Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
14 September 2012

Ditulis oleh
Rangga Yudhika

Kategori :
Lain-lain

0 Komentar

Bangkitkan Cinta Indonesia dengan Travelling, Nikmati Melancong di Negeri Sendiri

Posted on : 14 September 2012
Categories : Lain-lain

Melancong. Ya, rasanya ini jadi impian setiap orang untuk menginjakkan kakinya ke luar negeri. Akan tetapi, apa impian setiap orang juga untuk berwisata menikmati mutiara Indonesia? Barangkali belum tentu. Mungkin perumpamaan rumput tetangga lebih hijau itu benar teapi rumput tetangga yang lebih hijau itu belum tentu lebih baik, juga bisa benar adanya.

Ilustrasi tersebut tampaknya juga sangat pas jika dikaitkan dengan konsep cinta tanah air, terutama dalam merayakan #DirgahayuRI ke-67 ini. Bisa saja kita melihat negara tetangga lebih hijau alias lebih indah namun belum tentu negara itu lebih baik.

Keluarga Merah Putih

Beruntungnya saya berada dalam keluarga yang begitu membangun rasa kecintaan saya terhadap Indonesia. Topik mengenai wisata, olahraga, sosial budaya, politik, ekonomi, hingga lapangan pekerjaan senantiasa mengisi diskusi keluarga kami. Sederhananya, nuansa merah putih seperti membaur di dalamnya.

Begitu pula dengan mencari tempat jalan-jalan. Rasanya Ayah saya mungkin salah satu orang yang cukup langka. Coba saja ajak ayah saya jalan-jalan ke negara-negara terkenal, beliau pasti memilih untuk wisata di dalam negeri saja. Jawabannya pasti sederhana, "Indonesia masih punya begitu banyak tempat wisata yang belum dikunjungi."

Saat banyak keluarga melewatkan liburan Natal dengan wisata ke negara yang berisi gemerlapnya dekorasi salju, berkali-kali kami justru berwisata keliling pulau Jawa. Rombongantouringkeluarga besar kami bisa mencapai lima mobil. Puluhan tempat-tempat wisata di Pulau Jawa sudah kami kunjungi, dari mulai Gunung Salak, Katulampa, Bendungan Jatiluhur, Malingping, Baturaden, Pangandaran, Garut, Dieng, Ambarawa, Yogya, Bromo hingga mencapai Lombok. Selain berwisata, kami juga kami begitu menikmati wisata sosial, budaya, hingga sejarah kota.

Setiap merayakan tahun baru keluarga pun kami selalu mencari tempat baru yang unik dan memberikan pengetahuan menarik akan daerah tersebut. Tanpa jalan-jalan seperti ini kami tidak akan tahu betapa rapihnya kota Temanggung, menikmati indahnya pesisir pantai selatan Jawa hingga melihat proses bertelurnya penyu di Ujung Genteng. Memang begitu menakjubkannya alam Indonesia, tidak ada habis-habisnya destinasi wisata di bumi pertiwi ini.

Begitu hebatnya Ayah saya, beliau justru memberikan saya, @riandyyudhika dan @rayudhika dorongan untuk melakukanbackpackpertama kalinya ke luar negeri. Dengan bahasa Inggris yang masihbelepotan, kami belajar bagaimana melihat dunia baru diluar kehidupan sehari-hari. @rayudhika yang ketika itu belum genap 14 tahun pasti mendapat kesempatan berharga melihat gemerlapnya Singapura, majunya pariwisata Thailand, kentalnya sejarah Kamboja, hingga uniknya perpaduan budaya dan filosofi di Vietnam.

Sekarang, jangan tanyakan apa yang @rayudhika impikan. Berwisata keliling dunia jelas ada di impiannya tetapi menjelajahi Indonesia merupakan misinya. Sambil berpetualang ala backpacker, dia sudah berhasil mencapai dataran Sumba, bahkan Pulau Komodo.

Bekal Kecintaan Terhadap Negeri

Membangun negeri tidak selesai dalam satu malam, begitu pula untuk membangun kecintaan terhadap negeri. Diusia 67 tahun kita merayakan kemerdekaan republik ini. Begitu banyak generasi muda bangsa yang membuktikkan bahwa orang-orang muda ini bisa berkontribusi terhadap bangsa dibalik gelap dan carut marutnya panggung politik serta pemerintahan.

Waktu saya kecil, saya begitu menikmati tontonan lomba-lomba antar kampung seperti makan kerupuk, lomba gundu, hingga balap karung. Saat ini, di kota-kota besar khususnya, gairah DirgahayuRI terasa seperti lenyap.

Di satu sisi, sudah semakin banyak orang yang merasakan kecintaan terhadap negeri ini. Di sisi lain juga ada lebih banyak orang yang tidak merasa bangga atau bahkan tidak perlu merasa bangga dengan predikat negara pemegang paspor hijau ini.

Beruntung saya juga memiliki teman-teman yang "gila" akan Indonesia. Berbagai wisata dalam negeri dari mulai menaiki perahu nelayan ke pulau seribu, menjelajahi lawang sewu dan menginap ala turis di pulau Gili sudah kami jalani. Di kesempatan lainnya, saya, @rendyhartono, @stefansantoso dan @chayadikwok begitu terperangah ketika merasakan pengalaman menjelajahi Teluk Kiluan yang sangat terpencil namun begitu memukau. Begitu indah dan alaminya teluk yang konon memiliki komunitas lumba-lumba terbesar di asia ini.

Berbekal dari kecintaan danpassionkami akan travelling ini, kami sedang merumuskan satu kolaborasi kreatif untuk memberikan kesempatan lebih banyak orang untuk bisa menikmati #wisataIndonesia. @rayudhika bahkan sudah bisa menjadi pemimpin komunitasnya mengadakantripke Desa Sawarna, sebuah Paradise Indonesia yang masih belum terjamah.

Wisata Sebagai Rantai Ekonomi

Beberapa waktu lalu saya pernah membacablue printwisata domestik Indonesia yang diutarakan @sandiuno. Saya yakin konsep pariwisata yang beliau impikan akan membawa manfaat yang besar bagi wisata Indonesia dan juga pendapatan nasional. Jadi pahlawan devisa bukan saja wisatawan mancanegara, namun juga wisatawan domestik.

Ketika kita melakukan kegiatan wisata, pasti juga akan diikuti oleh perputaran rantai ekonomi. Pendapatan daerah akan bertambah karena banyaknya wisatawan yang berlibur, pembukaan lapangan pekerjaan, hingga bertumbuhnya UKM setempat. Roda ekonomi semakin berputar karena setiap wisatawan membutuhkan konsumsi makanan, akomodasi, transportasi, alat telekomunikasi, hiburan, hingga cenderamata

Karena pariwisata, sebuah kota, provinsi atau bahkan negara bisa menjadi begitu terkenal dan mendatangkan pendapatan nasional. Kepulauan Maladewa atau biasa disebut Maldives Island merupakan contohnya. Padahal jika kita membandingkan dengan geografis Pulau Seribu, menakjubkannya rumah apung di Karimun Jawa, atau juga mutiara terpendam seperti Desa Sawana dan Teluk Kiluan, percayalah, rasa cinta terhadap tanah air akan kembali bergelora seperti saat menonton tim Garuda di stadion GBK.

Rasanya, kecintaan terhadap konsumsi barang-barang import tidak terlepas dari begitu tingginya antusias warga Indonesia untuk melancong ke luar negeri. Lebih ironis lagi jika ternyata banyak dari kita tidak tertarik untuk berwisata di dalam negeri. Jika kecintaan terhadap negeri menurun, otomatis akan sejalan dengan memudarnya kecintaan terhadap produk dalam negeri.

Dalam candaan saya bersama dengan teman-teman traveller @AdiraFOI di #ramadhanGathering, tidak ada satu orang pun diantara kita yang tidak merasa bangga menjadi warga Indonesia. Wajah-wajah yang tampak pemalu sontak berubah menjadi penuh antusias dan gegap gempita ketika berdiskusi mengenai nasionalisme, objek wisata, dan kota-kota menarik di Indonesia. Sambil bercanda kita membuat kesimpulan prematur bahwa jika ada warga negara Indonesia yang belum mencintai negara ini, orang itu harus terlebih dahulu sejenak meluangkan waktu untuk berwisata di Indonesia, menikmati alam serta keindahan pesona Indonesia.

Tidak terhitung berapa kali bendera Indonesia berkumandang di puncak gunung ketika para pecinta alam berhasil mencapai titik tertinggi di gunung itu. Hal itu menunjukkan kebangaan pada atribut negara ini. Rasanya saya bisa membuat satu pendapat pribadi, semakin kita melakukantravellingdi Indonesia, akan semakin tinggi pula kecintaan pada negara ini.

Selalu percaya bahwa setiap orang bisa berkontribusi bagi negara ini, dalam bentuk apapun. Dengan hanya membuang sampah pada tempatnya, kita sudah berpartisipasi utk hal yg baik bagi negeri ini. Dengan hanya menyapa orang dengan senyuman, kita sedang berpartisipasi untuk suasana yang baik bagi negeri ini. Dengan berteman dengan berbagai golongan dan agama, kita sudah berpartisipasi dalam membuktikkan bahwa kita adalah negara bertoleransi.

Selesai menempuh studi, saya memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencoba berkontribusi bagi negara ini. Rasanya benar ucapan George Moore, “A man travels the world in search of what he needs and returns home to find it.”

Ketika kembali melihat kota Jakarta yang tampak semakin semrawut dari atas pesawat akhirnya saya hampir tiba di bandara Ibukota ini. Bukan tawa kebahagiaan, namun justru air mata yang tiba-tiba meluncur dari mata saya. Untuk pertama kalinya saya meneteskan air mata untuk negara ini. Kerinduan terhadap negeri menjadi sekaligus membantu saya menemukan arti nasionalisme,returns home to find it. Dengan travelling, kita bangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia. Dirgahayu Negeriku, Majulah Pariwisata Indonesia


@ranggayudhika

www.ranggayudhika.multiply.com

Travelling while u r still breathing

Tag : -

 

TULIS KOMENTAR