Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
8 Oktober 2012

Ditulis oleh
Arzia Halida Tivany

Kategori :
Mendaki Gunung, Trekking,

0 Komentar

Jangan Main-Main di Rinjani!

Posted on : 8 Oktober 2012
Categories : Mendaki Gunung, Trekking,

“Habis mendaki Rinjani, dik?” tanya seorang Bapak. “Iya pak lagi main ke Rinjani,” jawab saya. “Ssssttt… Jangan bilang sedang pergi main-main ke Rinjani, Gunung ini bukan tempat main-main… ini sakral!” ungkap seorang warga. Mungkin ini yang disebut komunikasi antarbudaya. Orang Sunda yang biasanya ingin berkata merendah, kena semprot orang Timur yang menganggap perkataan tersebut termasuk kategori menyepelekan. Ini masalah miskomunikasi saja. Namun, memang bagi masyarakat sekitar, Rinjani memang dianggap sakral, salah satu buktinya adalah upacara yang diadakan di tepi Danau Segara Anak. Waduh, hanya karena bermaksud merendah, saya kena marah.

Sebelum memasuki Desa Sembalun kami naik mobil bak menuju titik awal pendakian. Jalan yang berkelok, ditambah hembusan angin dingin membekap kulit, berhasil mengeringkan kelenjar keringat. Belum lagi kabut dan jalan yang licin sempat membuat kami naik-turun mobil untuk mendorongnya. Malam hari sebelum memulai perjalanan, kami bermalam di Sembalun, setelah menempuh perjalanan darat lebih dari 1000 km ke Timur. Seperti malam-malam biasanya di Sembalun, kami disuguhi jutaan gugus bintang, semacam bentuk apresiasi karena telah sampai di titik awal.

Treknya luar biasa dan tidak membosankan, apalagi bagi pendaki yang ingin menempuh jalur berbeda ketika berangkat dan pulang. Saat berangkat, kami menempuh jalur Sembalun, dan pulang melewati Senaru. Kedua jalur ini memiliki karakter trek yang berbeda, akan sangat menyesal bila tak mencoba keduanya.

Sembalun, lengkap dengan perbekalan untuk seminggu, jalur menuju 3726 mdpl itu kami sapa pukul 08.30 WITA. Pemandangan khas masyarakat Sasak yang membawa hasil panen dan juga perbekalan di sekitar kaki gunung memberi keakraban tersendiri bagi kami. Puncaknya terlihat begitu dekat. Dengan estimasi porter berkecepatan tinggi, basecamp di Plawangan Sembalun konon dapat ditempuh dalam waktu 8 jam. Namun bagi sebagian pendaki yang ingin bersantai, Plawangan dapat ditempuh hingga belasan jam, melewati tiga pos. Sembalun menyuguhkan variasi trek, mulai dari hamparan savanna yang panas membakar, jalan dengan bebatuan besar, jalur lahar, hingga jalan yang mendaki tajam.

Tiba di Plawangan Sembalun, tempat pendaki berkemah dan beristirahat, terlihat Danau Segara Anak sekira 500 meter di bawah kaki berpijak, Gunung Barujari di tengah danau, dan dari kejauhan tampak Gunung Agung di Pulau Bali. Dari Plawangan, semua tampak seperti pameran diorama yang apik.

Puncak dapat ditempuh dalam waktu sekira 4-5 jam, jalan menuju puncak lebih berpasir dan licin. Para pendaki biasanya memulai perjalanan sekitar pukul 02.00 WITA, sehingga matahari terbit menjadi latar yang menawan. Dari Plawangan Sembalun, kaki beranjak menuju Danau Segara Anak. Trek yang dilewati jauh lebih terjal, licin dan berbatu. Kadang jarak pandang sangat minim disebabkan kabut yang tebal. Perjalanan turun menuju Danau Segara Anak memakan waktu sekira 4-6 jam.

Suasana kemah sekitar Danau lebih hangat, wajah-wajah sumringah para penyerang puncak lebih semarak. Berendam di mata air panas, memancing, membakar ikan, atau sekedar berfoto di sekitar danau pun rasanya cukup untuk menghabiskan hari.

Bagi yang ingin pulang lewat jalur Senaru, mendaki ke Plawangan Senaru adalah syarat. Dalam perjalanan dari Danau Segara Anak menuju Plawangan Senaru, hutan, padang edelweiss, dan jalan kecil dengan bebatuan terjal dan jurang akan dilewati.

Dari Plawangan Senaru, menuju kaki Gunung, trek licin berpasir wajib diterjang. Memasuki kawasan hutan, sergapan akar dari pepohonan rindang sekitar perlu diwaspadai, trek ini dapat ditempuh dalam waktu 3-8 jam tergantung kecepatan. Akhirnya sebuah gapura bertuliskan “Taman Nasional Gunung Rinjani, Pintu Senaru” terlihat. Bagi kami, ini semacam kongratulasi.

Obat dan Nubuat

Satu hal yang tak akan pernah saya lupa dari Rinjani adalah daya pikatnya. Bagi sebagian orang hanyalah nama sebuah Gunung di Pulau Lombok, bagi sebagian lagi merupakan arena pertarungan dengan diri sendiri, dan selebihnya adalah arena penyembuhan diri. Ya, saya datang ke Rinjani bersama sahabat yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi. Akibat dari penyakit itu, bola mata kirinya bergeser dan harus melakukan pengobatan medis dan alternatif berulang kali. Sahabat saya ini merupakan anggota mahasiswa pecinta alam ketika masih kuliah dulu, kini ia merasa rutinitas kota menyita separuh asset inderanya. Ia pun terpaksa berjalan miring selama pendakian.

Sejujurnya, kami hanya percaya kepada Tuhan sang pencipta yang dapat menyembuhkan. Namun, kami tak menampik bahwa Tuhan memberikan kuasa atas segala kesembuhan lewat apapun yang diciptakannya, termasuk lewat alam! Mata air panas di kaldera Rinjani menjadi titik awal turunnya kuasa kesembuhan Tuhan kepada sahabat saya ini. “Memang tak ada obat yang lebih mujarab dari bersahabat dengan alam,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Dari Plawangan Senaru, menuju kaki Gunung, trek licin berpasir wajib diterjang. Memasuki kawasan hutan, sergapan akar dari pepohonan rindang sekitar perlu diwaspadai, trek ini dapat ditempuh dalam waktu 3-8 jam tergantung kecepatan. Akhirnya sebuah gapura bertuliskan “Taman Nasional Gunung Rinjani, Pintu Senaru” terlihat. Bagi kami, ini semacam kongratulasi.

Tag : Taman Nasional Gunung Rinjani, Gunung Barujari: Anak Gunung Rinjani yang Masih Aktif Membangun Diri

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR