Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
8 Oktober 2012

Ditulis oleh
yasa sidik permana

Kategori :
Diving & Snorkeling

1 Komentar

EKSOTISME KARIMUN JAWA

Posted on : 8 Oktober 2012
Categories : Diving & Snorkeling

Liburan panjang menjadikan Karimunjawa tujuan wisata saya dan 15 teman saya. Kami berangkat sore hari dari Yogyakarta menggunakan bus ekonomi dengan tujuan Semarang seharga Rp 18.000,- dan dilanjutkan ke Jepara dengan bus ekonomi seharga Rp 10.000,-. Dikarenakan bus sudah melewati batas jam operasional maka kami diturunkan di alun-alun Jepara sehingga kami harus jalan kaki menuju pelabuhan Kartini. Dan itu cukup jauh! Sebab hari sudah malam dan besok pagi harus menyeberang maka kami istirahat di halaman sebuah cafe di Pelabuhan Kartini.

Keesokan harinya, kami menyeberang menggunakan Kapal Muria yang pada waktu itu seharga Rp28.000,- per orang dengan waktu tempuh 6 jam perjalanan laut. Teriknya Matahari membakar kulit di sepanjang perjalanan kami. Sesampainya di Karimunjawa, kami bergegas mencari homestay yang masih kosong karena kami tidak memakai tour guide dan tidak ikut paket yang ditawarkan agen. Akhirnya kami dapat homestay yang masih kosong didekat alun-alun.

Hari berikutnya, kami mulai beraktivitas. Kami menyewa kapal kecil kapasitas 20 orang seharga Rp400.000,- untuk satu hari perjalanan berkeliling menikmati indahnya pantai, laut, terumbu karang, dan penangkaran hiu. Tempat-tempat yang kami kunjungi pada hari ini adalah tempat-tempat yang biasa dikunjungi wisatawan pada umumnya, jadi setiap kita mengunjungi tempat-tempat tersebut pasti bertemu rombongan lain.

Hari Kedua yang Diluar Rencana

Memasuki hari kedua—tidak seperti wisatawan lain yang masih melakukan aktifitas sama seperti hari pertama namun dengan tujuan yang berbeda—kami berencana jalan-jalan melihat sisi lain dari pulau utama di Karimunjawa. Perjalanan kami lakukan setelah makan pagi. Perjalanan dimulai dari melewati pemukiman, sekolah, rumah-rumah penduduk, dll.Jalan aspal yang kami lalui semakin menanjak dan semakin jauh kami berjalan semakin renggang jarak antar rumah penduduk yang satu dan lainnya. Kondisi ini berbeda dengan keadaan di daerah alun-alun dan dermaga dimana rumah-rumah penduduknya saling berdekatan. Mata pencahariannya pun berbeda; mereka yang berada di daerah alun-alun dan dermaga mayoritas berprofesi sebagai nelayan, sedangkan yang tinggal di daerah yang kami jelajahi berprofesi sebagai petani.

Perjalanan kami lanjutkan hingga memasuki semak-semak yang cukup lebat, lalu memasuki daerah rawa dan berakhir dengan jalan buntu. Pada titik ini, perjalanan terpaksa dihentikan dan kami kembali ke homestay.

KKetika melakukan perjalanan kembali ke homestay, kami bertemu dan bertatatap muka dengan penduduk Karimunjawa. Sesekali, kami juga menyempatkan mengobrol santai dengan mereka. Mereka sangat ramah dan murah senyum kepada kami dan ada salah satu penduduk yang dengan baik hati menawarkan perjalanan mengelilingi pulau menggunakan mobil pick up dengan biaya Rp150.000,- (sudah termasuk bahan bakar). Kami yang pada hari itu tidak ada kegiatan lain pun dengan sangat senang hati menerima tawaran tersebut. Perjalanan menggunakan mobil pick up cukup menantang. Lintasan medan melewati tebing dan jurang ditambah dengan kondisi jalan yang penuh lubang sehingga kami harus selalu waspada.

Ditengah-tengah perjalanan, mobil pick up tiba-tiba berhenti. Ternyata ada ular edors, ular derik endemik pulau Karimunjawa yang cukup berbahaya. Kami dijelaskan sedikit tentang ular tersebut, mulai dari populasinya, habitatnya, dan makanan mereka.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami berhenti di salah satu kampung dan kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ruas jalan yang semakin mengecil membuatnya tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Setelah jalan kaki sekira 5 menit, akhirnya kami melihat pantai yang sangat indah dengan ratusan pohon kelapa, pasir putih, dan air laut yang jernih. Pantai ini masih asri dan jarang dikunjungi, hanya nelayan-nelayan yang lewat dan beberapa menepi dipantai ini. Sulit dibayangkan ini masih di pulau utama Karimunjawa, tempat kami menginap. Pulau ini ibarat tempat yang belum dijamah wisatawan lokal maupun asing, dan suatu keberuntungan bagi kami bisa menikmati keindahannya.

Ratusan pohon kelapa di pantai ini sungguh menggoda kami, dan kami diperbolehkan menikmati kelapa muda itu asal kami tidak mengotori pantai. Kami pun memanjat pohon kelapa dan karena tidak ada pisau maka kami menggunakan gigi untuk mengelupas kulit kelapa yang sangat keras dan tebal. Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan!

Matahari yang membakar kulit kami, angin yang bertiup cukup kencang dan dinginnya air laut membuat kami betah bermain di pantai hingga sore hari. Ketika sudah sore, kami kembali ke homestay, dan keesokan pagi kami pulang ke Yogyakarta.

oleh : yasu spade

Tag : Karimunjawa , Pesta Lomban: Tradisi Sedekah Laut Masyarakat Karimunjawa, Bermain Bersama Hiu dan Penyu di Taman Nasional Karimunjawa

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR