Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
11 Oktober 2012

Ditulis oleh
Bayu Adi Persada

Kategori :
Budaya - Desa Tradisional - Berjalan-jalan

0 Komentar

Perayaan Hidup Kedua

Posted on : 11 Oktober 2012
Categories : Budaya - Desa Tradisional - Berjalan-jalan

Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak, suara mereka memekik telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi. Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.

Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat diatasi. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Saya sampai di terminal bus Lita di Kota Makassar malam itu untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Sempat takjub melihat wujud bus yang terlampau eksklusif. Serius. Saya sudah siap menumpang bus apa saja tapi ketika kemudian bus yang tersedia terlampau nyaman, saya merasakan rentetan keberuntungan dimulai. Harganya pun cukup murah: Rp110.000,- untuk delapan jam perjalanan malam ke Toraja. Kursinya nyaman, jarak antar kursi cukup luas. Bahkan ada wi-fi! Moda transportasi yang patut diadaptasi untuk bus antar provinsi di Jawa.

Perjalanan delapan jam pun jadi tak terasa. Yang saya tahu, tiba-tiba bus sudah berhenti pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi. Bus berhenti sebentar di depan sebuah gang. Saya masih tertidur pulas saat sang kernet membangunkan. Dari awal, saya memang meminta supir untuk menurunkan saya di penginapan murah yang juga menyediakan penyewaan motor.

Kernet bus mengantarkan saya ke Hotel Bison, hotel sederhana di dekat Jalan Raya Rantepao. Hanya 20 meter dari jalan raya, masuk lewat gang kecil. Meski cukup sederhana, hotel ini nyaman sekali dengan konsep bangunan rumahan. Harga per malam juga sangat terjangkau, yaitu Rp150.000,- ditambah mereka menyediakan motor untuk disewa seharga Rp65.000,- per hari, namun tanpa bahan bakar.

Saya tak punya kemewahan akan waktu kala itu. Saya mesti memanfaatkan setiap menitnya untuk sebanyak-banyaknya menjelajahi kota penuh kultur unik nan bersahaja ini. Sekitar pukul 7 pagi, saya pergi ke lobi untuk mencari-cari informasi. Tak banyak juga informasi yang bisa penjaga hotel ini berikan. Untung saja saya bertemu John Rante, seorang pemandu wisata yang rumahnya berdekatan dengan hotel.

Saya berbincang banyak sampai sepakat untuk menyewa jasa Pak John sebagai pemandu wisata seharian itu. Setelah tawar menawar, harganya pun cukup murah Rp150.000,- sudah termasuk bensin motornya. Sebenarnya tarif normalnya Rp250.000,- belum termasuk ongkos bensin. Namun, karena memang bukan musim liburan, saya bisa mendapat tarif terbaik.

Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah pesta pemakaman di Kecamatan Kete Kesu. Pestanya berlangsung cukup sederhana dibanding trademark upacara pemakaman yang sering diberitakan memakan biaya sampai ratusan juta bahkan miliaran. Keluarga yang berkabung kebetulan hanya keluarga petani.

Akan tetapi, mereka tetap harus mengorbankan tiga ekor tedong (kerbau) dan tiga ekor bai (babi) sebagai teman menuju dunia yang lain bagi yang sudah wafat. Meski hnaya sedikit hewan yang dikurbankan, tetap saja biayanya sampai puluhan juta jika menghitung satu kerbau biasa dijual Rp15-30 juta dan satu babi Rp1-3 juta. Belum ditambah biaya-biaya lainnya.

Saya mencoba menelisik masuk ke dalam. Memberi salam pada keluarga yang berkabung kemudian menuju dapur yang sepertinya sedang ramai. Terdengar sampai luar suaranya, suara ibu-ibu mengoceh dan goresan panci. Benar saja, mereka sedang rumpi rupanya. Saya sempat mengabadikan aktivitas unik mereka yang sambil menguyah sesuatu (entah apa), meminum kopi hitam Toraja, dan menanak nasi satu gentong.

Mereka memandang saya asing. Wajar tentu saja. Akan tetapi, mereka ternyata ramah sekali. Tak lama, saya ditawari kopi. Secangkir kopi dan tak lupa kue-kue khas Toraja yang terbuat dari beras merah. Saya lupa namanya. Yang jelas, rasanya legit dan renyah, tak kalah dengan kue-kue dari toko.

Pak John lalu menceritakan banyak hal tentang ritual pemakaman itu. Masyarakat Toraja menganggap ada dua kehidupan yang mesti dijalani. Sebelum dan setelah mati. Ketika mati, mereka harus diperlakukan istimewa demi kebahagiaan hidup setelahnya. Puya, nama ‘dunia’ setelah kematian untuk masyarakat Toraja. Hewan-hewan yang dikurbankan menjadi teman bagi yang wafat di Puya. Sebuah prosesi untuk meninggikan yang tiada.

Kemudian, saya mampir ke Kuburan Batu yang terletak di Desa Lemo, Kecamatan Sanggalange. Mengapa dinamakan kuburan batu? Sesederhana karena memang mayatnya dikuburkan di tebing-tebing batu. Selain dikuburkan di sana, dibuat juga replika manusia dari kayu lengkap dengan baju adatnya (tau-tau). Beberapa kuburan di sana terlihat masih baru. Ada juga pahatan-pahatan yang baru dibuat sebagai persiapan sebagai tempat persemayaman terakhir orang-orang yang meninggal.

“Walau terlihat kecil, sebenarnya lubang di dalamnya besar sekali. Bisa menampung beberapa mayat,” jelas Pak John sambil menunjuk sebuah kuburan di ujung tebing.

Setiap sisi tebing di bukit itu dipenuhi kuburan dengan replika manusia. Saya sempat mengitari tebing ke sisi-sisi yang berbeda dan selalu mendapati kuburan-kuburan batu yang lain. Menurut Pak John, semakin ke belakang dan tersembunyi, berarti kasta atau tingkatan orang tersebut lebih rendah.

Di sekitar kompleks kuburan batu, banyak warga sekitar yang menjual kerajinan khas Toraja. Selain bentuknya yang khas, harganya juga tak terlalu mahal. Kain cantik buatan tangan sepanjang dua meter misalnya hanya dihargai Rp60-80 ribu. Patung-patung khas Toraja dengan bentuk pasangan orang tua diharga Rp25-60 ribu (tergantung ukuran).

Pak John mengantar saya ke tempat pemakaman bayi atau Baby’s grave di Kampung Kambira, Kecamatan Sanggala. Tempat pemakaman bayi hanya berupa pohon besar diselimuti sabut-sabut hitam sebagai penutup lubang tempat bayi-bayi dimakamkan. Pohon ini diperuntukkan bagi bayi yang meninggal di dalam kandungan atau berusia di bawah enam bulan.

Dari sana, kami beranjak ke pasar tradisional di Kampung Tokesan. Di sini, seperti banyak pasar tradisional lain, ramai penjual menjajakan berbagai macam dagangan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sampai daging babi juga ada. Pasarnya mulai dari pagi hingga siang menjelang sore.

Saya kembali terkagum-kagum saat sampai di Kampung Bonoran di Kecamatan Kete Kesu, lokasi rumah-rumah adat Tongkonan. Ada dua belas rumah khas Toraja berjejer rapi di kedua sisi. Di depan setiap rumah adat, hampir pasti selalu dipajang jejeran tanduk-tanduk kerbau yang telah dikurbankan. Lengkap dengan patung kepala kerbau dari kayu. Atap Rumah adat Tongkonan sekilas mirip tanduk kerbau.

“Bukan tanduk kerbau. Itu perahu,” kata Pak John mengoreksi. Menurut sejarah, nenek moyang orang Toraja dulu memang pelaut. Ketika sampai di daratan, mereka membuat rumah dengan memanfaatkan perahu-perahu mereka.

Dari salah satu rumah yang saya masuki, kondisi dalam rumah tersebut pun terlampau sederhana. Rumah ini hanya terdiri dari 3 ruangan: kamar, ruang keluarga, dan ruang makan. Dapur, ruang makan, dan bahkan WC digabung menjadi satu di tengah. Agak risih ya?

Saya sangat penasaran ketika Pak John akan mengajak saya ke kuburan yang disimpan di goa. Dalam hati, “Di tebing, di gunung, di pohon, sekarang di gua?” Memang Toraja kaya akan budaya menghormati yang tiada. Sampai-sampai mereka rela bertaruh nyawa untuk memakamkan orang-orang yang mereka cintai di tempat yang mereka anggap terbaik.

Lokasi kuburan goa ini ada di daerah Londa, sebelah Selatan Rantepao. Untuk melihat ke dalam goa, kita mesti menyewa lampu petromax seharga Rp25.000,-. Masuk ke goa ini mesti ekstra hati-hati, jalanan agak terjal, sempit, dan licin. Salah-salah bisa terpeleset.

Masih ada mayat yang baru dikubur dua tahun lalu. Peti matinya masih utuh. Berbeda dengan banyak peti mati lainnya yang sudah rapuh dan berlubang sehingga tulang-belulang pun sampai terjulur keluar. Sesaji juga banyak sekali diberikan oleh warga yang berziarah. Rokok, bunga, air minum, atau buah-buahan. Semuanya diberikan sebagai bekal yang sudah wafat di alam sana. Sesaji tersebut kian hari kian menumpuk, tak ada seorang pun yang berani mengambil atau sekedar membersihkan. Alasannya klise (atau tidak): karena takut dihantui sepanjang hidup.

Naik beberapa anak tangga di sisi bukit dekat goa, Pak John menunjukkan ada kuburan tertinggi yang terletak hampir di puncak tebing terjal. Sudutnya hampir tegak lurus. Tak terbayang bagaimana orang-orang bisa sampai ke sana hanya untuk menguburkan mayat. Ceroboh sedikit malah bisa ikut menjadi mayat. Tapi itulah, kata Pak John, sebuah dedikasi akan sebuah ritual. “Mereka yang berangkat ke atas memang harus ahli. Memanjat tebin hanya dengan berbekal bambu sebagai penyangga.” Luar biasa!

Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin mewah pula jenazahnya mesti dilengkapi. Seringkali dengan kain-kain mahal dan perhiasan. Oleh karena itu, biasanya jenazah orang-orang seperti itu diletakkan di tebing paling atas agar sulit dicapai orang lain.

Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah sebuah akhir. Justru mati adalah gerbang menuju Puya, dunia yang baru. Dunia di mana arwah-arwah kembali menjalani hidup yang lain bersama dengan para hewan yang dikurbankan. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi pada kematian dan hidup setelah mati.

Bagi mereka, mati adalah hidup yang kedua kali.

Itulah sekelumit kisah perjalanan saya di Toraja. Memang cuma sehari, tapi saya tak bisa melupakan setiap menit penelusuran budaya unik di sana. Masih banyak yang belum saya saksikan, salah satunya adalah mitos mayat berjalan sendiri. Suatu hari saya pasti akan kembali untuk mencari tahu lebih banyak dan menelusuri lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Toraja yang bersahaja.

Seorang jurnalis dan penulis, Patricia Schultz, memasukkan Toraja dalam bukunya, “1000 Places to See Before You Die”. Well, kini saya tahu benar mengapa dia berpendapat demikian. Dalam hati, saya mengangguk seraya setuju.

Tag : Tana Toraja , Tongkonan: Rumah Adat Toraja yang Mengagumkan, Londa: Menyambangi Pekuburan dalam Gua Suku Toraja, Pasar Bolu dan Pasar Makale: Jejak Budaya dan Peradaban di Pasar Tradisional Toraja

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR