Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
8 Januari 2013

Ditulis oleh
CahLanang

Kategori :
-

0 Komentar

Lovely Indonesia - Komodo National park

Posted on : 8 Januari 2013
Categories : -

″Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, Pergilah ketempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan di Dunia ini.


Lovely Indonesia - Komodo National park


Sunset Hari Pertama "Sailing", 30 Juni 2011


29 Juni 2011, saya dan teman seperjalanan terbang menuju Denpasar dari terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 16.05 WIB. Seharusnya kami berangkat pada pukul 15.10 WIB tapi burung besi bertuliskan "now everyone can fly" yang kami tumpangi delay selama 45 menit.


Matahari mulai menyembunyikan sinarnya, bintang-bintang dan awan mulai berpadu menghiasi langit Pulau Dewata setibanya kami di sana pada pukul 18.30 WITA. Setelah beristirahat sejenak dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Padang Bai. Kami hanya bisa melihat-lihat kehidupan malam di Pulau Bali dari kaca jendela mobil sewaan, karena mengejar waktu untuk sampai Lombok keesokan harinya demi sebuah event bernama "Sailing Komodo".


Kurang lebih 2 jam waktu yang ditempuh dari Bandara Ngurah Rai menuju Pelabuhan Padang Bai. Sekira pukul 22.00 WITA, kami akhirnya tiba di pelabuhan yang menghubungkan Bali dan Lombok ini. Di perjalanan kami sempatkan membeli 2 bungkus nasi pedas di sekitaran Kuta. Rasa dan harga berbanding lurus untuk makan malam kami hari ini. Sesampainya di Padang Bai, saya dan salah seorang teman menuju loket dan membeli tiket penyeberangan menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Di ruangan penjualan tiket terlihat beberapa turis asing dengan matras dan sleeping bag terbaring di lantai keramik putih. Entah kemana tujuan mereka, tapi pastinya bertujuan untuk menikmati keindahan alam Indonesia.


Suasana pelabuhan masih sepi, belum ada kapal bersandar yang bisa kami tumpangi. Kurang lebih satu jam kami habiskan di ruang tunggu gedung kantor syahbandar Padang Bai sampai sebuah kapal akhirnya merapat. Klakson kapal berbunyi layaknya bel sekolah di pagi hari tanda kapal siap ditumpangi. Hanya berselang setengah jam dari pukul 23.30 WITA, kapal sudah berlayar melintasi Selat Lombok.

Tempat terbaik dari perjalanan malam dengan menggunakan kapal laut adalah memilih tempat di dek teratas kapal dimana kita bisa membaringkan tubuh sambil memandang ke langit penuh bintang-bintang. Langit Indonesia bagian Tengah memang masih bersih dan tidak banyak terkena polusi. Belum puas mata ini dimanja bintang-bintang, apa daya akhirnya mata ini terpejam juga. Setelah dua jam tertidur dari total empat jam perjalanan dengan kapal ini, akhirnya kami sampai juga di Bumi Lombok.

Pemandangan di Pelabuhan Lembar ini tak jauh berbeda dengan Padang Bai; begitu tenang dan sepi karena mungkin orang-orang masih terbuai dalam mimpi. Di antara mobil dan truk-truk yang terparkir, kami beristirahat sejenak di mushola. Waktu masih pukul 04.00 WITA saat itu; tampak beberapa orang tertidur di teras mushola. Membasuh tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya dan selanjutnya menunaikan kewajiban lima waktu kami lakukan sebelum berangkat menuju daerah Kemasan, Lombok. Di Kemasan, kami singgah untuk sekedar bersilahturahmi dengan beberapa teman yang akan menaiki gunung impian bagi sebagian banyak orang, Gunung Rinjani.


Suasana pelabuhan sudah mulai ramai pada pukul 05.00 WITA. Menumpang mobil carry ber-plat kuning, kami meninggalkan Lembar menuju Kota Mataram selama kurang lebih 2 jam. Kemudian, kami makan pagi gratis di rumah teman, bebersih diri dan berbelanja makanan kecil. Menjelang siang, kami berpisah dengan tim yang menuju Gunung Rinjani. Mereka menumpang mobil menuju Sembalun, sementara saya beserta 3 orang teman menumpang taksi menuju Terminal Mandalika, tempat di mana "EO Kencana" menjemput kami untuk mengikuti rangkaian tur Sailing Komodo.

Selanjutnya, kami menuju Pelabuhan Bayangan Kayangan dengan menumpang bus ukuran sedang bertuliskan pariwisata. Kami menempuh perjalanan selama 2 jam bersama 11 turis asing dan 2 orang Indonesia sebagai awal dimulainya perjalanan kami menuju world heritage di Indonesia Bagian Tengah. Setibanya di pelabuhan, kami briefing secukupnya dan kapal pun berlayar diiringi Adzan Asar untuk Lombok dan sekitarnya.

Lovely Indonesia - Komodo National park

Matahari Terbit, Laut Indonesia Tengah (1 juli 2011)


Gradasi warna biru langit dan jingga Matahari yang masih di bawah garis cakrawala menghiasi pagi itu. Malam sebelumnya pun tak kalah indahnya, tak pernah bosan dengan kerlap-kerlip bintang bahkan ada beberapa bintang jatuh menyemarakkan malam itu. Belum lagi keindahan milky way pita kabut (kumpulan jutaan bintang) bercahaya putih yang membentang di langit. Meski tampak samar-samar namun sungguh indah untuk dipandangi sambil berbaring di dek depan kapal kayu.

Terombang-ambing pelan di lautan selama kurang lebih 12 jam dari Pelabuhan Kayangan, Lombok, kami pun tiba di Gili Bola untuk beristirahat sejenak sambil menunggu pagi. Waktu menunjukkan pukul 03.00 WITA saat kami sampai di sana dan pelayaran dimulai kembali saat menjelang subuh.


Gradasi warna biru langit pun tergantikan oleh jingga Matahari yg mulai muncul dari persembunyiannya. Matahari terbit yang sempurna! Beberapa kali saya memencet tombol rana kamera demi mengabadikan keindahan alam Timur pagi itu. Menyeduh segelas teh dan meminumnya di dek depan kapal sambil memandang Matahari yang mulai beranjak menaiki langit adalah hal lainnya yang saya lakukan. Jingga pun akhirnya tergantikan sinar perak Matahari yang cukup panas.

Treking Pulau Moyo, 1 Juli 2011


Setangkup roti bakar berlapis mentega dan selai strawberi menemani perjalanan kami menuju Pulau Moyo. Hari masih pagi, waktu menunjukkan pukul 08.00 WITA setibanya kami di Pulau Moyo. Pulau ini tepat berada di sebelah Utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Meski masih pagi, Matahari sudah terik kala itu.

Tujuan kami yang utama adalah mengunjungi air terjun yang ada di pulau ini. Kapal tidak terlalu merapat ke pulau, sebagian dari kami menggunakan sampan kecil untuk menjejakkan kaki di pulau ini dan sebagian lainnya memilih menyemburkan diri dan berenang ke pinggir pulau. Kenapa tidak merapat di dermaga? Dermaga hanya ada di sisi lain Pulau Moyo, tepatnya di Amanmana Resort. Amanmana adalah sebuah hotel bintang lima yang menyuguhkan kemewahan dan privatisasi bagi pelanggan mereka. Mengingat modal yang kami kantongi, tidak memungkinkan bagi kami untuk singgah di resort tersebut.


Mengikuti jalan setapak, kami melintasi hutan dan melewati beberapa aliran sungai dangkal. Sungai yang kami telusuri selama kurang lebih 30 menit itu berakhir di sebuah air terjun eksotis dengan kolam-kolam alami, juga "tangga-tangga" yang seakan-akan seperti buatan manusia karena terlihat begitu simetris dan nyaris sempurna memanjakan mata.

Lovely Indonesia - Komodo National park



Lovely Indonesia - Komodo National park


Air terjun ini tidak seperti air terjun pada umumnya yang airnya turun deras dari ketinggian dan mengakibatkan buih-buih seakan terbang disertai bunyi kencang air menabrak bumi di bawahnya. Air Terjun Moyo ini begitu tenang, setenang alam di sekitarnya. Untuk dapat lebih menikmati air terjun ini saya dan beberapa teman seperjalanan "memanjat" tebing di samping aliran air, pada awalnya kita seperti menaiki tangga alami dan selanjutnya "merambat" mengikuti kontur tebing.


Beberapa kali melewati kolam-kolam alami dan berakhir di kolam sedalam kurang lebih 6 m. Diatas kolam ini terdapat dahan pohon dimana orang-orang yang berkunjung ke Air terjun ini melakukan Atraksi Lompat Diri. Saya tidak melompat krn khawatir terjadi apa-apa dan karena saya sadar perjalanan saya masih panjang :D . Suhu air cukup dingin di sini tapi cukup sejuk di bandingkan temperatur Indonesia Bagian Tengah :D.


Satu Setengah jam telah berlalu saatnya melanjutkan perjalanan menuju Pulau berikutnya, pulau di mana terdapat Danau Air Asin yang tercipta akibat Letusan Gunung Tambora.




Lovely Indonesia - Komodo National park

Danau Satonda, Pulau Satonda -Laut Flores-

Danau ini sejatinya merupakan kaldera Gunung Satonda yang berdiri sekitar 2.000 SM. Pada 1815, Gunung Tambora di Dompu meletus dan mengirimkan ombak besar yang membanjiri kaldera Satonda, lalu menyulapnya menjadi danau berair asin.

Tak banyak yang bisa dilakukan di sini selain Foto-Foto dan menikmati keasrian danua di tengah pulau ini. Saya hanya sebentar menginjakan kaki di sini, karena saya terlalu lama menikmati pesona bawah air di sekitar dermaga Pulau Satonda. Bermodalkan Google-Snorkle-dan Fin cukup untuk berenang dengan ikan warna-warni di antara terumbu karang yang indah.




Lovely Indonesia - Komodo National park



Tag : Taman Nasional Komodo, Mengenal Komodo Lebih Dekat, Menyelami Surga Bawah Laut di Taman Nasional Komodo

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR