Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo

Posted on : 2 Januari 2013
Categories : Trekking - Ekotour - Berpetualang - Mendaki Gunung, Trekking,

Tidak banyak orang menyadari betapa besar kekayaan Hutan Nantu bagi dunia. Selama ini masyarakat hanya diajarkan menghitung nilai ekonomi kayu-nya. Padahal Nantu adalah ikon dunia sekelas Pulau Bunaken dan merupakan hutan hujan tropis utama di Pulau Sulawesi. Tidak heran jika ilmuwan Jerman, Pauli Hien mengatakan Nantu adalah satu dari lima situs terbaik hidupan liar di Asia Tenggara.

Pujian Pauli Hien ini terlontar saat menyaksikan langsung hutan hujan tropis di Gorontalo ini. Bahkan pendapat serupa juga diungkapkan Will Duckworth, ilmuwan senior dari Wildlife Coonservation Sociiety (WCS) asal Inggris. Ia yakin bahwa hutan Nantu adalah salah satu hutan hujan tropis terbaik yang pernah ia kunjungi. Will Duckworth bisa mengungkap penilaiannya ini karena ia telah berkeliling dunia memasuki kawasan hidupan liar.

Penilaian ini menguatkan pendapat Alfred Russel Wallace, penjelajah alam kebangsaan Inggris yang menghabiskan waktu hidupnya untuk mengamati flora dan fauna di berbagai penjuru dunia setengah abad lalu. Pengamatan Walllace benar, Sulawesi memiliki tumbuhan dan hewan yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain manapun di dunia. Sekarang hanya Gorontalo dan sedikit di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara yang memiliki kekayaan khas Sulawesi ini. Sulawesi Selatan, Barat dan Utara sekarang tidak menyisakan hutan hujan tropis lagi.

Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo

Di Nantu, terdapat 127 jenis mamalia, 79 (62 persen) diantaranya merupakan satwa endemik, yang hanya ada di Sulawesi dan tidak di tempat lain mana pun. Juga ribuan jenis tumbuhan, binatang, serangga, ampibi, 90 jenis burung yang 35 jenis endemik, yang diantaranya belum tercatat dalam jurnal ilmiah.

Nantu: Kekayaan Hutan Dunia di Gorontalo

“Populasi Anoa di Nantu cukup bagus, ditaksir ada 5000 yang hidup di suaka marga satwa ini. Anoa merupakan hewan malam (nocturnal) yang hidup menyendiri (soliter). Nantu merupakan benteng terakhir kehidupan satwa ini karena di hutan lain sudah sulit dijumpai, jika hutan Nantu rusak maka punahlah satwa ini dan juga yang lain”, kata Lynn Marion Clayton.

Nantu memiliki keistimewaan dengan keberadaan kolam asin yang berukuran 20 x 60 meter ini. Terletak di rimba yang rapat pepohonan, kolam asin yang disebut Adudu ini menjadi sangat penting karena semua hewan setiap harinya datang untuk menjilati mineral garam dan sulphur yang berguna untuk percernaan tubuh hewan. Bahkan Babi rusa yang menyukai buah pangi yang beracun harus ke kolam ini untuk menetralisir racun di tubuhnya.

Di area becek ini juga bisa disaksikan dua Babi rusa jantan dewasa yang bertarung dengan mengangkat kaki depannya untuk memperebutkan kawasan atau Babi rusa betina.

Menurut Lynn Clayton, sebenarnya terdapat 2 kolam serupa Adudu yang pernah ditemukan di daerah tangkapan air sungai Paguyaman namun keduanya sudah rusak setelah ada pembabatan hutan dengan cara dibakar dan dijadikan ladang oleh masyarakat. Padahal sebelumnya, kedua kolam kaya mineral ini selalu dikunjungi Anoa, Babi rusa dan hewan lain.

Lynn dan juga timnya telah melakukan survey secara intensif selama 6 bulan di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara tidak menemukan kolam semacam Adudu di daerah tersebut. Dipastikan tidak ada kolam lain serupa Adudu di manapun di dunia. Di sini, saat satwa liar berkumpul untuk menikmati mineral, merupakan pemandangan luar biasa untuk menyaksikan berbagai hewan liar berkumpul di habitat aslinya.

Atas alasan inilah hutan Nantu layak menjadi ikon utama dunia, dan hanya Gorontalo yang memilikinya. Jika pemerintah dan masyarakat mampu melindungi dan melestarikannya, maka kekayaan ini sebanding dengan ikon dunia lainnya semisal pulau Bunaken.

Nantu juga sumber pembelajaran bagi masyarakat dan ilmuwan Gorontalo. Bukan tidak mungkin dengan kegigihan, akan banyak lahir doktor dari hutan hujan tropis terbaik dunia ini. Di sini juga bisa dilakukan kerjasama antara ilmuwan Gorontalo dan berbagai peneliti internasional, proses interaksi ini akan menghasilkan penemuan ilmiah baru dan sangat mungkin ditemukan spesies satwa atau tanaman baru .

Lokasi Adudu yang berada di hutan Nantu terletak di kaki gunung Boliyohuto. Sangat menarik untuk dikunjungi dan dipelajari, aksesnya bisa dijangkau melalui sungai Paguyaman dengan menyewa ketinting warga Mohiolo. Dari camp suaka marga satwa yang dibangun Yayasan Addudu Nantu Internasional (YANI), pengunjung hanya berjalan kaki 15 menit untuk sampai ke Adudu.

Pemerintah dan juga perguruan tinggi harus mampu mengajukan hutan Nantu sebagai situs warisan dunia (World Heritage Site) kepada badan PBB Unesco. Upaya ini akan semakin melambungkan pengakuan internasional terhadap sumber daya alam Gorontalo. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Tag : Suku Bajo: Kisah Manusia Perahu di Sulawesi, Burung Maleo: Satwa Endemik Sulawesi yang Patut Dilindungi, Museum Provinsi Sulawesi Utara

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR