Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
9 Agustus 2011

Ditulis oleh
Kompas.com

Kategori :
Kuliner

0 Komentar

Nikmat! Nasi Berselimut Daun Jati

Posted on : 9 Agustus 2011
Categories : Kuliner

nasi daun jati

Lauk berlimpah ruah terhampar di meja panjang. Sementara itu nasi sekepalan tangan tersaji di atas daun jati. Sesaat otak kebingungan, lauk-lauk lezat di depan mata seakan berteriak serentak ingin berkencan dengan nasi. Nasi Jamblang khas Cirebon menjadi menu wajib saat berkunjung ke Kota Cirebon, Jawa Barat.Mampirlah ke Jalan Gunung Sari dan deretan warung kaki lima Nasi Jamblang siap merayu mata dan hidung Anda.

Sebenarnya, Rumah makan Nasi Jamblang yang paling tenar di Cirebon adalah Nasi Jamblang Mang Dul. Letaknya tak jauh dari Jalan Gunung Sari. Jika Anda menyebut Nasi Jamblang ke tukang becak, pasti diantar ke Mang Dul. Namun, makan Nasi Jamblang di pinggir jalan pun begitu asyik.

Pengunjung duduk di kursi panjang, berhadapan dengan hamparan lauk. Di kala penuh, siku-siku bersentuhan antara sesama pengunjung yang tak saling kenal. Lalu, mengobrolah dengan pemilik warung. Ada nuansa akrab disana.

Salah satu warung Nasi Jamblang di Jalan Gunung Sari yang paling ramai dipadati para pemburu kuliner adalah Warung Nasi Mas Totok. Warung tersebut pertama kali didirikan oleh Almarhum Sunario, suami Ibu Dewi. Ternyata, suami Ibu Dewi adalah saudara dari Mang Dul.

"Dulu di jalan ini saya sendiri yang jualan. Lama-lama makin banyak yang muncul," tutur Ibu Dewi.

Nama Totok sendiri adalah anak bungsu dari Ibu Dewi. Warungnya itu sendiri sudah ada sejak tahun 1973. Tak hanya wargaCirebondan wisatawan yang doyan makan di sini. Selebritis pun pernah mampir menyicip Nasi Jamblang. "Dorce pernah makan di sini," katanya.

Nasi Jamblang sendiri adalah nasi yang dibungkus dalam daun jati. Ibu Dewi biasanya membuka satu bungkus nasi seukuran kepalan tangan di saat ada yang memesan. Lalu, Anda bisa mengambil sendiri lauk yang Anda inginkan. Mulai dari aneka olahan tahu dantempe, sate udang dan kerang, hati ayam, telur, dan masih banyak lauk lainnya. Comot saja mana yang Anda suka. Hati-hati jangan kalap mengambil lauk.

Nasi yang dibungkus daun jati itu sendiri ternyata punya kisah di baliknya. Sebuah tradisi kuliner turun temurun yang konon berhubungan pula dengan Sunan Gunung Jati. Sejarah Cirebon memang tak bisa lepas dari peran Sunan Gunung Jati, tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

"Ada cerita, dulu Sunan kalau makan nasi beralaskan daun jati," ungkap Ibu Dewi.

Ia juga mengatakan nasi yang dibungkus daun jati akan tahan lebih lama. "Tidak gampang basi. Aromanya juga beda," jelasnya. Benar saja, saat mendekatkan hidung pada nasi, ada aroma harum yang semilir hampir tak tercium. Dipadu aneka lauk pilihan, satu porsi nasi pun rasanya tidak cukup. Nikmat!

Tag : Women Fiesta: Jelajah Kuliner Nusantara 2011, Panduan Kuliner Yogyakarta, Panduan Kuliner Bandung, Kuliner Istimewa Jawa Barat

 

TULIS KOMENTAR