18 May 2009
Oleh: Yulia Putri Wasista, Perum Pemda Jatiasih Blok B Jl. Bima II No.30 Bekasi
Sebegitu teguhnya keinginan untuk mulai menjelajahi lautan Indonesia, akhirnya saya memulainya dari yang terdekat Jakarta, yaitu Pulau Seribu. Awalnya wajah masih ceria, saat rombongan digiring ke salah satu kapal pribadi yang disewa di pantai mutiara. Dengan penuh kenyamanan kami berangkat ke lokasi pertama, Pulau Pramuka. Usai diterangkan panjang lebar konsep kelautan dan teori penangkaran penyu sisik (eretmochelys imbricata), kami berangkat lagi ke tujuan berikutnya. Nah, kali ini petualangan dimulai. Dengan kapal motor yang oleh orang sekamir dikenal sebagai kapal ojek, kami ber-60 diantar ke pulau mungil tak berpenghuni. Pulau ini bernama Pulau Pamegaran (3 jam dari jakarta) dan termasuk dalam jajaran pulau di zona inti yang dilindungi. Dan lantaran tidak ada apa-apa selain tenda dan semak, kami pun harus terbiasa untuk mengirit air mineral yg kami bawa dan siap menggali pasir untuk dipergunakan sebagai jamban. Di pulau ini kami menikmati keindahan yang tiada tara. Sore hari kami bebas menikmati sunset sambil berenang atau berkano di atas beningnya air. Malamnya kami menikmati api unggun dan sempat tidur-tiduran di atas pasir sambil menyaksikan jutaan bintang yang menari-nari, sampai akhirnya awan menyempitkan pandangan dan turun hujan. Disertai kilat menyambar yang berkelap kelip di luar tenda dan air yang mulai menggenangi bibir pantai tak seberapa jauh dari tenda, kamipun tertidur dengan cemas (khawatir hanyut). Esok paginya, dari sisi pulau yang berbeda kami menyaksikan sunrise sambil menikmati terpaan angin laut dan rambut yang berkibas-kibas gimbal karena tidak berbilas usai berenang dihari sebelumnya. Hanya satu malam kami menginap, dan sudah saatnya kami harus kembali ke jakarta. Kali ini dengan kapal ojek juga, kami menikmati pasang di laut dengan penuh guncangan dan doa. Dan Alhamdulillah, kami mendarat dengan selamat, namun kali ini bukan di pantai mutiara namun di tempat yang belum pernah saya datangi yaitu muara angke. Suasana yang sangat kental dengan nuansa kelautan (bau ikan dimana-mana), membuat kami cepat berbaur karena bau kami sama (air tawar yang terbatas membuat kami tidak bisa mandi). Tapi kekhawatiran berikutnya terjadi juga, setelah kami menyadari "nuansa kelautan" itu terbawa sampai ke dalam taxi yang kami tumpangi. Full story: http://jalanbareng.sistasista.net/2006/10/18/pulau-seribu-dki-jakarta/