Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
8 Agustus 2011

Ditulis oleh
Della Sevilla

Kategori :
Berpetualang

0 Komentar

Mengunjungi Pulau Pertama"

Posted on : 8 Agustus 2011
Categories : Berpetualang

Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Pulau Pramuka bersama dengan teman-teman "seperjuangan" semasa kuliah master, kedatangan saya kali ini adalah untuk melakukan green activities. Pemilihan kepulauan seribu selain tempatnya yang dekat dengan Jakarta (sehingga dapat dijangkau dengan biaya yang relatif murah dan cepat), juga karena Kepulauan Seribu saat ini memiliki beragam "eco friendly activities".

Perjalanan ke Pulau Pramuka paling gampang ditempuh dengan menggunakan speed boat dari Marina Ancol sekitar 1,5 jam. Berangkat dari marina harus jam 8 pagi tepat, karena setelahnya tidak akan ada pemberangkatan lagi. Mengingat sempitnya waktu keberangkatan kami, maka persiapan harus dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya agar lebih matang. Sesampainya disana, kami sudah menyewa kamar di Villa D’lima yang letaknya sangat dekat dengan dermaga. Harga kamar per malam sekitar Rp 300.000,- untuk 2-4 orang, sebenarnya kami mendapati penginapan di sebelahnya menawarkan harga yang lebih murah, namun karena jumlah kami yang banyak membuat kami harus mencari penginapan yang menawarkan banyak kamar kosong dan saya yakin sebenarnya masih banyak penginapan yang lebih murah.

Sebuah pemandangan dari dermaga Pulau Pramuka

pemandangan dermaga pulau pramuka

Jika tujuan anda adalah untuk menghilangkan penat yang dibawa dari kota, maka boleh dibilang tempat ini tidak direkomendasikan untuk itu karena tidak ada sesuatu yang spesial untuk dilihat di Pulau Pramuka sendiri, hanya saja kalau kita jeli dan mau berkeliling pulau, kita akan menemukan banyak pusat aktivitas yang sangat bermanfaat untuk alam di sini, ya itu tergantung dengan diri anda sendiri, karena bagi saya melakukan sesuatu dengan alam entah itu menikmatinya tanpa perlu berpikir dan menguras tenaga ataupun berbuat sesuatu dengan mengeluarkan tenaga dan pikiran "ekstra" adalah hiburan juga. "It is all about doing what we can do to our environment". Mungkin satu-satunnya aktivitas yang bisa disebut full hiburan yang kami lakukan adalah snorkeling, karena kawasan perairan sekitar pulau seribu memang memiliki beragam terumbu karang (dan terus dikembangkan) yang cukup indah. Penginapan D’lima juga menyediakan penyewaan serta pemanduan snorkeling. Kami melakukan itu semua di hari pertama.

Penangkaran penyu

Kami memulai hari kedua dengan mengunjungi penangkaran penyu yang berada di bagian belakang dari dermaga Pulau Pramuka. Di tempat ini, Pak Sugeng, Pak Salim, serta beberapa pengelola lainnya berusaha menyelamatkan populasi penyu di daerah Kepulauan Seribu dengan cara mengamankan telur-telur penyu (yang dengan mudah bisa dimakan oleh predator sekitar seperti kucing), melepaskan bayi penyu (disebut tukik) kembali ke laut, serta menangkarkan penyu-penyu yang sakit ataupun cacat. Dari tempat ini kami berkesempatan mengetahui lebih jauh mengenai penyu-penyu di Kepulauan Seribu, sekaligus melepaskan tukik-tukik kembali ke laut.

Ada sekitar 20 ekor tukik yang pada pagi itu siap dilepaskan ke laut. Saya melihat satu ekor tukik yang sudah bergerak dengan sangat lincah seakan tidak sabar melihat dunia luas. Segera saja saya abmil tukik tersebut, sebelum teman-teman yang lain memgambilnya. Seperti perkiraan saya, makhluk kecil ini langsung menggeliat di tangan saya, berusaha melepaskan diri. Dalam waktu singkat, setiap orang sudah memegang seekor tukik dan memberinya nama. Karena saya malas member nama, jadi saya cari nama paling umum dan paling mudah diingat, ‘Si Tukik".

si tukik

Beberapa menit kemudian setiap orang sudah berada di pinggir pantai dalam posisi jongkok, memegang tukik kea rah berlawanan dengan laut (sebenarnya sampai saat ini saya masih mempertanyakan kenapa posisi tukik harus berlawanan dengan laut? Apakah mungkin karena dia harus melihat pantai tempat kelahirannya sebelum untuk pertama kalinya mengarungi laut lepas?). Belum benar-benar saya lepaskan Si Tukik, dia sudah menggerak-gerakan kaki-kakinya dengan kuat seakan-akan dia sudah berenang bebas.Hanya butuh waktu sekitar 10 detik baginya untuk memenangi pertandingan. Garis finishpun telah dicapai, yaitu batas pasir dengan air laut. Cukup menyenangkan juga melihat bagaimana usaha para tukik ini merangkak kembali dari pantai menuju laut, lalu berenang hingga tidak terlihat lagi. Melaihat bagaimana lincahnya Si Tukik, saya tidak khawatir dan yakin dia akan survive. Beberapa catatan menyebutkan bahwa perjalanan penyu-penyu ini bisa sampai Eropa Barat (Prancis). Selain itu penyu juga akan kembali ke pulau tempat dia dilepas untuk bertelur.


Masih di tempat yang sama, setelah melepas tukik-tukik kami mencoba membantu menanam mangrove. Sebagaimana kita ketahui, mangrove sangat berguna untuk menahan erosi dari air laut serta tsunami. Menurut Pak Salim, Proses penanaman mangrove di Pulau Pramuka sudah berlangsung sejak tahun 1980an, dan beliau adalah salah seorang "pionir" yang pertama kali menanam mangrove-mangrove tersebut. Bukan hanya mangrove dan penyu, di Pulau Pramuka juga terdapat beberapa jenis aktivitas lingkungan lainnya, termasuk konservasi terumbu karang. Terumbu karang merupakan biota laut yang sangat penting di Kepulauan Seribu, karena menjadi habitat bagi beragam biota laut lainnya.


Perjalanan kami mengunjungi Pulau Pramuka harus diakhiri sesaat setelah boat untuk pulang sudah siap menjemput kami. Untungnya tidak seperti waktu pergi, kami tidak lagi merasakan terpontang-panting karena ombak hari itu cukup tenang. Dalam hati saya masih terbersit keinginan untuk kembali ke Kepulauan Seribu dan menjelajahi pulau "kedua", "ketiga", dan seterusnya serta biota sekitar yang masih sangat banyak dan tidak kalah menarik.

GALLERY

Tag : -

 

TULIS KOMENTAR