Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
26 Desember 2012

Ditulis oleh
Iqbal Kautsar

Kategori :
Trekking - Mendaki Gunung, Trekking,

0 Komentar

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Posted on : 26 Desember 2012
Categories : Trekking - Mendaki Gunung, Trekking,

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Merah jingga menyala mewarnai langit fajar dan detik-detik pergantian malam ke siang tinggal sebentar lagi. Voila! Surya emas perlahan menyembul dari balik daratan. Melintasi cakrawala menuju angkasa lapang. Itulah Golden Sunrise Dieng di Gunung Sikunir. Salah satu momen terbaik sunrise di Indonesia. Mentari tampil sangat menawan di antara perkasanya gunung-gunung Jawa yang berselimut awan seperti Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Menyapa mentari pagi dari Puncak Sikunir menjadi awal petualangan saya bersama tujuh kawan saya di Dieng.

Dieng merupakan kawasan dataran tinggi yang terletak di jantung pusat Pulau Jawa. Secara administratif, Dieng berada di Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya di perbatasan Kab. Wonosobo dan Kab. Banjarnegara. Ketinggian Dieng berada di atas 2.000 m dari atas permukaan air laut. Oleh karena itu, Dieng berhawa dingin berkisar 15 derajat celcius di siang hari dan 10 derajat celcius di malam hari. Bahkan, di bulan Juli-Agustus, suhu Dieng bisa mencapai 0 derajat celcius.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Perjalanan menuju Dieng paling mudah adalah dari Wonosobo. Jalan yang dilalui berkelok-kelok beraspal mulus dengan panorama menakjubkan di sepanjang jalan. Kita akan disuguhi hamparan ladang sayuran yang mengukir perbukitan dan Gunung Sindoro yang menjulang di seberang pandang. Tak ketinggalan, pemukiman penduduk dengan ratusan menara masjid menjadi hiasan pada setiap lekuk perbukitan.

Kami dari Yogyakarta menempuh perjalanan sejauh 116 km, dalam waktu sekira 3 jam dengan kendaraan pribadi. Apabila dari ibu kota provinsi, Semarang, Dieng berjarak 120 km. Untuk memasuki kawasan Dieng Plateau, kami ditarik Rp 2.000,- per orang. Bila ingin menjajal kendaraan umum, dari Yogyakarta kita bisa menggunakan mobil travel ke Wonosobo lalu dilanjutkan dengan minibus menuju Dieng. So, begitu mudah mengakses Dieng.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Orang menyebut Dieng layaknya sebuah nirwana. Bahkan, ini bukan sembarang nirwana. Dieng sangat istimewa, yakni menjadi nirwana para dewa. Kata Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi. "Di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna “Dewa”. Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Kalau bukan nirwana, apalagi yang menjadi tempat bersemayamnya para dewa? Ya, Dieng adalah nirwana dunia para dewa di tanah Jawa.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Sebagai nirwana dunia, tentu Dieng memiliki banyak destinasi yang sarat dengan nuansa keindahan. Dieng memadukan panorama alam, kekayaan budaya, dan keunikan masyarakat yang memesona. Ini menjadikan nama Dieng telah masyhur ke penjuru dunia. Ketika kami menyaksikan sunrise di Sikunir, pengunjung didominasi oleh para wisatawan mancanegara. Bagi wisman, Dieng menjadi salah satu destinasi yang hukumnya wajib dikunjungi ketika berwisata ke Pulau Jawa.

Kami mulai melakukan penjelajahan wisata di kawasan utama Dieng. Sebagian besar destinasi wisata populer Dieng berada di sana. Kawasan utama wisata Dieng adalah dataran kaldera yang dikelilingi oleh gugusan perbukitan di sekitarnya. Dapat dikatakan kawasan ini sebagai kawah gunung api raksasa. Dieng dulunya sebuah gunung berapi yang sangat besar dan tinggi. Suatu saat gunung tersebut meletus dahsyat dan melemparkan puncaknya ke daerah sekelilingnya.

Kini, jejak vulkanik Gunung Dieng bisa ditemukan di Kawah Sikidang. Di sana kami menjumpai sebuah kawah yang selalu mengepulkan asap putih berbau belerang. Asap ini berasal dari lumpur hitam yang mendidih di dalam sebuah kawah.

Uniknya, Kawah Sikidang bertabiat seperti kijang karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari tabiat inilah nama Sikidang diberikan masyarakat setempat. Kami juga harus melompat-lompat dan mencari tanah kering untuk menapakkan kaki karena lubang-lubang yang mengasap terdapat dimana-mana. Kami membayar Rp 10.000,- untuk menikmati Kawah Sikidang, tapi jangan kahawatir, tiket ini satu paket dengan obyek Candi Arjuna.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Aktivitas vulkanik di tengah ‘kawah’ raksasa Dieng juga bisa ditemui di Telaga Warna. Namun kali ini bukan yang putih mengasap, melainkan yang beraneka warna. Ada warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung mewarnai kemolekan Telaga Warna. Khasanah warna ini disebabkan oleh kandungan sulfur yang aktif dari dasar telaga. Untuk menikmati pesona Telaga Warna, kami membayar Rp. 6.000,- per orang.

Di Telaga Warna, kami berjalan menyusuri setapak hingga tiba di Goa Semar, Goa Jaran, dan Goa Sumur. Goa-goa ini berada di tengah rimbunnya hutan. Cocok sekali di area ini untuk menikmati semilir angin pegunungan Dieng sembari mendengar kicauan burung-burung liar. Kami serasa menemukan kedamaian para dewa di sana.

Tepat di samping Telaga Warna, ada telaga lain, yakni Telaga Pengilon. Seperti namanya yang berarti cermin, Telaga Pengilon ini sangat jernih dan seolah-olah bisa digunakan untuk berkaca. Sinar matahari memanfaatkannya untuk memantulkan sinarnya di permukaan Telaga Pengilon. Hasilnya, Telaga Pengilon tampak bercahaya di kala terik panas.

Telaga Pengilon dengan Telaga Warna hanya dibatasi rawa sempit yang bertumbuhkan ilalang. Akan tetapi, keunikannya adalah kedua telaga ini seperti menjaga ‘idealismenya’. Masing-masing teguh mempertahankan karakteristik uniknya. Telaga Warna dengan aneka warna airnya. Telaga Pengilon dengan kejernihan airnya. Kami beruntung bisa mendaki salah satu bukit di tepian Telaga Warga. Di atas bukit, kami bisa melihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon seperti bergandengan tangan. Keduanya tampak akrab dan setia saling mendampingi sepanjang masa.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Di tengah kawah raksasa Dieng, tak hanya panorama vulkaniknya yang dapat menjadi cerita. Banyak candi Hindu bertebaran di berbagai titik di Dieng. Candi-candi ini berkumpul pada empat kompleks utama, yakni Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Bima dan Candi Dwarawati. Candi ini dibangun pada abad 8 M silam sehingga candi di Dieng merupakan yang tertua di Indonesia. Keberadaan candi ini juga menjadi ‘prasasti’ bahwa kawah Dieng telah menjadi tempat peradaban manusia semenjak ratusan tahun yang lalu.

Kompleks Candi Arjuna merupakan destinasi candi yang paling luas dan terkenal. Ada empat bangunan candi, yakni Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra yang berjajar dari utara ke selatan. Di depan Candi Arjuna terdapat sebuah candi beratap limasan yakni, Candi Semar.

Candi-candi ini dulunya dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Syiwa. Pada candi ini ditemukan Lingga dan Yoni di candi utama dan arca Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya di relung-relung bangunannya. Namun, arca-arca ini sekarang ditempatkan di dalam Museum Kaliasa yang berada tak jauh di sebelah barat Candi Arjuna.

Yang makin menyenangkan di Candi Arjuna adalah di sekeliling candi ditumbuhi pohon-pohon cemara dan bunga-bunga yang indah. Ada nuansa kedamaian yang bisa didapat berbalutkan harmonisasi dengan artefak sejarah masa silam. Rumput hijau yang terhampar indah menambah rasa tenang menyejukkan. Kami sempatkan istirahat untuk menikmati suasana di Kompleks Candi Arjuna sembari melepas lelah di pertengahan hari.

Kompleks Candi Gatotkaca menjadi destinasi yang selanjutnya kami sambangi. Letaknya tak jauh dari Candi Arjuna, tepatnya di depan Museum Kaliasa. Saat ini tersisa hanya satu bangunan candi di antara reruntuhan bebatuan. Candi Hindu ini berbentuk bujur sangkar dengan satu pintu di sisi sebelah barat. Sedangkan pada ketiga sisi dinding yang lain terdapat relung berhias kala-makara. Kami lalu menuju ke Candi Bima yang terletak di pertigaan menuju Kawah Sikidang. Kekhasan Candi Bima ada pada bentuknya yang mirip dengan candi-candi di India. Sayangnya, kami tak sempat berkunjung ke Candi Dwarawati. Candi ini masuk ke pemukiman Desa Dieng Kulon.

Untuk melengkapi pengetahuan tentang Dieng dan geliat vulkaniknya, perlu rasanya kita berkunjung ke Dieng Plateau Teater (DPT). Tiket masuknya Rp 4.000,- per orang. Tempat ini berada di atas kawasan Telaga Warna. Ya, seperti namanya, tempat ini menyajikan pertunjukan film tentang kawasan wisata Dieng. Termasuk tentang kegunungapian dan kebencanaan di Dieng. Dalam suatu adegan, diputar dokumentasi tentang letusan Kawah Sinila bersama Timbang pada tahun 1979 yang memakan 149 korban jiwa.

Sepertinya sudah banyak destinasi yang kami kunjungi di Dieng hingga saat ini. Apakah sudah cukup? Tentu saja belum. Itu masih belum seberapa untuk mengungkap nirwana Dieng sesungguhnya. Apa saja yang kami datangi dari tadi masih berada pada kawasan utama Dieng di dataran kawah Dieng. Saatnya kami keluar kawah menuju destinasi-destinasi di pinggang Dataran Tinggi Dieng yang tak kalah eksotisnya.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Telaga Merdada merupakan destinasi yang patut untuk dikunjungi di bagian barat kawah Dieng. Telaga ini merupakan yang terluas di Dataran Tinggi Dieng. Yang menarik dari telaga ini adalah suasana telaga yang sepi dan tenang dengan hiasan perkebunan kentang di dinding-dinding bukit tepian telaga. Tak hanya itu, bagi para pemancing, Telaga Merdada adalah surga untuk mencari peruntungan mengail ikan.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Menjelajahi alam Dieng semakin ke arah barat, kami singgah di Sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda terkenal sebagai lubang raksasa di Dieng yang dipenuhi mitos. Konon, masyarakat setempat memercayai sumur ini tembus ke Laut Selatan. Kalau orang sanggup melempar batu melewati sumur Jalatunda, maka akan terpenuhi harapannya. Kami di sana lebih suka menikmati suasana dengan menghanyutkan diri mengamati hijaunya air sumur yang tenang dengan beriramakan kicauan burung-burung di sekitarnya.

Sekarang saatnya giliran pinggang sebelah timur Dieng. Kami menuju ke Agrowisata Teh Tambi. Hamparan perkebunan teh yang hijau kekuningan sungguh menyedapkan mata. Panorama di bawah kaki Gunung Sindoro dan Gunung Dieng menjadikan kami betah berlama-lama di sana. Kami pun bisa berinteraksi dengan ibu-ibu pemetik teh. Bahkan, kami secara langsung dapat merasakan sensasi memetik teh dari pohonnya. Pengetahuan yang bermanfaat. Kini, kami tidak sekedar tahu menyeruput teh, tetapi tahu bagaimana teh berasal.

Sesungguhnya, Dieng masih menyediakan banyak destinasi. Waktu sehari tak akan cukup mengeksplorasi setiap lekuk pesona tanah para dewa ini. Dieng masih memiliki Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Air Terjun Sikarim, Mata Air Tuk Bima Lukar, Telaga Cebong dan lain-lain. Bagi yang berminat wisata religi, ada makam Syekh Selomanik, seorang ulama penyebar agama Islam dan pekaringan Ki Kolodete, leluhur warga Dieng. Oleh karena itu, menginap di Dieng menjadi pilihan terbaik. Terlebih bila ingin merasakan sensasi dinginnya Dieng di malam hari. Banyak homestay di Dieng yang bertarif mulai dari Rp 100.000,00 per kamarnya.

Rasanya tak lengkap, berkunjung ke Dieng jika tidak menjajal kuliner spesialnya. Kami pun menikmati sajian kentang goreng yang renyah. Sangat nikmat di tengah hawa dingin yang menyelimuti Dieng. Kentang Dieng rasanya sangat spesial karena masih segar diambil dari ladang pertanian. Dataran Tinggi Dieng dikenal sebagai salah satu penghasil kentang terbesar di Jawa.

Kami juga mencicipi kuliner “buah para dewa”. Apa itu? “Buah para Dewa” adalah Carica. Buah ini sangat khas Dieng. Buah ini berbentuk mirip pepaya tetapi lebih kecil, lebih harum, lebih manis dan lebih segar. Carica enak dirasakan jika dinikmati sebagai manisan. Tak hanya itu, ternyata Dieng juga punya minuman eksotik yang berkhasiat untuk menambah kejantanan pria, yakni purwaceng. Purwaceng berasal dari olahan salah satu jenis rumput liar yang hanya tumbuh di Dieng.

Ada satu lagi yang tak boleh dilupakan ketika berkunjung ke Dieng. Jika melewati Wonosobo, tak boleh dilewatkan sajian kuliner Mie Ongklok yang melegenda. Kami merasakan sebuah mie yang lezat dengan keunikan kuah kental beraromakan rempah yang hangat bagi badan. Mie khas Wonosobo ini cocok sekali dinikmati dengan dipadukan sate sapi yang lezat.

Selain itu, masih ada satu kekhasan Dieng. Nirwana Dieng tak sekedar hanya mempesona alam, budaya maupun kulinernya. Dieng memiliki ‘indigenousity’ masyarakat yang tak akan ditemui di tempat lain. Yakni, fenomena anak gimbal di Dieng.

Di Dataran Tinggi Dieng, banyak dijumpai anak-anak berambut gimbal yang terbentuk alami. Konon katanya, mereka adalah titisan leluhur Dieng, yakni Ki Koledete. Ketika rambut gimbalnya tumbuh, anak gimbal ini menderita sakit panas. Anak gimbal juga mudah sakit-sakitan sepanjang usia. Anehnya, rambut gimbal tak bisa dicukur sembarangan. Kalau sembarangan, akan tumbuh lagi makin menggimbal. Pencukuran rambut gimbal harus dilakukan melalui suatu ruwatan. Ruwatan ini disertai dengan pemenuhan permintaan anak gimbal yang unik berbau mistik.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Ruwatan cukur rambut anak gimbal biasanya dilakukan secara massal. Acara ini menjadi semacam pesta rakyat di kawasan Dieng Plateau. Ruwatan dipusatkan di Kompleks Candi Arjuna setelah sebelumnya peserta ruwatan diarak mengelilingi kawasan utama Dieng. Pelaksanaan ruwatan lazimnya setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa atau bulan Juli-Agustus. Kini makin meriah, ruwatan telah dikemas bebarengan Dieng Culture Festival. Hajatan ini menyedot animo puluhan ribu pengunjung baik domestik maupun luar negeri.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Kami telah membuktikan nirwana Dieng. Khasanah alamnya begitu indah. Kekayaan budayanya sangat memesona. Sajian kulinernya menciptakan pengalaman luar biasa. Kekhasan masyarakatnya merupakan hal langka. Pun, dua hari di Dieng serasa kami menjadi bagian dari dewa-dewi yang bersemayam di Dieng. Di setiap jengkal tanah Dieng, kami dibuai oleh berjuta pesona yang tak terlupa. Terlebih kami merasa gagah di atas singgasana awan.

Dieng Plateau, Nirwana Dunia Para Dewa di Tanah Jawa

Ya, Dieng merupakan negeri di atas awan. Sewaktu turun pulang dari Dieng, kami laksana melewati awan-awan putih yang menggumpal. Saat berada di Dieng Plateau, langit begitu cerah. Namun, ketika sesampai di kaki Dieng, langit berubah mendung. Kini, tak tampak lagi di kejauhan puncak-puncak Dieng. Awan-awan seperti telah menutup tirai nirwana Dieng. Para Dewa-dewi Dieng pun kembali bersemayam di balik awan. Kami pun melambaikan tangan. Sampai jumpa Dieng, nirwana dunia para Dewa!

Tag : Dataran Tinggi Dieng, Telaga Warna Dieng

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR