu mereka melakukan ‘ritual pembabtisan’. Satu per satu kadet keluar dari tempat tidurnya, naik tangga menuju geladak J yang telah berdiri para ABK, kemudian diperintah untuk merayap di lantai kapal yang telah dibasahi dengan air laut.

Mereka merayap mengelilingi lorong geladak tengah sambil disiram air laut melalui selang pompa atau di guyur dengan ember. Para kadet yang hanya mengenakan celana dalam itu setelah mengelilingi geladak J diperintahkan untuk naik ke geladak H, untuk melanjutkan merayap mengelilingi geladak atas. Guyuran air laut melalui dua selang pompa membuat para kadet kedinginan.

Suasana masih gelap tetapi mereka tetap harus melanjutkan naik tiang bima (tiang paling depan) secara bergantian sambil mengambil nama babtis yang berada diatas tiang, nama babtis tersebut telah disiapkan dan wajib dihafal oleh setiap kadet. Setelah mengambil nama babtis yang ditulis di kain, diikat di dada masing-masing lalu duduk di geladak sambil terus disiram air laut.

Setelah semuanya mengambil nama babtis, datanglah Bima, sosok yang diambil dari pewayangan yang diperankan oleh Kopda Ttb Martukko Simatupang dengan gagah didampingi tiga orang punggawa menemui Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto. Bima menanyakan kehadiran 74 orang kadet tersebut kepada komandan dan harus melakukan ritual pembabtisan sebagai keluarga besar KRI Dewaruci.

Komandan meminta kepada Bima agar para kadet bisa diterima lalu Bima bersedia menerima pelaut-pelaut tersebut setelah dimandikan dengan air laut, stempet, oli dan tak ketinggalan makan pil serta jamu KRI Dewaruci agar pelaut-pelaut yang masih dianggap ingusan itu tidak mudah mabuk laut, tidak cengeng, menjadi prajurit TNI AL yang tangguh, cerdas, tidak pantang menyerah, dan bisa menjadi pemimpin di masa mendatang.

Setelah semua ritual dijalani, para perwira kapal, ABK, dan kadet berfoto bersama di geladak H dilanjutkan dengan pembersihan sambil bersorak-sorak. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap KJK apabila tidak melewati garis Khatulistiwa sehingga dinamakan pembabtisan. Mandi Khatulistiwa dilaksanakan ketika melewati lintang nol derajat, hampir sama tetapi tokoh-tokohnya berbeda dan dilaksanakan malam dan pagi hari, dan sekarang ini hanya pagi hari saja.

Laporan Kapten Laut (KH) Sapto Budiarso m Indonesia Travel

Tag : -

 

TULIS KOMENTAR