Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
22 November 2011

Ditulis oleh
Ultimo Paradiso

Kategori :
Budaya

0 Komentar

Ribuan Ketupat Bertebaran di Udara

Posted on : 22 November 2011
Categories : Budaya

Desa Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung adalah salah satu desa adat di Bali yang kaya akan keunikan adat dan budayanya. Setiap tahunnya digelar sebuah tradisi yang unik dan menarik yang masih berlangsung hingga sekarang. Tradisi tersebut adalah Aci Rah Pengangon atau lebih dikenal dengan Perang Ketupat atau Perang Tipat yang dilakukan masyarakat setempat khususnya laki-laki.

Perang Tipat ini berlangsung secara turun temurun dan dilaksanakan di depan Pura Desa Lan Puseh Desa Adat Kapal, Mengwi. Sama halnya dengan ritual adat lainnya, sebelum perang masyarakat desa berkumpul di pura dimana diawali dengan proses sembahyang bersama oleh seluruh warga desa setempat.

Menurut tradisi, Perang Tipat ini dilakukan setiap Purnama Kapat atau pada saat purnama bulan ke empat dalam penanggalan Bali sekitar bulan September-Oktober dan pelaksanaannya diwujudkan dalam berupa tipat dan tipat bantal/semacam ketupat.

Ketua Karang Taruna Desa Adat Kapal, Nyoman Sukataya, mengatakan ada 12 biji tipat dan bantal masing-masing dari 200 KK, 18 banjar yang ada di Kecamatan Mengwi, diperkirakan ada 12.000 jiwa atau penduduk. “Total keseluruhan ada sekitar 43.000 tipat dan tipat bantal,” ujarnya.

Usai sembahyang, perang pertama dilakukan di dalam pura terlebih dahulu dan pindah ke jalanan di depan pura kurang lebih selama 20 menit dan jalan ditutup sementara selama perang berlangsung dan sempat membuat macet arah Denpasar-Gilimanuk.

Perang tipat terbagi dalam dua kelompok yaitu utara dan selatan dimana keduanya saling melempar atau menyerang kubu lawan dengan tipat dan tipat bantal dan mencoba mempertemukannya di udara. Tidak hanya peserta saja yang menjadi korban, penonton bahkan fotografer yang mengabadikan momen pun juga korban. Tidak ada kata istilah dendam dalam perang ini.

Klian Desa Adat Kapal, A.A Gede Dharmayasa, menjelaskan tradisi perang tipat dan tipat bantal ini erat kaitannya dengan kehidupan pertanian masyarakat.

“Perang tipat berarti bentuk rasa terima kasih kepada Sang Hyang Widhi atas berlimpahnya hasil panen di desa ini,” terangnya.

Setelah perang berakhir, para peserta membersihkan sisa-sisa dari perang dan dikumpulkan menjadi satu. “Sisa-sisa yang sudah terkumpul kemudian diambil dan ditaburkan ke sawah pendudu di desa adat Kapal,” tegasnya. (Ultimo Paradiso)

Tag : Bali

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR