Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
9 November 2012

Ditulis oleh
Valentina Dyan

Kategori :
Berjalan-jalan - Bangunan Bersejarah - Budaya - Seni

1 Komentar

Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh

Posted on : 9 November 2012
Categories : Berjalan-jalan - Bangunan Bersejarah - Budaya - Seni

Ini pengalaman pertama saya menulis artikel tentang tempat wisata yang pernah dikunjungi. Ya, pasti semua sudah tahu tentang keindahan dan kemegahan Candi Borobudur. Perjalanan saya dimulai pada awal tahun 2012. Berangkat dari Jakarta ke Kota Magelang, Jawa Tengah. Saat pertama kali tiba di kawasan Borobudur dan turun dari bus wisata, saya sudah dapat membayangkan kemegahan Candi Borobudur yang selama ini didengar dari orang-orang.

Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh

Ternyata Candi Borobudur tidaklah berada dekat di depan mata, candi ini terletak cukup jauh dari pintu gerbang masuk kawasan wisata. Sekira 2 km jarak harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan saya disuguhkan pedagang menawarkan cenderamata seperti pakaian, patung hingga relief candi dengan berbagai bentuk.

Begitu tiba di depan kawasan komplek candi borobudur, saya diharuskan untuk membeli tiket masuk seharganya Rp. 30.000. Lumayan mahal untuk turis lokal. Aturan masuk di Candi Borobudur juga ketat. Tidak boleh membawa makanan ke candi. Terpaksa bekal nasi yang dibawa dimakan di luar.

Ketika saya masuk ke candi Borobudur diwajibkan mengenakan sarung batik yang disediakan petugas. Aturan baru saja diterapkan. Begitu berada di Candi Borobudur terasa panas terik Matahari namun terbayarkan dengan pemandangan indah berupa panorama bukit dari atas Candi Borobudur. Hmmm...rasanya ingin berada disini terus, karena sungguh saya merasakan betapa indahnya alam Indonesia dilihat dari atas puncak Candi ini. Namun, perjalanan saya masih panjang.

Selama berkeliling candi ini saya disuguhi pahatan 2672 panel relieff yang jika disusun akan mencapai panjang 6 km. Relief yang terpahat dibagi menjadi 4 cerita, yaitu karmawibangga, lalita wistara, jataka dan awadana, serta gandawyuda. Selain menceritakan perjalanan hidup Buddha berserta ajarannya, relief ini juga bercerita tentang kemajuan peradaban masyarakat masa itu.

Kebetulan saya dan keluarga menggunakan jasa tour guide yang menjelaskan tentang sejarah Candi Borobudur. Menurut saya candi ini tergolong unik karena merupakan candi Budha yang terbesar di dunia yang dibangun mas Dinasti Syailendra sekira 800-an Masehi. Sampai saat ini candi Ini masih terlihat kokoh walaupun sempat mengalami beberapa kali pemugaran, pengeboman, gempa bumi dan gunung meletus.

Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh

Candi Budha ini strukturnya terdiri dari 3 tingkatan yang menggambarkan tingkatan spiritual dalam dalam Buddha. Tingkatan bawah sendiri yaitu Kamadhatu, kemudian Rupadhatu dan tingkatan tertinggi yaitu Arupadhatu. Masing masing tingkatan terdapat relief arca yang ceritanya sesuai dengan tingkatannya. Ketika sudah sampai di puncak terdapat kubah besar tertinggi Candi Borobudur. Di situ saya bisa melihat pemandangan bukit bukit yang indah dari puncak candi. Maklum saja ketinggian candi ini sekira 35 meter.

Di dalam kawasan wisata Borobudur juga terdapat Museum Samudra Raksa yang berisi kisah perjalanan Kapal Laut Samudera Raksa mengarungi The Cinnamon Route, dari Jawa hingga benua Afrika. Ini yang terinspirasi oleh cerita dalam relief di Candi Borobudur bahwasannya nenek moyang bangsa saya adalah pelaut yang ulung. Ada juga museum yang menyimpan pecahan stupa dan benda-benda bersejarah lainnya berkaitan dengan Candi Borobudur.

Ketika berada di Candi Borobudur pengunjung diwajibkan menjaga kelestarian cagar budaya ini. Pengunjung dilarang naik ke stupa dan patung di candi. Dilarang pula memanjat candi tetapi menggunakan jalan tangga. Walaupun di atas sudah ada petugas yang memperingatkan namun tetap saja banyak yang melanggar.

Selain mengunjungi Candi Borobudur, agenda saya dan keluarga selanjutnya adalah mengunjungi Dusun Klipoh. Mengapa saya pilih dusun ini untuk wisata? Karena saya sempat googling dan tertarik untuk melihat kerajinan gerabah di tempat tersebut. Dusun Klipoh terletak sekira 4 km dari Candi Borobudur. Saya menuju dusun Klipoh menggunakan andong dengan tarif Rp75.000,-

Areal persawahan yang terhampar luas mengelilingi dusun ini. Bertani menjadi mata pencaharian utama warga Klipoh. Ada juga sebagian dari mereka berprofesi sebagai pengrajin gerabah. Berbagai peralatan rumah tangga seperti wajan, kuali, cobek, kendi, gentong, tempayan, hingga senthir� (lentera) diproduksi warga dusun ini. Barang-barang tersebut tidak hanya dipasarkan di kawasan Borobudur namun sudah merambah hingga Lampung dan Jambi.

Setitik Haru yang Terukir Di Bebatuan Kokoh Candi Borobudur dan Dusun Klipoh

Sepintas lalu saya lihat pembuatan gerabah terlihat mudah dengan hanya memutar-mutar perbot (alat pemutar tradisional) dan membentuk kwangsu (tanah liat yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan gerabah) sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Akan tetapi, ternyata membuat gerabah tidak semudah itu, diperlukan konsentrasi dan kecermatan serta kesamaan gerak antara memutar perbot dan membentuk kwangsu.

O’ya, saya juga sempat datang ke sebuah ruang tamu yang difungsikan sebagai showroom. Aneka rupa gerabah berjajar di atas rak kayu, mulai dari harga ribuan hingga ratusan ribu. Saya pun membeli senthir gajah unik seharga Rp5.000,-

Mengunjungi sentra pembuatan gerabah di Dusun Klipoh benar-benar menjadi perjalanan yang menyenangkan. Tidak hanya bersenang-senang semata namun juga memperoleh pengalaman dan ilmu yang berharga. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali mengunjungi tempat-tempat bersahaja ini lagi, dan menikmati kebesaran Tuhan dari indahnya bumi Indonesia.

Tag : Gereja Blendug: Gereja Tertua di Jawa Tengah yang Menawan, Borobudur

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR