Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
29 November 2012

Ditulis oleh
Puji Hastuti

Kategori :
Bangunan Bersejarah - Budaya

0 Komentar

Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua

Posted on : 29 November 2012
Categories : Bangunan Bersejarah - Budaya

Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua

Tempat ini bernama Mansinam. Mungkin sebagian dari kita asing dengan nama ini. Namun jangan salah, tempat ini merupakan sebuah tempat yang telah mendunia. Bukan hanya karena keindahannya, latar sejarah juga menjadikan Mansinam sebagai salah satu tujuan dari wisata religi umat Kristen Protestan di seluruh dunia. Pulau ini merupakan bagian dari wilayah Papua Barat. Letaknya sekitar 6 Km dari Manokwari. Untuk mencapai pulau ini hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit menggunakan speed boat.

Setiap tahun pada tanggal 5 Februari, ribuan orang dari penjuru Papua datang ke tempat ini untuk mengadakan perayaan memperingati kedatangan Ottow dan Geissler. Siapakah Ottow dan Geissler? Dua orang berkebangsaan Jerman ini tiba di Pulau Mansinam dengan membawa misi penyebaran injil. Namun saat itu, suku yang mendiami Pulau Mansinam bersikap tertutup terhadap orang asing yang datang. Ottow dan Gaissler tidak menyerah. Mereka terus berjuang untuk menyebarkan Kristen kepada Suku Numfor, yakni suku yang saat itu mendiami Pulau Mansinam.

Suatu ketika, Gaissler sakit hingga membuatnya harus meninggalkan Pulau Mansinam. Gaissler memilih ke Ternate untuk memulihkan keadaannya. Sementara, Ottow tetap tinggal di Pulau Mansinam. Ottow mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui hubungan dagang. Ia membeli hasil-hasil alam Pulau Mansinam dari penduduk, seperti kerang, teripang ikan, atau pun burung cenderawasih. Kemudian ia menjualnya kepada saudagar dari kapal Van Duivenbode. Keuntungan dari penjualan tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup.

Pada tanggal 12 Januari 1856, Gaissler kembali ke Tanah Papua, ke Pulau Mansinam. Mereka berdua bahu membahu untuk meneruskan misi menyebarkan Agama Kristen. Gaissler yang memiliki keterampilan sebagai tukang kayu mengajarkan Suku Numfor cara membuat rumah. Sedangkan Ottow memiliki kemampuan menenun yang baik. Kemampuan menenunnya ia sebarkan di Mansinam hingga Suku Numfor mengenal pakaian lalu mulai meninggalkan cawat maupun koteka. Keterampilan yang diajarkan Ottow dan Gaissler pun menyebar ke Biak, Nabire, Wasior, dan daerah Papua lainnya.

Tidak hanya itu, mereka juga mempelajari bahasa lokal suku setempat kemudian menerjemahkan doa-doa ke dalam bahasa lokal tersebut. “Dua rasul” bagi Papua ini juga mengajarkan Suku Numfor di Pulau Mansinam membaca dan menulis. Awalnya suku numfor sangat sulit untuk sekedar memegang pensil. Namun, kegigihan suku numfor yang didampingi dengan kesabaran Ottow dan Geissler untuk bisa keluar dari kegelapan membuat mereka bisa membaca dan menulis. Kemudian untuk mempermudah sosialisasi ajaran Kristen, Ottow dan Geissler melakukan penerjemahan injil ke dalam bahasa Melayu. Hal ini pun akhirnya menyebar ke daerah Papua lainnya. Inilah yang menjadi cikal bakal masyarakat Papua lainnya mengenal ilmu pengetahuan.

Pulau Mansinam: Sejarah bagi Peradaban di Tanah Papua

Sekira beberapa km sebelum berlabuh di Pulau Mansinam, kita akan melihat semacam tugu berbentuk salib. Itu lah sebuah prasasti yang diperuntukan bagi jasa Ottow dan Geissler. Pada bagian bawah prasasti tertulis, Soli deo Gloria. De Eerste Zendelingen van Nederlandsch Nieuw Guinee C.W. Ottow En J.G. Geissler Zyn Hier Geland op 5-2-1855 (zending pertama untuk Papua Ottow-Geissler tiba di sini 5 Februari 1855).

Namun, saya sendiri miris melihat Pulau Mansinam. Sebuah pulau yang menjadi awal peradaban orang Papua kini hanya memiliki satu SD, yakni SD Impres Mansinam. Pelajar SMP dan SMA Pulau Mansinam harus menyebrang ke Manokwari dengan menumpang perahu dan membayar Rp3000,- untuk bersekolah. Infrastruktur tempat ini masih sangat kurang. Tidak ada jalan raya di Mansinam, yang ada hanya jalan-jalan setapak.

Sayang sekali sejarah bangsa Papua ini tidak banyak dikenal oleh bangsa Indonesia, karena memang sejarah Papua kurang mendapat tempat dalam dunia pendidikan Indonesia. Buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah sangat sedikit membahas sejarah Papua. Bahkan siswa-siswa di Papua lebih dijejali sejarah tentang kerajaan Majapahit, Sriwijaya, ataupun kerajaan-kerajaan lainnya di Pulau Jawa.

Buku-buku sekolah banyak bercerita tentang legenda sejarah kejayaan Majapahit, namun sejarah yang ada di Papua tidak ada. Kita begitu mengenal legenda tentang Jaka Tarub dan Bandungbondowoso dan Larajonggrang. Kedua legenda ini bahkan telah banyak difilmkan dan di putar berulang kali di televisi nasional. Namun kenapa legenda mengenai Ottow dan Geissler serta banyak legenda-legenda asal Papua tidak demikian adanya?

Belajarlah dari sejarah untuk membangun bangsa yang besar (Soekarno)

Ada ketidakadilan dalam hal ini. Terlalu banyak kurikulum sejarah dalam pendidikan hanya dipadati oleh sejarah dan kebudayaan dari Jawa. Menurut saya, Papua berhak untuk menampakkan eksistensinya melalui sejarah yang mereka miliki. Saya yakin, masih banyak sejarah-sejarah yang belum terpublikasi. Semoga akan banyak lagi pengetahuan-pengetahuan sejarah lainnya mengenai Pulau Timur Indonesia ini. Untuk itu, mari para traveler, selain menikmati pemandangan dari suatu tempat, hendaknya kita juga mengumpulkan catatan-catatan sejarah mengenai tempat tersebut. Sesingkat apapun catatan tersebut, pastilah berguna. Saya tunggu catatan-catatan bersejarah tempat yang traveler kunjungi.

Tag : Sejuta Kemilau Papua dan Papua Barat: Direct Promotion Produk Papua, Museum Negeri Provinsi Papua

 

TULIS KOMENTAR