Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
8 Agustus 2011

Ditulis oleh
Diku

Kategori :
Desa Tradisional

3 Komentar

Toraja: Nuansa Mistikal Festival Kematian

Posted on : 8 Agustus 2011
Categories : Desa Tradisional

torajaSaya tidak ingat kapan tepatnya saya mengunjungi tempat itu. Saya hanya ingat, saat itu adalah hari yang cerah. Sama cerahnya dengan hati saya yang baru saja melalui ujian kelulusan SMA, dua tahun silam.

Toraja adalah tanah yang sakral. Semua yang pernah kesana pasti setuju. Terletak di bagian utara Sulawesi Selatan, dataran tinggi yang hijau ini menyimpan banyak misteri yang indah. Toraja adalah tanah sakral yang 'misti'. Rasanya semua yang tidak kamu percaya bisa terjadi disana. Mayat yang konon berjalan sendiri ke liang kubur, kematian yang lebih sakral lebih dari apapun, dan boneka yang sejak lama menjadi 'wakil' jiwamu yang telah tiada di dunia ini. Kamu percaya hal seperti itu masih menjadi hal yang faktual di dunia yang makin lama makin moderen ini? Cobalah mengunjungi Toraja, niscaya kamu akan percaya.

Orang Toraja sudah mengalami modernisasi, sebenarnya, terutama sejak kedatangan misionaris Belanda di abad ke-19. Tapi kepercayaan mereka terhadap Puang Matoa (a.k.a "Sang Pencipta") tidaklah pudar. Walau kebanyakan beragama kristen, kepercayaan Aluk to Dolo ("The Way of the Ancestors") tetap turun-temurun terwariskan dan terasimilasi dalam budaya hidup moderen mereka. Sampai sekarang, bagaimana mereka melihat kematian, masih sama dengan bagaimana mereka melihat kematian dahulu kala. Sakral, suci, suatu kejadian yang patut "dirayakan," karena pada akhirnya yang meninggalkan berhasil bertemu Puang Matoa.

Biasanya mereka merayakan kematian dengan upacara pemotongan kerbau belang atau Tedong bonga, kerbau ras khusus yang hanya bisa hidup di daerah Toraja. Kerbau yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah ini akan diadu di salah satu prosesi upacara adat tersebut sebelum disembelih. Dipercaya bahwa, Tedong bonga inilah yang akan dinaiki ia yang meninggal ke tempat Puang Matoa berada. Saya sempat bertandang ke salah satu "perayaan" kematian tersebut dan melihat bagaimana para tedong dipertandingkan sebelum kemudian di potong. Saya bersumpah saya melihat salah satu kerbau menangis sebelum memasuki arena laga. Saya berpikir, apakah ia tahu ia akan mati? Sedihkah ia? Ataukah ia merasa terhormat?

Tedong bonga terbaik akan dipotong duluan. Darah Tedong bonga menyembur kemana-mana bak kembang api menghiasi terpantul di mata para turis yang terkagum-kagum dengan keunikan budaya yang masih dipertahankan ini. Agaknya, anda sekalian berpikir bahwa kebudayaan ini dipertahankan demi kepentingan turisme, tapi saya tidak setuju. Bagi mereka, kebudayaan ini memang penting. Teman saya yang orang Toraja berkata bahwa saat ia meninggal, ia akan diawetkan terlebih dahulu, menunggu anggota keluarga lain yang meninggal. Dengan demikian, satu Tedong bisa dipakai mengantar jiwa bersama. Kematian adalah hal yang mewah bagi masyarakat Toraja, adalah suatu investasi yang besar. Kalau belum punya uang membeli satu tedong bonga, lebih baik menunggu sampai uang ada, baru mayit diupacarakan. Yang penting, jiwa-jiwa yang pergi ada yang mengantar.

Menyumbangkan tedong bonga ke relasi yang meninggal juga sudah biasa. Aturan tidak tertulisnya, saat keluarga yang menyumbang meninggal, yang menerima sumbangan tedong bonga pun akan memberi balik. Karena itu, anda bisa menilai status sosial seseorang/sebuah keluarga atau seberapa kaya seseorang/sebuah keluarga dari jumlah Tedong bonga yang dipotong saat keluarga tersebutmengadakan upacara kematian. Biasanya yang dihormati akan mendapat banyak sumbangan tedong , dan yang kaya bisa membeli banyak tedong. Setelah disembelih, biasanya tanduk tedong bonga disusun secara vertikal di sisi depan rumah Tongkonan yang merupakan rumah adat orang Toraja. Status sosial suatu keluarga juga dapat dilihat dari banyaknya tanduk tedong yang tersusun di Tongkonan milik mereka. Upacara kematian yang saya hadiri kemarin kebetulan banyak tedong bonganya. Saya menebak yang meninggal ini adalah orang yang kaya atau tetua yang dihormati.

Kalau yang mayit berjalan sendiri ke pemakaman, saya tidak pernah melihatnya. Konon hanya di suatu upacaya "khusus" hal tersebut bisa terlaksana. Yang saya maksud "khusus" adalah spesial, tertutup, dan hanya dihadiri oleh orang-orang berdarah Toraja murni. Dikatakan bahwa apabila ada satu saja orang saja yang bukan darah murni Toraja mendadak melihat, mayat akan terjatuh dan berhenti berjalan. Atau, bila sejak awal mayat tidak mau berjalan, artinya ada orang yang seharusnya tidak menghadiri upacara khusus tersebut.

Membayangkan pemakaman toraja, jangan bayangkan nisan-nisan yang berjajar diatas tanah merah. "Nisan" orang Toraja adalah lubang-lubang di tebing tinggi. Benar, saat meninggal, orang Toraja di makamkan di tebing-tebing. Di tebing-tebing tersebut biasanya dibuatkan tempat khusus untuk menaruh boneka-boneka yang akan menjadi representasi jiwa mereka di bumi. Boneka tersebut disebut Tau-Tau, yang dibuat semirip mungkin dengan paras orang yang meninggal. Salah satu situs pemakaman yang sering dikunjungi turis adalah Londa. Kalau bukan di tebing, ya orang-orang Toraja memakamkan yang mati di sebuah batu bulat besar yang disebut Liang Baa', Batu-batu besar tersebut dapat ditemukan di pinggir jalan atau di halaman rumah seorang Toraja. Biasanya, satu keluarga memiliki satu Liang Baa' sebagai pemakaman keluarga mereka.

Orang Toraja juga menghargai kematian mereka yang belum sempat merasakan dosa, alias bayi. Orang Toraja memakamkan bayi mereka di batang-batang pohon besar ditempat yang paling tinggi, agar mayit bayi tidak diincar binatang. Dipercaya bahwa dengan memakamkan bayi di pohon jiwa bayi yang suci akan hidup sebagai jiwa yang hidup abadi di dalam pohon itu. Sejak dulu hanya ada satu situs kuburan bayi yang ada di toraja, dan sejak ratusan tahun yang lalu pohon-pohon tempat "tinggal" para bayi itu masih hidup, sesuai kepercayaan orang Toraja bahwa sang pohon (alias sang bayi) akan hidup abadi.

Kepercayaan yang indah, bukan? Kepercayaan-kepercayaan ini tidak ada yang punya selain orang Toraja, para penghuni dataran tinggi Sulawesi Selatan (Toraja berasal dari kata "To" yang berarti "orang" dan "riaja" yang berarti "dataran tinggi"). Kalau anda tertarik untuk tenggelam didalam keindahannya seperti bagaimana saya tenggelam, cobalah anda berkunjung ke daerah ini. Di sela-sela kehidupan organisasi dan kehidupan akademis saya sebagai mahasiswa di kota besar, saya merindukan sensasi mistik menenangkan yang diberikan oleh kota kecil Toraja. Memikirkannya saja, saya ingin pulang ke Sulawesi Selatan, tanah kelahiran saya, dan berkunjung ke tanah tempat bertemunya globalisasi dan warisan budaya sakral leluhur tersebut(dqu).

Tag : Tana Toraja : Menyelami Budaya Khas Austronesia , Tongkonan: Rumah Adat Toraja yang Mengagumkan

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

    TULIS KOMENTAR