Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
24 November 2011

Ditulis oleh
Indobackpacker

Kategori :
Desa Tradisional - Budaya

0 Komentar

Nias: Jejak Budaya Megalit di Nusantara

Posted on : 24 November 2011
Categories : Desa Tradisional - Budaya

Di Gomo setidaknya ditemukan 14 titik yang merupakan situs batu megalit teapi yang sudah dibuka untuk umum baru empat situs, semua yang telah dipugar pemerintah. Arca-arca batu berusia ratusan tahun bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk.

Semua situs itu terletak di ladang dan hutan penduduk setempat di daerah Idanotai, Lahusa Satua dan Tundu Baho. Untuk menuju ke sana hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua, itu pun harus menyeberangi arus sungai dan jalan setapak di pegunungan yang kemiringan konturnya mencapai 45º derajat sehingga cukup sangat melelahkan memang.

Kalau di Tanah Batak ada kata Horas maka di Nias ada kata Ya'ahowu. Fungsinya kurang lebih sama sebagai sapaan mengandung kebaikan. Ya'ahowu secara harfiah bisa diartikan Terberkatilah Anda!

Di Nias jangan segan-segan untuk menyapa orang yang Anda temui dengan sapaan Ya’ahowu. Orang yang Anda sapa akan menjawab dengan antusias. Kata ini jadi kalimat pembuka yang efektif jika seseorang ingin bertanya atau berdialog dengan penduduk Nias.

Nias memang unik, pulaunya terisolasi Samudera Hindia. Topografinya berkontur ekstrem. Dari pantai yang landai langsung menanjak ke daerah perbukitan dan pegunungan. Di daerah ini tradisi megalit belum terhapuskan. Nias termasuk salah satu dari tujuh tempat di dunia yang budaya megalitnya masih hidup, The Living Megalith Culture. Dan karena itulah UNESCO merencanakan memasukan Nias sebagai World Heritage, warisan dunia dari Indonesia.

Setelah di hajar gempa pada 28 maret 2005, pariwisata Nias mengalami pukulan berat bahkan sempat kolaps. Padahal, Nias memiliki banyak sumber daya alam dan budaya yang khas, misalnya desa-desa adat dengan tradisi megalitiknya yang punya potensi penarik wisatawan domestik dan mancanegara.

Ibukota Nias adalah Gunungsitoli, untuk mencapainya ada beberapa rute yang bisa kita tempuh. Bisa melalui kota Medan atau kota Padang. Dari kota Medan harus melalui udara, ada maskapai penerbangan Merpati dan SMAC yang melayani jalur ini. Setiap harinya setidaknya ada dua penerbangan, pagi dan siang. Tarifnya berkisar di angka Rp.500.000,-. Pesawat akan mendarat di Bandara Binaka, Gunung Sitoli. Jika dari Padang ada dua jalur alternatif yaitu darat dan udara. Kalau jalan darat dari Padang harus ke Sibolga terlebih dahulu lama perjalanan sekitar 6 jam. Dari Sibolga menuju Gunung Sitoli menggunakan kapal fery cepat selama 3 jam, tarif paling mahal Rp.100.000,-. Sedangkan melalui jalur udara bisa menggunakan penerbangan perintis maskapai penerbangan SMAC yang beroperasi hanya hari Senin dan Jumat. Dari Padang transit sebentar ke pulau Telo dari sana langsung ke Binaka. Tarifnya penerbanganya hanya Rp.230.000,-.

Di Gunungsitoli terdapat Museum Pusaka Nias yang mengkoleksi benda-benda peninggalan budaya Nias. Jumlahnya koleksinya mencapai 6500-an dan itu berkat kerja keras Pastor Johannes M. Hammerle, yaitu warga negara Jerman yang sudah menetap di Nias selama 36 tahun. Pastor Johannes juga bertindak selaku direktur museum. Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan koleksinya dari desa-desa di pedalaman Nias sambil menjalan misinya sebagai penyebar agama. Koleksinya terdiri dari artefak alat-alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisonal, mata uang, pakaian perang, serta simbol-simbol kebangsawanan sampai rumah adat asli Nias yang disebut Omo Hada.

Museum Pusaka Nias ini adalah satu-satunya tempat hiburan yang ada di Gunungsitoli. Saat libur, pengunjungnya bisa mencapai 1500 orang. Tempat ini juga menyediakan fasilitas perpustakaan umum, ruang pertemuan, kantin, kebun binatang mini, sampai area rekreasi pantai.

Pengunjung bisa bersnorkling dengan nyaman dari pinggir dermaga yang ada di museum ini. Pantainya cukup unik karena tidak ada pasir yang melandai tapi langsung bebatuan karang. Dari pinggir dermaga langsung berhadapan dengan laut dalam. Begitu menceburkan diri ke laut kedalaman mencapai 2-3 meteran. Apabila hendak bersnorkling tidak perlu berenang jauh ke tengah laut, jarak 1 meter dari pinggir pantai airnya sudah dalam dan banyak kehidupan bawah air yang menarik.

Di museum ini juga tersedia penginapan murah meriah bagi para pelancong, tarifnya Rp40.000,- hingga Rp75.000,- per malamnya. Sayangnya kamar yang disediakan hanya 6 buah padahal suasana yang ditawarkan sangat menyenangkan, selain bersih dan asri juga terletak dipinggir pantai yang cantik.

Selain kamar, juga menyewakan beberapa paviliun berupa rumah adat Nias, Omo Hada disewakan seharga Rp150.000,- per hari lengkap dengan kamar mandi dan dapur. Untuk fasilitas dan kenyamanannya penginapan di museum ini patut disematkan sebagai akomodasi yang highly recommanded sangat direkomendasikan.

Daya tarik Nias ada pada tradisi megalitnya dan di Nias Selatan-lah yang masih banyak dijumpai peninggalan budaya megalit. Ibu kota Nias Selatan adalah Teluk Dalam, letaknya 120 km dari Gunungsitoli.

Untuk mencapai Teluk Dalam dari Gunungsitoli bisa menggunakan kendaraan umum berupa minibus dengan tariff Rp.40.000. Ada dua jalur yang dapat ditempuh yang pertama lewat jalur tengah yaitu melewati daerah Lahewa terus membelah pulau Nias sampai ke Teluk Dalam. Lewat jalur ini akan melewati pantai Mo'ale yang cantik yang terletak 45 km sebelum Teluk Dalam di wilayah kecamatan Amandraya. Selain airnya jernih dan pasirnya yang putih bersih pantai ini sepi tanpa pemukiman disekitarnya. Hanya sesekali perahu nelayan terlihat dikejauhan. Tempat yang ideal bagi yang tidak menyukai keramaian. Mereka yang melancong di daerah ini tidak perlu takut ketiadaan air bersih karena di pantai ini pula ada muara sungai kecil yang airnya jernih mengalir. Melihat pantai ini seakan kita berada dalam film “Cast Away” yang dibintangi Tom Hank atau film “Blue Lagoon” yang dibintangi artis cantik Brooke Shield.

12 kilometer sebelum sampai Teluk Dalam akan dijumpai dua pantai yang indah yaitu Pantai Lagundri dan Sorake. Jarak antara pantai Lagundri ke Sorake hanya 2 kilometer. Di Pantai Sorake inilah salah satu surganya para pemain peselancar dan sering diadakan kejuaraan selancar internasional.

Sorake termasuk the best ten tempat peselancar di dunia. Salah satu keunggulannya selain ombaknya yang tinggi bisa mencapai 4,5 meter juga panjang daya dorong ombaknya yang bisa mencapai 200 meter. Hal ini sudah dibuktikan dalam salah satu perlombaan bertaraf international di sana. Tapi sayangnya semenjak gempa permukaan laut pantai Nias meninggi sampai satu meter sehingga pantai pun menjadi menjorok ke laut. Kini karang-karang mencuat bertonjolan keluar di bibir pantai Sorake.

Di pinggir Pantai Sorake berjajar losmen dan penginapan yang nyaman dan murah. Ada kurang lebih 60 losmen yang bertarif hanya Rp50.000,- per malam. Fasilitasnya berupa kasur dan bantal, kamar mandi di dalam, air bersih, listrik, kipas angin, dan kelambu. Menurut salah seorang pegelola losmen sebelumnya malah lebih murah lagi karena persaingan tidak sehat para pemilik losmen membanting harga serendah-rendahnya untuk mencari keuntungan mereka menaikan harga makanan. Oleh karena itu, jangan kaget sampai sekarang pun harga makanan di Sorake masih mahal. Untuk sepiring nasi goreng harganya bisa mencapai Rp25.000,-, padahal dari segi rasa dan porsinya sama saja seperti nasi goreng gerobak yang banyak mangkal di Jalan Sabang, Jakarta.

Kalau ingin mengunjungi desa-desa adat di sekitar Teluk Dalam, losmen-losmen di Sorake ini patut dipertimbangankan untuk menjadi basecamp-nya. Selain karena dekat dengan beberapa desa adat juga karena bisa menangkap sinyal telpon genggam yang bagi beberapa pelancong merupakan hal yang vital.

Jalur kedua untuk mencapai Teluk Dalam dari Gunungsitoli adalah lewat jalur yang menyusuri pantai. Jalur ini melewati kota-kota kecamatan Gido, Bawolato, Idanogawo dan Lahusa. Kalau lewat jalur ini bersiaplah untuk menjumpai pasar tradisional atau pekan yang hanya buka hanya satu hari saja dalam tiap pekannya. Perjalanan mobil akan terhambat jika melewati ruas jalan yang tengah diadakan pekan karena punduduk desa sekitar tumpah ruah ke jalan.

Perjalanan lewat jalur ini menyusuri pantai dan lebih cepat tiba di teluk Dalam. Pemandangannya tak membuat jenuh tapi sayangnya ketika mencapai Pantai Rockstar dekat Simpang Auge banyak terjadi kerusakan pantai dikarenakan adanya penambangan pasir laut oleh penduduk sekitar. Pasir-pasir ini memang dibutuhkan untuk proyek-proyek pembangunan Nias pasca gempa. Sangat ironis dan dilematis, di satu sisi penggalian pasir itu ikut membuat hancur lingkungan di sisi lain di samping menyediakan tenaga kerja juga memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan.

Kualitas jalan jalur ini sekarang sudah meningkat setelah BRR memperbaikinya. Dahulu sebelum gempa kualitas jalan tidak sebaik sekarang, ada omongan orang Nias yang mengatakan gempa ini membawa banyak perbaikan fisik dan infrasturktur di Nias. Setelah gempa banyak agenda pembangunan sehingga roda perekonomian bergulir berbeda sewaktu belum terjadi gempa. Gempa bagaikan berkah yang terselubung bencana.

Setelah sampai di pertigaan Lahusa kalau tidak ingin langsung ke Teluk Dalam bisa ambil jalan belok ke kanan memasuki wilayah kecamatan Gomo. Di Gomo inilah masih banyak dijumpai artefak-artefak batu-batu era zaman megalit.

Di wilayah ini leluhur orang Nias mendirikan pemukiman pertamanya. Walaupun di daerah perbukitan namun banyak area yang membentuk lembah dan datar sehingga memudahkan untuk bermukim dan bercocok tanam. Di sini air bersih melimpah ruah, beberapa sungai mengaliri daerah lembah ini.

Arca-arca batu berusia ratusan tahun bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk. Di Gomo setidaknya ditemukan 14 titik yang merupakan situs batu megalit. Tapi yang sudah dibuka untuk umum baru empat situs, semua yang telah dipugar pemerintah. Semua situs itu terletak di ladang dan hutan penduduk setempat di daerah Idanotai, Lahusa Satua dan Tundu Baho. Untuk menuju ke sana hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua. Itu pun harus menyeberangi arus sungai dan jalan setapak di pegunungan yang kemiringan konturnya mencapai 45 derajat, sangat melelahkan memang.

Napak Tilas ke desa-desa adat

Di Nias Selatan masih banyak terdapat desa-desa adat. Yang menonjol dari desa-desa adat ini adalah penataan arsitekurnya, baik lanskap maupun bangunannya. Dulunya setiap desa di pimpin oleh seorang raja.

Desa-desa tersebut terletak di daerah yang sulit di jangkau seperti di perbukitan terjal atau lembah-lembah yang ada di baliknya. Tujuannya adalah untuk membentengi diri dari serangan desa lain. Pada masa lalu perang antardesa kerap kali terjadi. Peyerbuan sebuah desa oleh desa yang lainnya kerap terjadi. Biasanya disertai dengan penculikan penduduk yang nantinya akan dijadikan budak. Struktur masyarakat Nias masa lalu terdiri dari kelas raja, cendikia dan bangsawan, rakyat biasa, dan budak.

Pola pemukiman pun terbentuk dari struktur masyarakat ini. Rumah tinggal raja yang disebut Omo Sebua yang artinya rumah besar terletak di poros pola jalan yang berbentuk tegak lurus, tepat di tusuk satenya. Rumah raja, Omo Sebua, diapit oleh rumah-rumah adat yang lebih kecil lainnya yang disebut juga Omo Hada. Rumah-rumah adat atau Omo Hada ini kuat menahan gempa, pada gempa dua tahun lalu banyak menyelamatkan nyawa manusia. Dari 850 lebih korban jiwa hanya satu korban yang tinggal dalam rumah adat, tepatnya di desa Hilimondregeraya, Teluk Dalam. Sebagian besar yang tewas adalah yang tinggal di rumah berkontruksi modern.

Dari kebiasaan berperang antardesa ini kemudian timbul kesenian Tari Perang dan lompat batu, Fahombe. Acara lompat batu ini dahulu dikhususkan untuk persiapan perang. Karena biasanya setiap desa membentengi dirinya dengan pagar bambu setinggi dua meteran maka para pria desa dilatih untuk bisa melompati pagar itu dengan cara melompati batu Acara lompat batu ini juga sebagai sarana uji keberanian dan kedewasaan seorang anak laki-laki.

Sedikitnya ada 14 desa adat yang bisa dikunjungi yaitu desa Bawodobara, Bawagosali, Bawomataluo, Hiliamaetaliha, Hilifalago, Hilimondregeraya, Hiliganowo, Hilinamauzau'a, Hilinawalo Fau, Hilinawalo Mazino, Hilinamaetano, Hilizalo'otano, Lagundri, Lahusa Fau, Onohondro, dan Orahili. Keempat belas desa adat inilah masih banyak memiliki rumah adat tetapi tidak semua desa memiliki Omo Sebua, rumah besar atau rumah raja. Tercatat hanya empat desa yang masih memiliki Omo sebua, yaitu desa Hilinawalo Fau, Ono Hondro, Bawomataluo dan Hilinawalo Mazino.

Bagi yang senang berpetualang dan jalan-jalan di pedesaan atau hutan untuk mengunjungi empat desa yang masih memliki Omo Sebua ini bisa mengikuti rute yang memakan waktu tempuh 2 hari perjalanan. Sambil melewati empat desa ini juga rute akan melewati desa-desa lainnya. Rute terbaik desa pertama yang disinggahi adalah Desa Hilinawalo Mazino yang bisa dicapai dari Simpang Auge terus menaiki wilayah perbukitan melewati Desa Bawolahusa dan Desa Hilizalo'otano. Waktu tempuhnya sekitar 2-3 jam jalan kaki. Apabila naik kendaraan roda empat hanya bisa sampai Desa Hilizalo'otano selebihnya berjalan kaki.

Sebelum mencapai desa Hilawalo Mazino kita akan melewati area persawahan yang cantik dan berbasah-basah menyeberangi beberapa anak sungai. Sampai di desa ini berkunjunglah ke Omo Sebua dan bertemu dengan ketua adat yang merupakan keturunan raja, namanya Ama Seniwati Bulolo. Orangnya ramah dan menyenangkan, dengan sukarela ia akan mengantarkan kita berkeliling desa melihat kehidupan desa itu. Kita bisa menginap di Omo Sebua ini. Untuk keperluan mandi bisa bergabung dengan penduduk desa di sungai yang berair jernih di belakang desa.

Kalau hendak melanjutkan perjalanan bisa berjalan kaki ke desa Hilinawalo Fau. Karena untuk ke desa ini melewati hutan ada baiknya didampingi penduduk setempat sebagai petunjuk jalan. Lamanya perjalanan sekitar 2-3 jam. Sampai di desa ini juga bisa meminta izin menginap di rumah penduduk. Esok paginya bisa dilanjutkan perjalanan ke Desa Ono Hondro sekitar 1 jam perjalanan. Sayangnya Omo Sebua di desa ini tak terawat dan nyaris rusak berat karena ditingal pemiliknya. Dari desa ini berjalan kaki lagi sekitar 1 jam ke Desa Bawomataluo melewati Desa Siwalawa.

Desa Siwalawa pernah mengalami kebakaran hebat sehingga banyak rumah adatnya musnah, hanya ada beberapa saja rumah adat yang tersisa. Api memang menjadi musuh utama bagi rumah adat Nias. Banyak rumah adat yang musnah karena terbakar. Api juga dulunya dipakai sebagai senjata ampuh oleh desa yang berperang. Karena rumah adat terbuat dari kayu maka dengan cepat api akan merambat dan memusnahkan seluruh isi desa. Kalau kita menginap di desa adat setiap beberapa saat akan terdengar teriakan yang mengingatkan agar menjaga api yang ada di dalam rumah. Teriakan ini berasal penduduk desa yang ronda menjaga kampung siang-malam.

Setelah melewati Desa Siwalawa maka sampailah di Desa Bawomataluo. Inilah desa adat yang paling fenomenal di Nias selatan. Di desa ini terdapat Omo Sebua yang paling megah di Nias. Di desa ini terdapat 230 rumah adat atau Omo Hada, atau yang terbanyak dari desa adat manapun di Nias Selatan. Di desa ini pemukimannya paling padat. Akses untuk memasuki desa ini bisa melalui pintu belakangnya atau lewat gerbang desa. Karena desa ini terletak di atas puncak bukit untuk mencapai gerbangnya harus menaiki 88 anak tangga dengan sudut 45 derajat. Dari gerbang desa ini kita bisa melihat samudera Hindia dan jika hari menjelang sore matahari senja terlihat tenggelam di samudera itu. Itulah mengapa desa ini di namakan Bawomataluo yang artinya Bukit Matahari.

Di desa ini seperti juga di desa lainnya biasa dipertunjukan tarian perang dan atraksi lompat batu yang dalam bahasa Nias disebut Fahombe. Tarian ini berakar pada tradisi perang antar desa yang melambangkan kepahlawanan penduduk desa yang menjaga desanya.

Dari gerbang desa Bawomataluo sekitar 1 kilometer di bawahnya akan terlihat Desa Orahili Fau. Jika masih kuat berjalan bisa berkunjung dengan waktu tempuh setengah jam.

Selain keempat desa yang memiliki Omo Sebua itu juga ada desa lain yang tak kalah menariknya untuk wisata budaya namun sayangnya rutenya berlawanan. Jika sempat bermalam di Pantai Sorake ada empat desa lain di sekitarnya yang bisa dikunjungi dalam satu kali perjalanan yaitu desa Hilisimaetano, Bawogosali, Botohilitano dan Hiliamataniha.

Banyak pengrajin ukiran kayu, batu, dan anyaman tikar di desa-desa adat itu dan semuanya diperdagangkan. Kalau berniat membeli oleh-oleh yang paling tepat adalah hasil kerajinan itu. Tak ada oleh-oleh berbentuk makanan karena budaya kuliner Nias belum berkembang seperti daerah lain di pulau Sumatera. Pilihan makanan di Nias terbatas. Kecuali kalau musim buah durian tiba, banyak orang memproduksi dodol durian untuk oleh-oleh. Harga buah durian pun menjadi murah bisa mencapai seribu rupiah sebutir.

Berkunjung ke Nias Selatan serasa menelusuri kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti. Di tengah samudera Hindia yang luas ada jejak budaya megalit yang masih hidup sampai saat ini. (Feri-Indobackpacker)

Tag :

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR