Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
9 November 2012

Ditulis oleh
Handry Febrian Z

Kategori :
Berpetualang - Berjalan-jalan

0 Komentar

Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone

Posted on : 9 November 2012
Categories : Berpetualang - Berjalan-jalan

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk menghabiskan waktu selama satu bulan di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Kota ini dihuni mayoritas warga bugis yang ramah. Saya tinggal di suatu perkampungan nelayan di Kelurahan Ponjalae, Kecamatan Wara Timur. Masyarakatnya ramah dan pekerja keras. Setiap hari saya menyaksikan langsung bagaimana lelaki pergi melaut dan wanita menjual ikan di pelelangan bersama anak-anak mereka yang membantu menjemur ikan.

Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone

Suasana alamnya indah dibalut sunrise setiap paginya menjadikan suasana perkampungan nelayan selalu hidup dan penuh semangat. Rumah-rumah panggung dan hamparan rumput laut serta ikan asin yang dijemur menjadi pemandangan biasa. Saat berjalan-jalan di kotanya kita akan digoda aroma ikan bakar di setiap perempatan.

Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone

Seperti tempat lain di Indonesia, masyarakatnya memperlakukan saya sebagai tamu dengan sangat baik. Sering sekali saya mendapat undangan makan siang atau makan malam dari warga untuk mencicipi hasil tangkapan ikan berupa ikan, kerang, kepiting dan cumi-cumi. Semua dimasak dengan bumbu-bumbu khas Sulawesi Selatan yang menggugah selera.

Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone

Hidup di perkampungan nelayan yang jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari tentu sangat menyenangkan. Satu yang sangat terasa adalah masyarakatnya yang senang berpesta, berkumpul bersama dan bergembira. Akhir pekan pertama masyarakat mengajak saya dan beberapa teman untuk piknik di sebuah pulau tidak jauh dari dermaga. Pulau Libukang namanya. Di pulau yang jaraknya lima belas menit dari pelabuhan tersebut kami berpesta, berbagi tawa sambil mengipas ikan dan kerang yang sedang dibakar. Tidak satu pun beban bergelantung di wajah mereka, yang ada hanyalah kegembiraan dan kebersamaan.

Di suatu sore yang cerah, Bang Marwan, salah satu pegawai Kelurahan Ponjalae mengajak saya dan beberapa teman untuk ikut melaut, merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi nelayan. Ajakan ini tidak mungkin saya tolak, siapa yang rela melewatkan kesempatan yang mungkin sekali seumur hidup seperti ini?

Keesokan harinya berangkatlah saya dan beberapa teman ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Palopo, tempat yang kami sepakati untuk berkumpul sebelum melaut. Disanalah ‘Jallo’ro’ atau perahu motor kecil kami berlabuh. Melihat kondisi perahu motornya yang kecil dan ombak yang lumayan besar, beberapa teman saya mengurungkan niatnya untuk ikut. Apalagi setelah Bang Marwan mengatakan bahwa jika cuaca buruk, kami bisa tinggal di lautan selama 2 hari. Hanya saya dan empat teman lainnya yang tetap pada pendirian awal.

Dengan Jallo’ro mungil itulah kami berlayar ke tengah Teluk Bone. Angin laut dengan wangi asin yang khas serta semburat Matahari senja di balik pegunungan Toraja membuat saya merasa kembali kemana saya berasal. Gerombolan Lumba-lumba yang berkejaran juga jadi pengalaman menarik untuk disaksikan. Ini adalah kali pertama saya melihat lumba-lumba yang cantik berenang bebas di samping perahu motor kami.

Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone

Setelah tiga jam perjalanan maka tibalah kami di Bagan yaitu perahu ukuran kapal tempat nelayan menjaring ikan. Tidak ada tangga sama sekali untuk menaiki bagan ini, jadi jika hendak menaikinya kami harus melompat ke atas, menjangkau tiang-tiang kayu dan tentu saja harus disesuaikan dengan ritme gelombang laut. Jika gagal, tentu saja kami terjatuh ke Teluk Bone yang ombaknya besar. Untunglah saya dan teman-teman lain berhasil naik ke bagan walaupun teman saya hampir jatuh namu segera dibantu nelayan lain.

Bagan ternyata tak seperti yang saya bayangkan. Awalnya saya berpikir bagan keseluruhan memiliki lantai kayu, namun ternyata tidak. Hanya beberapa bagian saja yang memiliki lantai utuh, selebihnya hanya kayu-kayu yang saling menyilang satu sama lain membentuk ‘pematang-pematang’ panjang dengan lobang ditengahnya (yang bila tidak hati-hati kita bisa jatuh dan hilang di dalam teluk). Di sanalah nelayan-nelayan berselonjor menanti waktu jaring diangkat, sambil mengobrol dan menikmati kopi. Tak saya sangka, nelayan-nelayan bertubuh tegap dengan otot menonjol itu ternyata sangat ramah. Mereka bahkan mengajak saya dan teman-teman untuk menikmati kopi bersama.

Lewat tengah malam sampailah kami pada waktu jaring diangkat. Lampu-lampu yang awalnya dihidupkan untuk menarik perhatian ikan kemudian dipadamkan. Nelayan dibantu saya dan teman-teman mulai menarik kumparan untuk mengangkat jaring ke atas. Perlahan-lahan, jaring-pun terangkat berikut ikan-ikan di dalamnya. Ternyata hasil tangkapan kami malam itu tak hanya ikan. Kami mendapatkan cukup banyak cumi-cumi dan lobster. Tangan para nelayan dengan sigap memasukkan hasil tangkapan ke dalam keranjang-keranjang yang telah disediakan.

Seorang nelayan mengambil beberapa ikan dan cumi-cumi kemudian memasaknya di dapur bagan. Selang berapa menit, ia datang dengan satu mangkok besar ikan dan cumi-cumi yang telah dimasak. Kami-pun duduk melingkar menikmati makan malam hasil tangkapan. Meskipun tidak dimasak dengan bumbu-bumbu, saya bisa katakan bahwa ini adalah ikan dan cumi-cumi terenak yang pernah saya makan. Rasanya manis dan dagingnya empuk, mungkin karena dimasak dalam keadaan segar. Nah, jauh sebelum makanan bernama sushi itu booming dan punya stand di hampir setiap mall, kita ternyata sudah punya sushi di Palopo, namanya Pocok. Rasanya hampir sama dengan Sushi, bedanya tentu pocok tidak dikemas sekian rupa sehingga kalah tenar dengan Sushi yang datangnya dari Negara idola remaja-remaja Indonesia saat ini.

Jam 2 pagi, saya dan teman-teman merasa kelelahan sehingga kami memutuskan untuk beristirahat di ruangan bagan. Barulah jam setengah 6 pagi saya dan teman-teman dibangunkan untuk segera kembali ke daratan. Keranjang-keranjang hasil tangkapan satu persatu diturunkan ke Jallo’ro. Saya dan teman-teman menyusul setelahnya. Jallo’ro kami pun berlayar menuju Pulau Sulawesi ditemani angin pagi laut yang ternyata dingin sekali.

Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone

Nelayan 'Jadi-jadian' di Teluk Bone

3 jam berlalu, akhirnya tibalah kami di pelelangan ikan, tempat Jallo’ro kami berlabuh. Seketika kami dikerubuti oleh calon pembeli yang langsung menawar harga hasil tangkapan kami. Satu persatu hasil tangkapan kami berpindah tangan dan rupiah demi rupiah pun mengalir ke kantong pak nelayan. Begitulah pengalaman saya semalam menjadi nelayan ‘jadi-jadian’ di Teluk Bone. Meskipun tubuh terasa capai dan kepala masih belum stabil, saya memetik banyak pelajaran yang membuka mata saya betapa kayanya bangsa kita ini. Selain hasi laut yang melimpah ruah, kita kaya akan nilai-nilai budaya positif. Kami takkan berhasil mendapatkan banyak ikan dengan gotong royong dan kesetiakawanan.

Tag : Makassar

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR