Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
11 Oktober 2012

Ditulis oleh
Andreas Dwi Setiawan

Kategori :
Kuliner

0 Komentar

Rujak Bali Yang Terlupakan

Posted on : 11 Oktober 2012
Categories : Kuliner

Bali, sebuah destinasi wisata favorit jutaan orang. Tempat yang memang memiliki pesona luar biasa. Tidak hanya pemandangan alamnya yang menawan namun Bali juga menyuguhkan berbagai macam hiburan, suguhan budaya serta kuliner. Lawar, ayam betutu, babi guling, nasi campur, sate lilit atau pun ares adalah ragam kuliner khas Bali yang populer.

Bosan dengan kuliner Bali yang itu-itu saja? Nah, kalau begitu mungkin kamu perlu mencoba kuliner yang satu ini, rujak kuah pindang dan bulung. Menurut saya, kedua jenis makanan tersebut adalah kuliner yang terlupakan bagi para pelancong yang berkunjung ke Bali. Kepopulerannya jauh berada di bawah deretan makanan yang sebelumnya saya sebutkan.

Siang itu, selepas dari daerah Kuta, saya dan seorang travelmatemengarahkan motor ke arah Denpasar. Konon, di ibukota Provinsi Bali itu terdapat penjual rujak kuah pindang yang legendaris.

Jalanan beraspal itu mulai menyempit saat kami memasuki daerah Bukit Tunggal. Matahari Bali yang menyengat kulit pun dengan setianya mengiringi laju motor berlogo garpu tala kami. Celingak-celinguk mencari depot atau semacamnya yang bertuliskan “rujak kuah pindang” pun menjadi kegiatan yang menyusahkan. Tidak ada satu pun dari deretan bangunan di sepanjang jalan yang memampang tulisan tersebut.

Well, karena ingin mempersingkat waktu, saya pun menghentikan laju motor di sebuah rumah berarsitektur Bali. Tampak deretan motor terparkir di depannya. Saya pun kemudian bertanya kepada seorang tukang parkir setengah baya, “Pak, mau nanya, di daerah sini yang jual rujak kuah pindang sebelah mana ya?!” Bapak itupun sempat tersenyum, kemudian menjawab, “Disini, Mas...,” sambil menunjuk ke belakang tubuhnya. Sayapun tertawa. Ternyata bangunan tempat saya menghentikan motor itu adalah tempat yang saya cari-cari!

Rumah berlantai dua dengan gerbang bercorak Bali itu memang menjual rujak kuah pindang. Tidak ada tulisan apa pun di bagian luar. Saya baru menemui spanduk kecil bertuliskan “Warung Rujak Gelogor” di bagian dalam setelah memasuki gerbang. Lho, katanya rujak kuah pindang, tapi kok mampir di warung rujak gelogor! Kata si ibu penjual sih, gelogor hanya nama saja.

Saya melihat tumpukan berbagai macam buah-buahan di warung itu. Ada belimbing, jambu air, nanas, kedondong, mangga muda dan sebagainya. Di sebelahnya juga tak kalah tinggi susunan bahan-bahan pelengkap. Memang, warung ini sekilas nampak awut-awutan. Namun, itu bukanlah masalah bagi saya pribadi. Yang penting bisa mencicipi kuliner yang hanya ada di Bali ini.

Saat itu saya memesan dua porsi rujak kuah pindang, seporsi bulung dan dua teh botol beraroma melati.Tak lama menunggu, pesanan saya sudah tersaji di atas meja.Ngomong-ngomong, apa sih rujak kuah pindang itu sebenarnya? Rujak kuah pindang adalah rujak buah khas Bali. Komposisinya beraneka macam irisan buah-buahan. Saya menemui mangga muda, jambu air, bengkuang, nanas, ketimun dan kedondong. Semuanya diiris tipis dan disiram dengan kuah. Nah, kuah inilah yang istimewa. Kuahnya terbuat dari campuran garam, terasi, cabai dan air hasil rebusan ikan pindang! Hiiyaaa...apa nggakamistuh?!We’ll see...

Tampilan rujak kuah pindang ini bener-benercakep!Warna-warni dari buah berpadu dengan warna merah menyala dari kuah sangat menggugah selera. Dari tampilannya saja saya sudah merasakan kesegarannya. Begitu kuah dicicip, yang terasa adalah gurih dan manis bercampur menjadi paduan rasa yang serasi. Diakhiri dengan rasa sedikitpedasdi lidah.

Makanan ini sangat cocok dinikmati di siang yang terik seperti saat itu. Rasa asam mangga muda, kedondong, jambu air dan nanas dikombinasikan dengan segarnya mentimun, manisnya bengkuang ditambah pula dengan gurihnya kuah pindang menjadikan makanan ini kaya rasa. Tenang saja, bagi yang antipati di awal, kuahnya memang berasal dari rebusan ikan pindang namun rasa amis dari pindang tak terasa menyengat. Percaya deh...

Satu pesan saya, bagi yang taksukapedas,lebih baik bilang dari awal ke penjualnya. Saya yang belum pernah makan ini sebelumnya, memesan tanpa syarat apapun. Dan ternyata, kuah yang saya terima sangat pedas! Awalnya tidak terlalu terasa karena saya juga suka makanan pedas, tapi lama- kelamaan lidah terasa terbakar! Bibirpun terasa tebal dan keringat otomatis bercucuran. Sebotol teh dingin belum cukup untuk meredakan panas cabai.

Rujak kuah pindang berhasil masuk dalam list makanan favorit saya di Bali. Selanjutnya, masih tersaji seporsi bulung di hadapan. Sebelas-dua belas dengan rujak kuah pindang, bulung ini juga menggunakan kuah yang sama. Hanya saja, buah-buahan digantikan dengan rumput laut. Ya, komposisi bulung adalah dua jenis rumput laut (putih dan hijau), kedelai goreng, parutan kelapa dan disiram dengan kuah pindang. Rasanya, seperti makan rumput! Hahaha... Semuanya krenyes-krenyes dari rumput laut sampai butiran kedelai. Kalau makanan yang satu ini didominasi dengan rasa gurih.

Nah, sudah mengenal dua kuliner Bali yang lain bukan?! Jadi tidak ada salahnya, ketika kamu melintas di Denpasar, singgah ke Warung Rujang Gelogor ini. Sampai saat menulis ini dan melihat foto yang ada, air liur saya seolah tak terbendung. Haahaha... Salam kuliner! :-D

Tag : Tanah Lot, Pantai Kuta

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR