Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
2 Januari 2013

Ditulis oleh
Rosyid Azhar

Kategori :
Ekotour - Berpetualang

0 Komentar

Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650

Posted on : 2 Januari 2013
Categories : Ekotour - Berpetualang

Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650

Ternyata para peneliti Eropa sudah mengenal babi rusa (Babyroussa babbyrussa) sejak abad ke-17. Tahun 1658 seorang warga Belanda bernama Piso membuat ilustrasi tubuh babi rusa dengan hanya bermodalkan potongan tengkorak yang ditemukan. Meski ilustrasi tersebut jauh dari tubuh Babi rusa sesungguhnya namun sepotong tengkorak tersebut telah menjadi pembuka studi babi rusa di Eropa dalam bahasa Latin. Buku Babi rusa karya Piso merupakan rujukan tertua yang pernah ditemukan di Eropa. Buku ini ada di Leiden dan terkenal di Belanda dan juga Eropa.

Alfred Russel Wallace, sang ilmuwan pengelana bergembira saat kapalnya merapat di Sulawesi. Informasi yang didapat tentang banyaknya satwa dan tumbuhan di pulau ini menggugahnya untuk menyaksikannya langsung. Untuk pertama kali ia melihat babi rusa di Hutan Likupang Minahasa tahun 1860. Ia mendekomentasikan secara visual hewan endemik Sulawesi ini. Dalam gambaran Piso tentang hewan ini kemudian disempurnakan setelah 200 tahun berikutnya.

Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650

Piso menggambarkan babi rusa sebagai hewan yang memiliki taring melengkung di depan matanya, tubuhnya langsing seukuran anjing kampung besar atau seekor rusa. Bulunya seperti anjing pemburu yang berwarna keabu-abuan, hewan ini memiliki mulut dan kepala seperti babi pada umumnya dengan mata dan telinga mungil. Kuku dan kakinya mirip rusa, dengan ekor yang bergelung melingkar seperti spiral. Babi rusa ini digambarkan sebagai hewan liar yang berasal dari zaman purba.

Rekaan tubuh yang berbekal sebuah tengkorak Babi rusa Piso ini menggelitik Lynn Marion Clayton, Doktor Eko-Biologi Babi rusa dari Oxford University, Inggris. Wanita ramah yang menghabiskan waktu 21 tahun di hutan Nantu, kawasan gunung Boliyohuto ini mengatakan bahwa ekor babi rusa tidak melingkar seperti spiral, melainkan lurus.

Hewan langka ini sejak dulu sudah menjadi daya tarik bagi peneliti dan ilmuwan Eropa, keunikan bentuk tubuhnya merupakan hal yang menarik. Sama seperti Anoa, Babi rusa merupakan satwa endemik yang tinggal di Sulawesi, daerah peralihan antara pengaruhi Asia dan Australia.

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia tentang satwa ini relatif sedikit. Justru yang paling banyak berasal dari hasil kerja bertahun-tahun Dr Lynn Clayton dan banyak ilmuwan negeri ini yang merujuk hasil penelitiannya.

Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650

Pembantaian besar-besaran telah menyusutkan jumlah Babi rusa. Umumnya para pemburu memasang jerat di daerah yang biasa dilaluinya atau di pinggiran kolam Adudu. Sebelum ada pengawasan, setiap minggunya tidak kurang dari 20 ekor Babi rusa dibunuh di Hutan Nantu. Bangkainya dikirim ke Minahasa dan Manado untuk diperdagangkan. Seekornya hanya dihargai Rp150.000 di tangan pemburu, jumlah yang tidak seberapa dibandingkan nilai ilmiahnya.

Tidak seperti babi hutan atau jenis lainnya, Babi rusa hanya beranak 1 sampai 2 ekor setiap melahirkan, tidak lebih. Sehingga perkembangannya sangat lambat. Perburuan liar telah menyurutkan populasinya di kawasan hutan Nantu.

Saat menyusuri hutan menuju Adudu, banyak jejak binatang ditemukan di tanah yang lembab dan basah. Jemmy Kumolontang, staf Lynn Clayton yang mantan pemburu menjelaskan, jejak kaki babi rusa lebih membulat sementara babi hutan cenderung persegi.

Babi Rusa Hutan Nantu telah Dikenal di Eropa Sejak 1650

Satwa ini tidak memiliki tempat tinggal (sarang) yang menetap, mereka berkeliaran di sepanjang hutan yang tidak jauh dari Adudu dan jika malam tiba memilih untuk tidur di sela-sela akar bawah pohon besar. Uniknya, satwa khas Sulawesi ini memiliki “kamar mandi” yang berbentuk kubangan berisi air. Di kolam seukuran tubuhnya ini Babi rusa mencampur air kencingnya dengan air dan menikmati kesegarannya. Kebiasaannya setelah mandi, babi hutan akan menggosokkan tubuhnya yang penuh lumpur di pepohonan sebagai penanda wilayah jelajahnya. Hanya orang yang biasa mengamati hidup babi rusa yang bisa melihat bekas gosokan tubuh hewan ini di batang pohon.

Di Hutan Nantu yang menyimpan kekayaan alam tiada tara ini juga bisa saksikan bekas-bekas Babi rusa melahirkan. Betina yang akan melahirkan akan mengumpulkan potongan daun untuk dijadikan alas. Berbagai macam daun perdu dan semak, bahkan daun woka dipotong untuk dijadikan kasur. Di atas alas empuk ini bayi mungil babi rusa lahir.

“Babi rusa sangat peka, mereka tidak bisa hidup di daerah yang telah terbuka. Ini bedanya dengan babi hutan. Babi rusa hanya bisa tinggal di hutan yang masih terjaga keasliannya. Beruntunglah Gorontalo memiliki Hutan Nantu yang masih menyimpan kekayaan hutan hujan tropis terlengkap di Sulawesi. Masyarakat harus menjaganya” tuturnya saat menyusuri sungai Adudu untuk mengenalkan keindahan alam Gorontalo.

Tag : Rumah Adat Dulohupa: Wajah Budaya Gorontalo, Malam Tumbilotohe: Menikmati Gorontalo yang Ramai Berhiasakan Lampu, Kerawang: Kerajinan Sulam Khas Gorontalo, Museum Provinsi Sulawesi Utara , Suku Bajo: Kisah Manusia Perahu di Sulawesi, Burung Maleo: Satwa Endemik Sulawesi yang Patut Dilindungi

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR