Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
11 Oktober 2012

Ditulis oleh
Hendro Pranyoto

Kategori :
Mendaki Gunung, Trekking,

0 Komentar

Mt Rinjani, Antara Keindahan Alam dan Badai

Posted on : 11 Oktober 2012
Categories : Mendaki Gunung, Trekking,

Ketika sampai di Pulau Lombok, yang ada dalam pikiranku hanyalah “Aku ingin segera mendaki Gunung Rinjani”. Siapa yang tak mengenal Gunung Rinjani? Ya, Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua setelah Gunung Kerinci di Sumatera. Gunung Rinjani berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ketinggian Gunung Rinjani mencapai 3.726 mdpl.

Hari Pertama, Senin 16 Juli 2012

Ditemani seorang sahabat yang memiliki darah asli Pulau Lombok, pukul 09.00 WITA kami mulai packing. Segala perlengkapan logistik dan konsumsi kami persiapkan untuk beberapa hari kedepan. Tepat pada pukul 12.00 WITA kami mulai berangkat dari Kota Mataram. Memasuki pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani, kami dihadapkan pada hutan yang masih alami dengan beragam jenis flora dan fauna. Jalan berliku yang sudah menjadi ciri khas perjalanan gunung namun menjadi kesenangan tersendiri bagi kami. Sesekali Matahari tertutup oleh awan yang membuat udara semakin dingin dari biasanya.

Tiga jam perjalanan dari Kota Mataram, sampailah kami di Desa Sembalun. Desa ini berada dibawah kaki Gunung Rinjani, desa yang sedikit polusi, yang penduduknya bergantung pada usaha pertanian dan yang penuh dengan mesjid berwarna-warni. Setelah menyelesaikan registrasi di Basecamp Sembalun, pukul 16.00 WITA kami langsung melakukan pendakian dengan target kemping di Pos 2 yang memiliki mata air. Dua jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di Pos 2. Pos ini lumayan besar dan muat untuk sekira 5-6 tenda. Setelah selesai mendirikan tenda, kami segera memasak dan mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api. Suasana yang sunyi dan bintang yang bermilyaran diangkasa menemani kami malam itu hingga kantuk menyerang. Satu persatu dari kami pun memasuki tenda.

Hari Kedua, Selasa 17 Juli 2012

Keesokan harinya, kami pun dibuat takjub oleh pemandangan puncak Gunung Rinjani yang sangat cerah. Tak berlama-lama, kami langsung masak dan packing untuk melanjutkan pendakian dengan target Pelawangan Sembalun. Pukul 08.30 WITA kami memulai pendakian dengan semangat yang membara karena di depan sudah menanti tanjakan yang diberi nama “tujuh bukit penyesalan”. Setelah melewati Pos 3 barulah kami di hadapkan dengan bukit yang awalnya cukup menanjak dan akhirnya pun semakin menanjak. Sesekali kami berhenti di tengah perjalanan, mengatur detak jantung dan saling sapa ketika berpapasan dengan turis mancanegara. Suasana menjadi berbeda ketika kabut mulai menyelimuti jalur pendakian. Terik Matahari yang tadinya menyengat mendadak hilang begitu saja. Suhu yang tadinya panas berubah menjadi dingin. Pemandangan yang tadinya menjadi teman ketika beristirahat, kini sudah tertutup oleh kabut.

Pukul 16.00 WITA kami tiba di Plawangan Sembalun, teman sependakianku berkata “Seharusnya dari sini kita dapat melihat Danau Segara Anak dan sebagian Gunung Barujari”. Tapi, sore itu Gunung Rinjani berkata lain, kabut yang dari awal menemani perjalanan kami lama kelamaan menjadi semakin menyebalkan. Tadinya kami bertekad mengejar sunset di Plawangan namun gagal sebab yang ada hanyalah kabut abadi. Setelah mendirikan tenda, kami langsung masak dan dilanjutkan dengan tidur cepat, karena besok pagi dini hari pukul 02.00 WITA kami harus sudah berangkat agar sampai di puncak Rinjani bersamaan dengan terbitnya Matahari.

Hari Ketiga, Rabu 18 Juli 2012

Pukul 02.00 WITA, waktu yang kami tunggu-tunggu saat itu, saat dimana kami harus melawan rasa malas. Melawan rasa malas ketika sedang nyaman berselimut sleepingbag, saat dimana suhu menunjukkan titik terdinginnya, saat dimana kami harus menyiapkan perbekalan, saat dimana badan terasa pegal-pegal. Semua itu harus kami lawan dengan semangat yang membara lagi untuk melanjutkan perjalanan. Setelah perlengkapan disiapkan, kami memulai pendakian. Jalan yang berdebu dan menanjak terjal mengharuskan kami memakai masker, mau tidak mau, mending sulit bernafas karena memakai masker daripada bernafas menghirup debu.

Pukul 05.00 WITA suasana menuju puncak pun mulai terasa tak bersahabat, cuaca yang tadinya cerah sekarang menjadi mendung. Bintang yang tadinya bermilyaran di angkasa kini hanya ada satu bahkan sesekali menghilang. Suhu yang dingin menjadi lebih dingin lagi dari biasanya, namun puncak masih jauh dari pandangan mata. Beberapa pendaki mulai turun dengan mengingatkan kepada kami, “Mas, diatas lagi badai, mending turun saja. Saya juga nggak sampai puncak kok”. Mendengar kata-kata itu temen seperjuanganku dengan cepat mengambil kesimpulan “Ayo turun, Bro. Kalau kamu mau muncak aku tunggu di bawah saja”. Ya, memang cuaca mulai tidak bersahabat. Angin yang tadinya biasa kini lumayan kencang, yang tadinya rintik embun kini menjadi tetes air yang lama kelamaan membasahi pakaian kami.

Sungguh pengambilan keputusan yang sangat sulit bagi saya, mengingat jarak tempuh yang jauh dari Pulau Jawa menuju Pulau Lombok. Ditambah lagi pendakian yang berat dari pintu Sembalun melewati tujuh bukit penyesalan menuju camp terakhir di Plawangan sangatlah melekat dipikiranku saat itu. “Akankah aku mudah menyerah karena kata-kata orang tersebut? Bisa saja dia sudah mencapai puncak sebelum kami. Belum lagi puncak di depan mata, paling satu jam lagi aku bisa sampai. Di sisi lain kawanku sudah menyerah dan memilih untuk turun ke basecamp terakhir? Apakah aku akan mendaki sampai puncak sendiri?”

Dengan berat hati dan tanpa rasa ikhlas, aku memilih untuk turun. Kenapa aku berkata demikian? Bagaimana tidak kesal ketika memilih untuk turun ke bawah,puncak yang tadinya kelabu dan bahkan menghilang sekarang berubah menjadi cerah. Matahari pun seakan-akan memberikan semangat, “Ayo lanjutkan mencapai puncak anak muda,masak gitu aja udah nyerah, mana mental kalian..?” Aaarggh, sungguh pilihan yang membingungkan! Akan tetapi aku sudah bertekad memilih untuk turun. Segala resiko sudah aku tanggung dengan memilih jalan itu. Mungkin lain kali aku bisa mencapai puncak Rinjani dengan suasana, kondisi, dan umur yang berbeda.

Pukul 12.00 WITA kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak; perjalanan ini menghabiskan waktu 5 jam. Tepat pukul 17.00 WITA kami sampai di kemping area Danau Segara Anak. Disini kami tak lagi berdua, tetapi bersama tiga orang pendaki dari Jakarta dan tiga orang pendaki dari Purwokerto. Suasana semakin ramai, yang semula hanya bercanda kecil sekarang menjadi besar. Kami pun mendirikan tenda bersama dan sebelum malam datang aku sempatkan untuk memancing. Tetapi, sore itu sepertinya ikan di danau sudah mulai kedinginan dan masuk ke persembunyiannya.

Untuk mendapatkan joran pancing dan umpannya sangatlah mudah. Orang-orang asli Desa Sembalun yang sudah berhari-hari tinggal di Danau Segara Anak sangatlah ramah dan baik hati. Mereka meminjamkan kami joran dan memberi umpan. Saat mengetahui kami tidak mendapatkan apa-apa malam itu, mereka menawarkan ikan hasil pancingan mereka. Kebanyakan ikan berjenis nila tetapi mereka menyebutnya “ikan Tin”. Dinamakan ikan Tin karena pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto telah di lemparkan beribu-ribu bibit ikan dari helicopter. Kami pun langsung menerima tawaran mereka, ikan bakar. Sambil bercerita kami berkenalan, rasa dingin yang sangat menusuk tulang terasa hangat ketika ditemani kopi sambil menunggu ikan bakar dengan bumbu kebesaran yang mereka buat.

Hari Kelima, Sabtu 20 Juli 2012

Pagi itu setelah mengabadikan foto Matahari terbit dan memasak, kami dikagetkan oleh angin badai yang tiba-tiba datang dan melemparkan semua barang kami ke jurang. Hasilnya matras dan beberapa daypack berterbangan. Aku juga ikut kaget dengan terbangnya satu tenda kami, sedang tenda yang lain sudah tak sanggup berdiri. Beberapa frame patah dan terjadi sobekan pada flysheet akibat angin badai tersebut. Kami pun segera packing barang-barang kami untuk mengantisipasi datangnya angin badai susulan. Pukul 10.00 WITA kami langsung memutuskan untuk turun dan target mencapai Pintu Senaru. Tepat pukul 17.00 WITA kami sampai di pintu senaru dengan kondisi badan yang lemas. Setelah lama istirahat, kami langsung mencarter angkot untuk menuju Mataram. Sungguh perasaan yang senang karena dapat kembali dengan selamat, tetapi disisi lain aku sakit hati karena tidak dapat mencapai puncak Rinjani.

Tag : Lombok

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR